Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Dari Sanggar Kecil ke Sekolah Inklusif: Rumah Ceria Medan, Cahaya Harapan bagi Anak Disabilitas

Johan Panjaitan • Jumat, 31 Oktober 2025 | 11:25 WIB
Yayasan Rumah Ceria, ruang belajar inklusif bagi anak-anak disabilitas. (ISTIMEWA/SUMUT POS)
Yayasan Rumah Ceria, ruang belajar inklusif bagi anak-anak disabilitas. (ISTIMEWA/SUMUT POS)

MEDAN, Sumutpos.jawapos.com-Di tengah hiruk-pikuk Kota Medan, berdiri sebuah tempat yang sederhana namun penuh makna: Yayasan Rumah Ceria Medan (YRCM). Didirikan oleh Yuli Yanika, atau akrab disapa Uye, yayasan ini menjadi rumah kedua bagi anak-anak disabilitas—sebuah ruang di mana mereka belajar, tumbuh, dan diterima apa adanya.

Kisah Uye bermula dari empatinya yang tumbuh sejak kecil. Bergaul dengan anak-anak berkebutuhan khusus membuatnya memahami bahwa mereka tidak butuh dikasihani, melainkan diberi kesempatan.

Saat menjadi pengajar di sebuah sekolah alam pada tahun 2013, ia menyadari adanya jarak sosial dan komunikasi antara anak disabilitas dan anak non-disabilitas. Dari situlah tekadnya tumbuh: menciptakan ruang belajar yang inklusif dan setara bagi semua anak.

Langkah pertamanya dimulai dengan mendirikan sanggar kreativitas bersama teman-teman komunitas difabel. Di sana, anak-anak disabilitas diajak menyalurkan bakat lewat kelas tari, fotografi, dan berbagai kegiatan yang menumbuhkan kepercayaan diri. Sanggar ini menjadi tempat yang hangat, penuh tawa dan semangat, meski dijalankan dengan keterbatasan.

Namun, perjalanan itu menemui titik balik pada tahun 2018. Sebuah kasus kekerasan terhadap anak disabilitas intelektual mengguncang hati Uye. Dari pengalaman pahit itu, lahir tekad baru untuk menghadirkan ruang yang lebih aman dan menyeluruh.

Maka, pada tahun 2019, berdirilah Yayasan Rumah Ceria Medan — bukan sekadar sanggar, melainkan sekolah inklusif yang membuka pintu bagi anak disabilitas dan non-disabilitas untuk belajar bersama dalam kesetaraan.

Di YRCM, pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga karakter, empati, dan kemandirian. “Pendidikan sejati adalah ketika setiap anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri,” ujar Uye dengan penuh keyakinan.

Selain sekolah, YRCM menjalankan berbagai program pemberdayaan disabilitas: mulai dari pendidikan berbasis inklusi, pendampingan keluarga disabilitas, program tuli mengaji, hingga kemah inklusif yang melatih anak-anak hidup mandiri di alam terbuka.

Salah satu langkah visioner YRCM adalah memperkenalkan program Artificial Intelligence (AI) bagi remaja disabilitas—membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mengikuti perkembangan zaman.

Tak hanya fokus pada pendidikan, YRCM juga bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Pengadilan Tinggi Medan, memberi akses perlindungan hukum bagi anak-anak disabilitas dan keluarganya. Kolaborasi ini memperkuat peran YRCM sebagai pelindung dan penggerak ekosistem inklusi yang berkelanjutan.

Kini, YRCM memiliki tujuh pengajar dan seorang psikolog yang mendampingi siswa setiap hari. Salah satu hal paling unik dari sekolah ini adalah penerapan bahasa isyarat sebagai bahasa utama. Semua murid—baik disabilitas maupun non-disabilitas—wajib berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

“Bahasa bukan penghalang, tapi jembatan,” tutur Uye. Di sinilah, setiap anak belajar memahami satu sama lain dengan hati, bukan sekadar kata.

Suasana belajar di Rumah Ceria terasa hangat dan penuh kehidupan. Di antara gerak tangan, tawa, dan semangat belajar, tumbuh rasa empati yang tulus. Sekolah ini menjadi simbol harapan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk bersatu.

Kini, Rumah Ceria Medan dikenal luas sebagai ikon inklusivitas di Kota Medan. Dari ruang kecil yang dulu hanya berisi impian, kini tumbuh lembaga yang menyalakan cahaya bagi masa depan anak-anak disabilitas.

Dengan mata berbinar, Uye menutup percakapan dengan pesan sederhana namun menggugah:

“Saya ingin anak-anak disabilitas bisa hidup berdampingan di tengah masyarakat tanpa dibedakan. Mereka mampu hidup mandiri, asal ada orang-orang yang mau percaya pada mereka.”

Rumah Ceria Medan bukan sekadar sekolah—ia adalah rumah tempat anak disabilitas belajar tentang dunia, dan tempat dunia belajar tentang kemanusiaan.(Grace Estephania)

Editor : Johan Panjaitan
#kota medan #anak disabilitas #inklusif #pemberdayaan