Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Anang Anas Azhar, Wartawan 'Profesor Berita' Kini jadi Profesor UIN Sumatera Utara

Johan Panjaitan • Kamis, 23 April 2026 | 09:00 WIB
ORASI ILMIAH: Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan guru besar UIN Sumatera Utara. (Deddi Mulia Purba/Sumut Pos)
ORASI ILMIAH: Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan guru besar UIN Sumatera Utara. (Deddi Mulia Purba/Sumut Pos)

 

Sumutpos.jawapos.com-Disebuah pagi yang cerah di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, langkah-langkah akademik mencapai puncaknya, Rabu (22/4) sebagai peneguhan perjalanan panjang seorang anak kampung yang menapaki dunia ilmu hingga ke titik tertinggi yakni guru besar.

Di Gelanggang Mahasiswa H.M. Arsjad Thalib Lubis Medan, suasana sidang senat terbuka terasa penuh wibawa. Dipimpin Ketua Senat UIN Sumatera Utara Prof. Pagar Hasibuan didampingi Rektor UIN Sumatera Utara Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag pengukuhan itu menjadi saksi lahirnya seorang profesor di bidang komunikasi politik Islam. Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A adalah satu dari 14 guru besar UIN Sumatera Utara yang dikukuhkan.

Yang membuat momen itu lebih dari sekadar seremoni adalah gagasan yang ia bawa sebuah kegelisahan akademik yang terasa sangat dekat dengan realitas politik. Dalam pidato pengukuhannya bertajuk 'Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik ala Islam'. Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A menguliti fenomena yang kian akrab di mata publik: politik pencitraan.

Guru besar UIN Sumatera Utara ini tidak menampik bahwa dalam sistem demokrasi modern, pencitraan adalah bagian tak terelakkan. Namun, dititik itulah ia mengajukan pertanyaan mendasar-apakah citra dibangun dari integritas, atau sekadar rekayasa persepsi?

Dalam perspektif Islam, lanjutnya, komunikasi politik tidak berdiri di ruang bebas nilai. Ia terikat pada prinsip moral, kejujuran dan tanggung jawab. Mengutip spirit qaulan sadida, ia menegaskan bahwa setiap pesan politik harus lurus, benar dan tidak menyesatkan.

Baca Juga: Imigrasi Belawan Hadirkan Eazy Paspor di Pujakesuma

Dalam konteks yang lebih luas, ia mengingatkan bahwa politik dalam Islam bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian. Reputasi pemimpin tidak lahir dari strategi komunikasi yang canggih, tetapi dari konsistensi akhlak.

Ditengah era disinformasi dan propaganda digital, gagasan ini terasa seperti oase: mengembalikan politik pada etika, bukan sekadar elektabilitas.

Tak berhenti pada kritik, Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A menawarkan tiga gagasan penting yang menjadi inti pemikirannya. Pertama, menggeser makna pencitraan dari simbol ke akhlak.bPolitik Islam, menurutnya, tidak boleh berhenti pada simbol religius atau jargon keagamaan. Yang utama adalah bagaimana nilai kejujuran, keadilan dan amanah benar-benar hidup dalam tindakan politik.

Kedua, menempatkan ulama sebagai penjaga etika, bukan sekadar 'stempel politik'. Ia menyoroti kecenderungan menjadikan tokoh agama sebagai alat legitimasi kekuasaan. Padahal, ulama seharusnya hadir sebagai penuntun moral yang menjaga demokrasi tetap sehat.

Ketiga, kampanye harus berbasis maslahat, bukan kultus figur.
Pertarungan politik idealnya tidak lagi soal siapa didukung siapa, tetapi apa agenda keummatan dan kebangsaan yang diperjuangkan.
Gagasan ini bukan sekadar wacana akademik, melainkan refleksi dari pengalaman panjangnya mengamati-bahkan pernah berada di dalam-dunia politik itu sendiri.

Perjalanan hidup Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A seperti narasi klasik tentang ketekunan. Ia lahir di Desa Tebing Linggahara Labuhanbatu pada 4 Oktober 1974. Masa kecil hingga remaja dihabiskan di Rantau Prapat, menempuh pendidikan dari SD hingga MAN. Pilihan hidupnya kemudian membawanya ke dunia komunikasi Islam di UIN Sumatera Utara-kampus yang kelak menjadi rumah besar bagi seluruh jenjang pendidikannya, dari sarjana hingga doktor.

Baca Juga: Wabup Labura Hadiri Pembukaan Musrenbang RKPD 2027, Tekankan Pemerataan Pembangunan

Namun, jalannya tidak lurus sebagai akademisi sejak awal. Ia pernah menjadi wartawan, bahkan mengantongi sertifikat Uji Kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers. Dunia jurnalistik membentuk kepekaan dan ketajaman analisisnya. Di kalangan sesama wartawan, ia bahkan pernah dijuluki 'Profesor Berita'. Sebuah julukan yang kini terasa seperti isyarat masa depan. "Dulu mereka memanggil saya profesor karena banyaknya berita yang saya tulis. Hari ini, saya menjadi profesor sesungguhnya," ujarnya, mengenang dengan nada haru.

Selain sebagai jurnalis, putra pasangan Saibon AS dan Jamilah SM  ini, pernah mencurahkan tenaga dan pikirannya sebagai aktivis. Ia juga sempat aktif sebagai politisi dan aktivis organisasi, termasuk di lingkungan Muhammadiyah. Pengalaman itu memperkaya perspektifnya dalam melihat komunikasi politik. Tidak hanya dari teori, tetapi juga praktik.

Akademisi yang produktif dan berpengaruh. Sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A dikenal produktif. Ratusan tulisan opini telah dihasilkan, ditambah buku-buku yang membahas komunikasi politik, politik Islam hingga kebijakan publik.

Suami Evi Sakdiah S.Ag, M.Sos dan ayah dari M Choirur Rais Alvizar (25), M Hafiz Alvizar (21), M Tahfif Alvizar (19) dan M Fikri Rizki Alvizar (16) ini
juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai forum. Termasuk diskusi penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik Sumatera Utara.

Di kampus, ia mengemban amanah sebagai wakil dekan III FDK UIN Sumatera Utara periode 2023-2027, sekaligus mengajar di berbagai jenjang, termasuk pascasarjana. Dedikasinya tidak hanya pada pengajaran, tetapi juga pembinaan generasi akademisi berikutnya.

Baca Juga: Simpan Ikan Mentah di Freezer Bisa Tahan Empat Bulan, Ini Caranya

Pengukuhan guru besar sering kali dipahami sebagai puncak karier akademik. Namun bagi Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A, momen itu justru menjadi titik awal tanggung jawab yang lebih besar. Ia tidak hanya membawa gelar, tetapi juga gagasan. Tentang bagaimana politik seharusnya dijalankan dengan akhlak, kejujuran dan orientasi pada kemaslahatan.

Ditengah wajah politik yang kerap riuh oleh pencitraan semu, suara seperti ini menjadi penting. Sebab, seperti yang ia tekankan, citra sejati tidak dibangun dari ilusi, melainkan dari integritas yang hidup dan konsisten. Dari seorang 'Profesor Berita' kini lahir seorang profesor yang membawa misi mengembalikan makna komunikasi politik ke jalan yang lebih bermartabat. (dmp)

Editor : Johan Panjaitan
#wartawan #uin sumut #profesor