Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

PKM Dosen Institut Kesehatan Deli Husada, USU dan UISU di Desa Semangat Gunung, Kabupaten Karo

Johan Panjaitan • Senin, 10 November 2025 | 10:50 WIB
PENGABDIAN: PKM dosen Institut Kesehatan Deli Husada, USU dan UISU di Desa Semangat Gunung, Kabupaten Karo. (Istimewa/Sumut Pos)
PENGABDIAN: PKM dosen Institut Kesehatan Deli Husada, USU dan UISU di Desa Semangat Gunung, Kabupaten Karo. (Istimewa/Sumut Pos)

 Sumutpos.jawapos.com-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) merupakan suatu kegiatan rutin semester yang dilakukan oleh dosen di Institut Kesehatan Deli Husada. Pengabdian yang dilakukan di desa Semangat Gunung Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo merupakan bagian dari penyelesaian hibah Kemdiktisaintek dengan skema pemberdayaan masyarakat oleh mahasiswa.

PKM yang diadakan beberapa waktu lalu ini merupakan kolaborasi beberapa tim pengabdi dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Deli Husada bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara.

Ketua Tim Pengabdi Dr. apt. Sofia Rahmi, S. M.Si kepada Sumut Pos, Senin (10/11) menjelaskan bahwa PKM dibantu mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN/PPM dan masyarakat. Memberdayakan masyarakat di Desa Semangat Gunung dalam mengelola lahan dan hasil pertanian yang belum maksimal dalam pertumbuhannya.

Dr. apt. Sofia Rahmi, S. M.Si juga menjelaskan tentang bagaimana memanfaatkan hasil pertanian yang mengalami permasalahan tetapi sudah harus dipanen.
Ketua tim yang dibantu dosen dari fakultas pertanian juga menjelaskan faktor utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Lahan yang belum dikelola dengan optimal sering menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak maksimal, hasil panen rendah dan menurunnya kesuburan tanah dari waktu ke waktu.

Langkah pertama dalam mengelola lahan pertanian adalah analisis tanah menggunakan alat uji cepat yang dapat memberikan informasi tentang pH, kadar nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K) dan bahan organik.

Jika hasil menunjukkan kekurangan unsur hara tertentu maka diperlukan pemupukan yang tepat sesuai kebutuhan tanaman. Misalnya, lahan dengan pH rendah (asam) dapat diperbaiki dengan pemberian kapur pertanian (dolomit) untuk menetralkan keasaman.

Pengolahan tanah (land preparation) menjadi tahap penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tanah perlu dicangkul, dibajak atau digaru untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aerasi dan memudahkan akar tanaman menembus lapisan tanah.

Pengolahan yang baik juga membantu menghancurkan gulma dan memperbaiki sistem drainase agar air tidak menggenang atau terlalu cepat hilang. Selain fisik tanah, pengelolaan bahan organik juga sangat berpengaruh terhadap kesuburan. Penambahan pupuk kandang, kompos atau sisa tanaman dapat meningkatkan struktur tanah, memperkaya mikroorganisme dan menyediakan nutrisi bagi tanaman secara bertahap.

Tanah yang kaya bahan organik memiliki daya serap air yang lebih baik dan lebih tahan terhadap erosi, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih sehat. Petani perlu menerapkan rotasi tanaman (crop rotation) untuk menjaga kesuburan tanah.

Menanam jenis tanaman yang berbeda secara bergantian dalam satu lahan dapat mencegah penumpukan hama dan penyakit spesifik serta memperbaiki keseimbangan hara. Misalnya, setelah menanam jagung (yang banyak menyerap nitrogen), dapat dilanjutkan dengan tanaman kacang-kacangan yang mampu mengikat nitrogen dari udara.

Salah satu tim pengabdi yang merupakan ahli biomedik Dr. dr. Jekson Martiar Siahaan, M. Biomed, AIFO-K. menjelaskan bahwa hasil pertanian yang bermasalah juga bisa menjadi sumber bahan penelitian yang sangat berharga. Banyak peneliti biomedik memanfaatkan sisa atau limbah pertanian untuk mengekstrak senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, alkaloid dan terpenoid.

Senyawa-senyawa ini memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antimikroba dan antikanker. Artinya, meskipun hasil pertanian tidak layak jual, kandungan metabolit sekundernya masih dapat dimanfaatkan untuk penelitian medis.

Kulit buah, biji atau bagian tanaman yang tidak termanfaatkan sering kali mengandung senyawa fungsional lebih tinggi daripada bagian yang dikonsumsi. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara bidang pertanian dan biomedis untuk mengembangkan pendekatan zero-waste dalam pengelolaan hasil pertanian.

Pemanfaatan hasil pertanian bermasalah juga dapat diarahkan pada produksi bioproduk, seperti bioetanol, biogas atau bioplastik. Dari perspektif biomedik, hasil pertanian yang kurang sempurna pun dapat memberikan kontribusi terhadap penelitian toksikologi atau farmakologi.

Dengan PKM ini diharapkan masyarakat memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik tentang pengelolaan lahan dan hasil pertanian sehingga hasil yang diperoleh dapat mejadi sumber pemasukan dan peningkatan nilai ekonomi masyarakat. (dmp)

Editor : Johan Panjaitan
#usu #Deli Husada Delitua #uisu #Institut Kesehatan #Kemdiktisaintek #kabupaten karo #PKM