USU Kembangkan Model Posyandu Remaja Berbasis Komunitas di Sicanang, Perkuat Layanan Kesehatan Remaja Perkotaan

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 14:50 WIB
Tim Pengabdian kepada Masyarakat USU saat melaksanakan kegiatan program Pengembangan Model Posyandu Remaja Berbasis Komunitas, di Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. (Sumut Pos/Dokumen Pribadi)
Tim Pengabdian kepada Masyarakat USU saat melaksanakan kegiatan program Pengembangan Model Posyandu Remaja Berbasis Komunitas, di Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. (Sumut Pos/Dokumen Pribadi)

 

MEDAN, Sumutpos.jawapos.com – Universitas Sumatera Utara (USU) terus memperkuat kontribusinya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui inovasi berbasis komunitas. Kali ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat USU mengembangkan Model Posyandu Remaja Berbasis Komunitas (PR-Urban) di Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, sebagai strategi memperkuat layanan kesehatan remaja di kawasan perkotaan pesisir.

Program bertajuk "Pengembangan Model Posyandu Remaja Berbasis Komunitas sebagai Strategi Penguatan Kesehatan Remaja Perkotaan melalui Kolaborasi Internasional" ini menjadi salah satu upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih ramah, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan remaja.

Baca Juga: Warga PB Selayang II Keluhkan Parkir Liar, DPRD Medan Desak Dishub Bertindak Cepat

Kegiatan berlangsung mulai 24 Juli hingga Agustus 2026, dengan melibatkan sekitar 50 remaja berusia 10–18 tahun, 20 kader Posyandu Remaja, guru, tokoh masyarakat, Karang Taruna, tenaga kesehatan Puskesmas, serta mitra internasional dari Malaysia.

Program ini dipimpin Prof. Dr. dr. Rina Amelia, MARS, FISPH, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, bersama tim yang terdiri atas Prof. Dr. Reni Asmara Ariga, SKp., MARS, Destanul Aulia, SKM., MBA., MEc., Ph.D, dr. Hendri Wijaya, M.Ked(Ped), Sp.A(K), serta mitra internasional dr. Preveenna A/P Shunmugam dari Malaysia.

Jawaban atas Tantangan Kesehatan Remaja

Prof. Rina Amelia menjelaskan, pengembangan model PR-Urban dilatarbelakangi masih terbatasnya akses remaja terhadap pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di sisi lain, berbagai persoalan kesehatan remaja seperti anemia, gangguan gizi, kesehatan mental, kecanduan gawai, rendahnya aktivitas fisik, hingga perilaku berisiko masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Selain itu, Posyandu Remaja dinilai masih membutuhkan penguatan, mulai dari peningkatan kapasitas kader, standar pelayanan, sistem pencatatan berbasis data, hingga mekanisme rujukan yang lebih jelas.

Baca Juga: Persebaya vs Persija: Ronny Tanuwijaya Prediksi Duel Sarat Gengsi dan Adu Taktik

"Melalui program ini kami mengembangkan Model PR-Urban, yaitu model pelayanan kesehatan remaja berbasis komunitas yang terstruktur, terstandarisasi, partisipatif, dan terintegrasi dengan pelayanan Puskesmas," ujar Prof. Rina, Minggu (26/7).

Tak Sekadar Pemeriksaan Kesehatan

Berbeda dengan layanan kesehatan konvensional, Model PR-Urban dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus pendampingan bagi remaja.

Program ini meliputi pemetaan kondisi kesehatan remaja, pemeriksaan status gizi dan indeks massa tubuh (IMT), skrining anemia, skrining kesehatan mental, edukasi kesehatan, pelatihan kader, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penguatan sistem rujukan, hingga monitoring dan evaluasi secara berkala.

Pelatihan kader juga menjadi salah satu fokus utama.

Para kader dibekali kemampuan berkomunikasi dengan remaja, edukasi mengenai anemia dan gizi seimbang, teknik pengukuran IMT, skrining kesehatan mental dasar, konseling promotif, pendekatan sebaya, hingga pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan.

Dengan bekal tersebut, kader diharapkan tidak hanya menjalankan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mendampingi remaja dalam menerapkan pola hidup sehat.

Kolaborasi Nasional dan Internasional

Keunikan program ini terletak pada kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.

Pelaksanaannya melibatkan Fakultas Kedokteran USU, Fakultas Keperawatan USU, Fakultas Psikologi USU, Puskesmas, sekolah, pemerintah kelurahan, Karang Taruna, masyarakat, serta mitra kesehatan dari Malaysia.

Baca Juga: Dugaan Eksploitasi Anak Jadi Sorotan dalam Sengketa Hak Asuh, Sarwendah Berpotensi Hadapi Konsekuensi Pidana Jika Terbukti

Kolaborasi internasional dimanfaatkan sebagai wadah pertukaran pengalaman dan praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan remaja, sehingga model yang dikembangkan memiliki standar yang lebih komprehensif dan berpotensi direplikasi di berbagai wilayah perkotaan lainnya.

"Melalui Model PR-Urban, kami berharap Posyandu Remaja tidak hanya menjadi tempat pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang yang aman, ramah, dan partisipatif bagi remaja untuk memperoleh informasi, melakukan deteksi dini, serta membangun perilaku hidup sehat sejak usia muda," jelas Prof. Rina.

Edukasi Berkelanjutan Hingga Agustus

Sebagai tahap awal, Tim Pengabdian kepada Masyarakat USU telah melaksanakan rangkaian kegiatan di Kelurahan Sicanang pada Jumat (24/7), yang mencakup edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan pergaulan bebas, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta pemeriksaan kesehatan bagi para remaja.

Program akan berlanjut hingga Agustus 2026 dengan kegiatan edukasi secara berkesinambungan.

Selain itu, tim juga akan menyerahkan berbagai peralatan kesehatan untuk mendukung operasional dan keberlanjutan Posyandu Remaja di wilayah tersebut.

Melalui inovasi ini, USU berharap Posyandu Remaja dapat berkembang menjadi pusat layanan kesehatan komunitas yang adaptif terhadap kebutuhan generasi muda, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif dalam menciptakan remaja yang sehat, produktif, dan berdaya saing.(dwi/han)

Editor : Johan Panjaitan
usu layanan kesehatan posyandu Sicanang remaja