Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kearifan Budaya untuk Pertumbuhan Hijau dan Inklusif

Johan Panjaitan • Senin, 5 Januari 2026 | 21:20 WIB
NTERNASIONAL: Wakil Rektor UMN Al-Washliyah Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan narasumber International Symposium in Auditing and Corporate Governance di Malaysia. (Istimewa/Sumut Pos)
NTERNASIONAL: Wakil Rektor UMN Al-Washliyah Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan narasumber International Symposium in Auditing and Corporate Governance di Malaysia. (Istimewa/Sumut Pos)

Sumutpos.jawapos.com-University Teknologi Mara Cawangan Kelantan (UiTMCK) bekerja sama dengan Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah menggelar kegiatan simposium internasional di Mini Theater Pusat Pelajar UiTMCK Malaysia, Ahad (4/1).

International Symposium in Auditing and Corporate Governance (ISACG) menampilkan dua narasumber Rektor UiTMCK Prof. Dr. Mohd Afandi Mat Rani dan Wakil Rektor UMN Al-Washliyah Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan.

Dalam simposium yang diikuti sivitas akademika dari perguruan tinggi dari dua negara bersahabat ini, Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan memaparkan materi tentang kearifan budaya untuk pertumbuhan hijau dan inklusif.

Wakil rektor UMN Al-Washliyah mengutarakan bahwa pembangunan berkelanjutan bukanlah persoalan teknis semata. Melainkan persoalan sistemik yang memerlukan integrasi antara ilmu pengetahuan, nilai budaya dan kebijakan publik.

"Dalam satu dekade terakhir, kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan signifikan kejadian bencana hidrometeorologi, khususnya banjir besar. Di Indonesia, wilayah Aceh dan berbagai daerah di Sumatera secara berulang menghadapi banjir yang berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat," katanya.

Data menunjukkan bahwa intensitas dan frekuensi banjir meningkat, seiring dengan perubahan iklim global dan tekanan aktivitas manusia terhadap lingkungan. Banjir tidak lagi dapat dipahami sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri, melainkan fenomena sistemik yang memengaruhi ketahanan pangan, keberlanjutan perikanan dan stabilitas infrastruktur.

Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan pun menjelaskan tentang dampak sistemik bencana banjir. "Dalam bidang pertanian, petani mengalami gagal panen akibat sawah terendam berhari-hari. Dalam bidang perikanan, nelayan kehilangan hari melaut dan sumber pendapatan utama. Kelompok yang berpenghasilan rendah menjadi paling terdampak," rincinya.

Apa akar permasalahannya? Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan menerangkan bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan curah hujan ekstrem. Banjir yang kita saksikan merupakan hasil akumulasi dari berbagai keputusan pembangunan yang tidak berkelanjutan. "Pembukaan hutan di daerah hulu, perubahan tata guna lahan tidak terkendali, melemahnya nilai-nilai sosial dan budaya serta hilangnya keseimbangan alam," ujarnya.

Wakil rektor perguruan tinggi berakreditasi unggul dari Sumut mengatakan air datang bukan karena hujan semalam, tetapi karena hutan di atas sudah tidak lagi menahan air. "Pernyataan sederhana ini mencerminkan pemahaman lokal yang sering kali lebih jujur dan kontekstual dibandingkan analisis teknis semata. Kearifan masyarakat lokal memahami hubungan sistemik antara hutan, air dan kehidupan mereka," tambahnya.

Untuk itu, lanjutnya, green inclusive growth menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berlangsung dalam batas ekologis yang aman dan sekaligus memastikan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Pertumbuhan ekonomi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan material. Keberlanjutan lingkungan dengan menjaga daya dukung ekosistem untuk generasi mendatang serta keadilan sosial dengan distribusi manfaat yang merata untuk semua lapisan masyarakat," katanya.

Dalam kesempatan ini, Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan juga menegaskan bahwa kearifan budaya dalam pembangunan. "Ketika kearifan budaya diposisikan sebagai bagian integral dari pembangunan, ia dapat berfungsi sebagai mekanisme pengendali yang melengkapi pendekatan ilmiah dan kebijakan formal. Diperlukan sistem pengetahuan sebagai warisan pemahaman lokal tentang alam. Kearifan budaya merupakan mekanisme kontrol sebagai pengendali eksploitasi sumber daya dan kohesi sosial sebagai penjaga keseimbangan dan keadilan," tambahnya.

Narasumber simposium internasional dari Indonesia ini juga menjabarkan tentang sinergi multi-pendekatan mathematical thinking (pemikiran matematis), science (ilmu pengetahuan), public policy (kebijakan publik), community participation (partisipasi masyarakat) dan local wisdom (kearifan lokal). "Tantangan pembangunan hari ini tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan tunggal. Diperlukan sinergi yang mengintegrasikan berbagai perspektif dan keahlian," sebutnya.

Wakil rektor UMN Al-Washliyah juga menjelaskan tentang cultural wisdom for green inclusive growth. Konsep ini dapat dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya sebagai wacana normatif, tetapi sebagai kerangka berpikir yang relevan dan aplikatif dalam menghadapi tantangan pembangunan di kawasan.

"Identifikasi nilai menggali kearifan budaya lokal, analisis sistem memahami kendala dan peluang, integrasi kebijakan menyatukan pendekatan formal dan informal serta implementasi penerapan berkelanjutan," jelasnya.

Bagaimana kapasitas mahasiswa dalam pembangunan? Mahasiswa, kata Assoc. Prof. Dr. Dedy Juliandri Panjaitan, khususnya di bidang sains dan matematika memiliki kapasitas analitis yang kuat untuk memahami kompleksitas persoalan pembangunan. Namun, kapasitas ini perlu dilengkapi dengan pemahaman sosial dan kultural. "Kemampuan analitis memahami sistem kompleks secara kuantitatif. Pemahaman kontekstual mengerti realitas sosial dan budaya. Solusi berkeadilan menghasilkan jawaban yang kontekstual dan etis," harap wakil rektor UMN Al-Washliyah tersebut. (dmp)

Editor : Johan Panjaitan
#simposium #UMN