Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

USU Kukuhkan Enam Guru Besar Baru, Dorong Kolaborasi dan Inovasi Akademik

Redaksi Sumutpos.co • Senin, 17 Februari 2025 | 22:12 WIB
DIKUKUHKAN: Universitas Sumatera Utara saat mengukuhkan enam guru besar tetap di Gelanggang Mahasiswa USU, Senin (17/2). (Dokumen Humas USU)
DIKUKUHKAN: Universitas Sumatera Utara saat mengukuhkan enam guru besar tetap di Gelanggang Mahasiswa USU, Senin (17/2). (Dokumen Humas USU)

MEDAN, SUMUTPOS.CO - Universitas Sumatera Utara (USU) kembali mengukuhkan enam guru besar tetap dalam satu upacara akademik. Acara ini menjadi momen penting bagi dunia pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan USU, sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusi para akademisi. Berlangsung di Gelanggang Mahasiswa USU, Senin (17/2).

Pada kesempatan ini, enam akademisi dari berbagai fakultas resmi menyandang gelar guru besar, yakni Prof Mahriyuni dan Prof Dwi Widayati dari Fakultas Ilmu Budaya; Prof Bintang Yinke Magdalena Sinaga, Prof Juliandi Harahap, dan Prof Kamal Basri Siregar dari Fakultas Kedokteran; serta Prof Open Darnius Sembiring dari Fakultas Vokasi.

Rektor USU, Prof Muryanto Amin menegaskan, pengukuhan ini merupakan bagian dari perjalanan panjang USU dalam membangun ekosistem akademik yang lebih kuat. Dia menuturkan, sejak 2024, USU telah mengukuhkan 52 guru besar, dengan tambahan 18 guru besar baru sejak Januari hingga Februari 2025.

"Tantangan terbesar bagi seorang akademisi bukan hanya mencapai posisi ini, tapi juga menjaga konsistensi dalam pengajaran, penelitian, serta penyebarluasan ilmu pengetahuan untuk kemajuan peradaban," ungkap Muryanto.

Selain itu, Muryanto juga menekankan, peran guru besar tidak hanya terbatas dalam ruang perkuliahan, tapi juga dalam memberikan wawasan yang lebih luas bagi masyarakat. Ilmu pengetahuan harus terus berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman, sehingga para akademisi harus terus berkolaborasi dan membuka diri terhadap pengalaman di luar kampus, baik dalam dunia pemerintahan maupun industri.

“Menjadi seorang guru besar bukanlah pencapaian individu semata, melainkan hasil dari kolaborasi yang erat dengan banyak pihak,” jelasnya.

Seorang guru besar yang dikukuhkan, Prof Mahriyuni menyatakan, pengukuhan ini menjadi motivasi bagi dirinya dan akademisi lainnya, untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu. Dia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat global terhadap kredibilitas bangsa Indonesia melalui riset dan publikasi ilmiah.

"Harapan saya, kita semua terus bersemangat dalam berkarya dan menulis artikel ilmiah, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Dengan begitu, kita dapat menunjukkan keunggulan akademik Indonesia di mata dunia," harap Mahriyuni.

Sementara itu, Prof Dwi Widayati, menyoroti pentingnya penelitian dalam bidang linguistik, untuk mengatasi kepunahan bahasa. Dia menjelaskan, konferensi-konferensi internasional menjadi sarana penting untuk memahami dan menjaga keberagaman bahasa di Indonesia.

"Harapan saya, kajian ini dapat membantu mempertahankan kekayaan bahasa Indonesia dan daerah agar tetap hidup," harap Dwi.

Pengukuhan ini bukan hanya seremoni, tapi juga menjadi simbol tanggung jawab besar bagi para akademisi untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan dan penelitian. Dengan bertambahnya jumlah guru besar, USU semakin memperkuat posisinya sebagai universitas yang unggul dan berdaya saing tinggi, tak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. (rel/saz)

Editor : Redaksi