MEDAN, SUMUTPOS.CO-Institut Kesehatan Helvetia menggelar kegiatan wisuda periode ll tahun akademik 2023-2024 yang diikuti 297 lulusan di Gedung Selecta Medan pada 25 Februari 2025.
Wisuda dihadiri ketua dan anggota senat Institut Kesehatan Helvetia, Pembina Yayasan Helvetia
Dr dr Razia Begum Suroyo MKes, Kepala LLDikti Wilayah I Prof Saiful Anwar Matondang MA PhD,
Ketua ABP-PTSI Sumut sekaligus Ketua BPH Institut Kesehatan Helvetia Prof Dr H Bahdin Nur Tanjung MM, ketua program studi, dosen dan karyawan serta keluarga wisudawan.
Rektor Institut Kesehatan Helvetia Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi mengungkapkan kebahagiaannya menyaksikan para wisudawan yang siap mengabdikan diri untuk memajukan dunia kesehatan di Indonesia.
”Ini adalah tonggak keberhasilan yang luar biasa bagi Anda semua. Yang telah menempuh perjalanan panjang dalam pendidikan kesehatan.
Sebagai lulusan dari institusi yang memiliki komitmen tinggi dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, Saudara semua telah dipersiapkan untuk menghadapi tantangan besar di dunia kesehatan,” tegas rektor.
Tidak hanya dalam aspek pengetahuan medis, tetapi juga dalam aspek kemanusiaan yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Menurut laporan dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2025, dunia akan menghadapi beberapa isu kesehatan yang sangat penting. Diantaranya adalah meningkatnya prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM). Seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker.
Menurut Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi, PTM menjadi penyebab utama kematian di banyak negara, termasuk Indonesia. Diperkirakan, jumlah penderita diabetes di Indonesia akan terus meningkat, dengan proyeksi lebih dari 15 juta orang pada tahun 2025. Selain itu, penyakit jantung dan stroke juga diprediksi akan terus menambah angka kematian.
Namun, lanjut rektor, tidak hanya penyakit fisik yang menjadi tantangan. Kesehatan mental juga semakin mendapat perhatian besar. ”WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2025, depresi akan menjadi salah satu penyakit yang paling banyak mempengaruhi masyarakat, bahkan diperkirakan dapat menjadi penyebab utama kecacatan di dunia," terangnya.
Ditengah tantangan ini, kata rektor, peran tenaga kesehatan menjadi semakin vital. Keterampilan teknis dan pengetahuan medis yang kita miliki harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang pentingnya pendekatan humanis dalam setiap pelayanan kesehatan yang kita berikan.
”Secanggih apapun teknologi secara humanis manusia/pasien membutuhkan dukungan emosional dan komunikasi yang penuh empati. Inilah humanistic tidak bisa terlepas dalam pelayanan kesehatan, Artinya, teknologi tidak dapat menggantikan humanisasi, terutama dalam konteks pelayanan kesehatan yang memerlukan sentuhan pribadi dan perhatian terhadap kondisi emosional serta psikologis pasien,” rincinya.
Pelayanan kesehatan yang humanis berarti memberikan perhatian kepada pasien secara utuh, memperlakukan mereka dengan rasa hormat, empati dan komunikasi yang baik.
”Dalam setiap tindakan medis, kita harus selalu ingat bahwa setiap pasien memiliki hak untuk diperlakukan dengan martabat yang tinggi. Hal ini bukan hanya berhubungan dengan kepuasan pasien, tetapi juga dengan hasil pengobatan yang lebih baik,”katanya.
Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa pasien yang merasa didengar dan dipahami cenderung lebih patuh terhadap pengobatan dan memiliki tingkat pemulihan yang lebih cepat. ”Komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien juga berperan besar dalam mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepuasan pelayanan,” sebut rektor kepada Sumut Pos di Medan, kemarin.
Dimasa depan, tegas Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi, tenaga kesehatan tidak hanya terampil dalam bidang medis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim multidisipliner, memanfaatkan teknologi digital dan melakukan inovasi dalam upaya pencegahan.
Rektor menambahkan bahwa Institut Kesehatan Helvetia berkomitmen untuk menjadi institusi pendidikan tinggi kesehatan berbasis riset sains dan teknologi yang unggul pada tahun 2035. Ini sejalan dengan tren saat ini dalam pendidikan dan kesehatan seperti penggunaan teknologi dalam pendidikan, kesehatan mental siswa, pendidikan inklusif dan penelitian kesehatan masyarakat.
Yayasan Helvetia sebagai penyelenggara Institut Kesehatan Helvetia juga berkomitmen dalam memfasilitasi lima rumah sakit besar di Kota Medan dan sedang dipersiapkan pembangunan rumah sakit gigi dan mulut.
Hal ini agar mahasiswa dapat berlatih, menggali pengalaman praktik dilapangan yang tentunya menjadi ajang mahasiswa untuk berkolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya, terampil dan berpikir kritis sehingga lulusan Institut Kesehatan Helvetia siap untuk bekerja di masyarakat.
”Kami sangat berharap dukungan, semoga usaha pengembangan Institut Kesehatan Helvetia ini dapat berjalan dengan lancar dan segera terlaksana.
Selamat menjalankan tugas mulia sebagai tenaga kesehatan yang penuh empati dan profesionalisme,” kata rektor. (dmp)