MEDAN-Gemuruh di Lapangan Stadion Mini Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (8/11) malam, bukan datang dari suara guntur yang menyertai hujan, melainkan sorakan dan teriakan semangat dari para penonton yang menyaksikan performa Slank sebagai penutup megahnya Festival Kebangsaan “GEMA KAMPUS” di Kota Medan.
Ribuan mahasiswa dan generasi muda tumpah ruah dalam festival yang bukan sekadar hiburan, tapi juga kampanye kebangsaan yang penuh makna.
Gelaran yang dihelat pada 7–8 November 2025 ini, merupakan hasil kolaborasi antara USU, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), serta Universitas Prima Indonesia (Unpri), dan didukung Gerakan Kebangsaan "Akar Indonesia". Giat ini menghadirkan ruang kolaboratif antara akademisi, seniman, peneliti, dan musisi untuk merayakan keberagaman dan memperkuat semangat persatuan.
Dalam sesi wawancara sebelum tampil, Slank ditanya lagu mana yang paling merepresentasikan semangat kebangsaan.
“Wih… Kami bawain 17 lagu, dan semuanya seperti itu (merepresentasikan semangat kebangsaan). Beberapa lagu sudah kami bikin sejak 90-an, tapi sampai hari ini problem yang bisa mendisintegrasikan bangsa masih ada. Jadi sambil nyanyi, Kaka sambil campaign ya,” ungkap Bimbim.
Bimbim menegaskan, lagu-lagu mereka bukan sekadar semangat, tapi cerminan realitas sosial dan kebangsaan Indonesia yang terus berulang.
Saat ditanya tantangan terbesar dalam menyuarakan isu kebangsaan lewat musik, Bimbim menyoroti kondisi generasi muda saat ini.
“Gen Z itu wawasannya luas, sumber informasinya banyak. Tapi kadang di Indonesia, berpendapat suka disalahkan. Itu berbahaya, karena bikin dialog soal kebangsaan jadi cuma basa basi,” jelas Bimbim.
Disergah jika Slank diundang menjadi dosen tamu di kampus, Bimbim sampaikan pesan sederhana namun tegas.
“Kita bebas berekspresi sesuai hati kita. Tapi roots kita gak boleh hilang.” bebernya.
Sementara Kaka, menyampaikan pandangannya dengan yakin.
"Kalau menurut gue, musik, lagu, dan lirik itu alat paling cepat mengubah pola pikir manusia.” tuturnya.
Sebelumnya, musisi dan kreator visual nasional Alffy Rev, tampil bukan hanya sebagai performer, tapi juga sebagai pemantik gagasan kebangsaan di kalangan generasi muda.
Alffy menuturkan, musik telah menjadi media utama baginya untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dan membangun kesadaran kolektif.
“Musik adalah sarana untuk saya menyampaikan banyak hal, untuk mempengaruhi masyarakat. Sampai hari ini, karya seperti Wonderland Indonesia menjadi titik balik, musik adalah senjata saya untuk menyentuh generasi muda agar Indonesia menjadi lebih baik,” ujarnya.
Dia juga berbagi kisah tentang perjalanan pendidikannya di Sekolah Tinggi Multimedia. Meski sempat mengambil cuti demi mengejar karir musik, Alffy menegaskan, pendidikan tetap jadi fondasi penting dalam proses kreatifnya.
“Saya enggak berhenti, cuma cuti. Pendidikan formal dan informal itu saling melengkapi. Di kampus saya belajar disiplin dan kerja sama, sementara pendidikan informal melatih saya lebih tahan banting menghadapi realitas lapangan,” katanya.
Karya pertamanya lahir dari akumulasi perjalanan sejak 2012, saat Alffy masih kuliah. Setiap tahun, terutama di momen 17 Agustus, dia mencoba membawakan lagu-lagu nasional dengan nuansa baru. Dari kampung halaman hingga panggung Jogja, proses itu dia sebut sebagai “metamorfosis” yang tidak instan.
Alffy juga menyoroti pentingnya disiplin dan keberanian menghadapi kegagalan. Menuurtnya, kegagalan adalah bagian dari proses menuju level berikutnya.
“Jangan pernah berpikir kita enggak bakal gagal. Justru kalau enggak pernah gagal, itu enggak realistis. Yang bikin gagal jadi permanen adalah kalau kita nyerah,” tegasnya.
Dia pun berharap, generasi muda, khususnya Gen Z, bisa lebih peduli terhadap aset-aset budaya dan identitas bangsa, di tengah era yang menurut Alffy sedang mengalami degradasi nilai.
Dia juga berpendapat, jika diberi kesempatan berkolaborasi dengan mahasiswa, Alffy ingin menciptakan karya yang mengangkat budaya lokal Medan secara autentik.
“Saya ingin diskusi langsung dengan teman-teman Medan asli. Riset itu enggak bisa cuma dari internet. Kita harus turun langsung, dan dari situ bisa lahir karya yang benar-benar layak,” jelasnya.
Di awal acara, Rektor USU Prof Muryanto Amin menyampaikan sambutan pembuka pada malam puncak Festival Kebangsaan “GEMA KAMPUS”. Acara ini pun dihadiri oleh unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kota Medan, Kejaksaan Tinggi, Kodam I/BB, serta ribuan peserta dari berbagai kampus dan komunitas.
Muryanto mengawali sambutannya dengan rasa syukur dan keberkahan malam itu, seraya mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momen ini sebagai titik balik persatuan.
“Tidak boleh lagi kita bercerai berai. Perbedaan adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus kita syukuri bersama. Malam ini kita bersatu, bergandengan tangan untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih kuat,” imbaunya.
Muryanto juga menekankan, Festival Kebangsaan "GEMA KAMPUS" adalah hasil kolaborasi banyak pihak yang memiliki visi sama, yakni membangun Indonesia yang beragam dan multikultural melalui pendidikan.
“Acara ini adalah wujud kerja sama dan doa bersama, agar Indonesia yang beragam bisa bersatu padu membangun pendidikan. Kita tidak boleh kehilangan keberkahan malam ini,” tuturnya.
Muryanto juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak keamanan, termasuk jajaran kepolisian, yang turut menjaga kelancaran dan kenyamanan acara.
Festival Kebangsaan "GEMA KAMPUS" menjadi simbol pertemuan gagasan, budaya, dan semangat kebangsaan. Dengan melibatkan akademisi, seniman, musisi, dan mahasiswa dari berbagai daerah, USU menegaskan komitmennya sebagai kampus yang inklusif dan berorientasi pada pembangunan karakter bangsa.
“Mari kita jadikan malam ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai persatuan,” pungkasnya. (saz)
Editor : Redaksi