Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Pelajar SMAN 7 Binjai Mogok Belajar, Desak Kepala Sekolah Keluar dari Ruangan

Redaksi Sumutpos.co • Selasa, 5 November 2024 | 18:24 WIB
MOGOK: Pelajar SMAN 7 Binjai aksi mogok belajar di sekolah.(Istimewa/Sumut Pos)
MOGOK: Pelajar SMAN 7 Binjai aksi mogok belajar di sekolah.(Istimewa/Sumut Pos)

BINJAI, SUMUTPOS.CO - Peristiwa menghebohkan terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Binjai, Jalan Sawi, Kelurahan Payaroba, Binjai Barat, Selasa (5/11/2024). Bahkan, peristiwa tersebut sampai mengundang aparat kepolisian setempat hadir di sekolah.

Peristiwa dimaksud yakni, puluhan hingga seratusan murid mogok belajar dan menyampaikan aspirasinya di sekolah. Aksi damai ini diketahui usai video pelajar menggelar aksi, berseliweran viral di media sosial.

Dalam video, terdengar teriakan pelajar kepada massa untuk menyuruh seseorang keluar dari kantor. Teriakan tersebut menggema dari mulut pelajar saat berada di depan sebuah ruangan.

Diduga ruangan tersebut adalah ruang kerja Kepala SMAN 7 Binjai, Khaidir. "Mana suara kita! Keluarkan dia dari kantornya," ujar salah seorang pelajar yang disambut teriakan lainnya.

Tak begitu jelas, siapa orang yang dimaksud untuk keluar dari dalam kantor atau salah satu ruangan. Informasi diperoleh wartawan, aksi demontrasi yang dilakukan pelajar karena mereka menilai jajaran pada SMAN 7 Binjai tidak perhatian kepada sekolah.

Fasilitas sekolah disebut-sebut tak menunjukkan kemajuan dari tahun ke tahun. Tidak hanya itu, terjadi kenaikan uang SPP pada kelas X dan XI secara tiba-tiba tanpa ada penjelasan dari pihak sekolah.

"Angkatan 2022 SPP-nya Rp30 ribu. Untuk yang tahun pelajaran 2023 dan 2024 naik menjadi Rp50 ribu," ujar salah seorang pelajar.

Bahkan, perangkat sekolah selalu melakukan pengutipan dengan modus sumbangan seikhlasnya ketika acara besar. Dalihnya untuk membuat kegiatan.

Acara besar dimaksud seperti pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, Maulid Nabi Muhammad SAW dan lainnya. "Yang kita tau uang SPP adalah salah satu uang sumbangan, di mana uang itu bisa digunakan untuk acara-acara tersebut," ujarnya.

"Kemudian uang bantuan yang sampai saat ini belum cair, untuk teman-teman kami yang membutuhkan," sambungnya.

Terakhir para murid mengatakan terkait fasilitas sekolah yang sudah rusak. Hingga detik ini belum ada perbaikan.

"Lapangan futsal rusak enggak diperbaiki. Terus bangku dan meja belajar yang rusak juga tidak diperbaiki," bebernya.

Terpisah, Kepala SMAN 7 Binjai, Khaidir saat dikonfirmasi, tidak memberikan jawaban. Persoalan yang menyangkut SMAN 7 Binjai, bukan kali ini saja terjadi.

Khaidir pernah menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat karena diduga memiliki Nomor Induk Pegawai atau NIP ganda. Terungkapnya dugaan NIP ganda dari ijazah pelajar yang lulus tahun 2014-2017 terdapat perbedaan dengan lulusan 2019.

Pada tahun 2017, NIP Khaidir: 19610713 199001 1 001. Namun pada 2019, NIP milik Khaidir berubah jadi 19670713 199001 1 001.

Arti dari NIP 19610713 adalah, Khaidir lahir tahun 1961 bulan Juli tanggal 13. Sementara arti dari NIP pada nomor 199001 merupakan status sebagai CPNS tahun 1990 pada Januari.

Muncul dugaan, perubahan NIP dilakukan Khaidir karena tak ingin pensiun. Disebut-sebut Khaidir menjabat sebagai pucuk pimpinan di SMAN 7 Binjai sudah cukup lama.

Bahkan informasi diperoleh menyebut, Khaidir sejatinya sudah pensiun atau purnabakti pada tahun lalu. Namun nyatanya, Khaidir belum masih menjabat hingga kini. (ted/han)

Editor : Redaksi
#SMAN 7 Binjai