MEDAN - Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan menggelar kegiatan Fokus Grup Diskusi (FGD) di ruang rapat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Selasa (11/7/2026). Kegiatan ini dilakukan oleh tiga tim dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UHN Medan yang memenangkan hibah penelitian dari Kemendiksaintek Tahun 2026. Mereka terdiri dari Ketua Peneliti Dr Romindo M Pasaribu SE MBA, Anggota Peneliti Hanna M Damanik SE MM dan Vebry Lumbangaol SE MSi.
Pelaku usaha yang hadir pada kegiatan ini terdiri dari sektor fashion tenun, sektor kuliner, sektor jasa pembuatan website dan desaing grafis. Kegiatan diawali dengan pemaparan dari tim Pegadaian yang menjelaskan terkait pembiayaan modal bagi pelaku usaha. Tim Pegadaian memaparkan jenis produk pembiayaan modal usaha seperti Pinjaman Usaha (Gadai BPKB) untuk jaminan kendaraan, KUR Syariah Pegadaian untuk pinjaman mikro tanpa agunan, serta gadai emas atau non-emas dengan cicilan tetap dan syarat mudah.
Ketua Peneliti Dr Romindo M Pasaribu SE MBA mengatakan, setelah tim Pegadaian memaparkan terkait dengan produk pinjaman bagi pelaku usaha FGD dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan 15 pelaku UMKM. Pada sesi diskusi moderator mengajukan kurang lebih 12 pertanyaan yang berkaitan dengan kinerja pemasaran. Pelaku usaha rata-rata berada dalam kategori sedang dan sudah memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan usahanya.
Baca Juga: Wali Kota Ikut Lomba Mancing, Ketua TP PKK Pematangsiantar Raih Juara 4
Berbagai hal yang dibahas antara lain terkait tantangan/hambatan usaha apa yang dihadapi pelaku usaha terutama dalam penyediaan bahan baku. Para peserta menyampaikan, melihat situasi saat ini, kondisi ekonomi yang masih belum stabil menyebabkan harga bahan baku mengalami kenaikan. Sementara daya beli masyarakat cenderung menurun. Dengan kenyataan ini, pelaku usaha memilih untuk tidak menaikkan harga barang yang dijual dengan mengorbankan laba agar pelanggan tidak beralih ke tempat yang lain.
Hal lain yang dibahas, terkait penggunaan media sosial sebagai media promosi. Semua pelaku usaha yang hadir sudah menggunakan media sosial sebagai media promosi, akan tetapi media sosial yang digunakan masih media sosial pribadi dan belum menggunakan media sosial bisnis. Jenis media sosial yang digunakan seperti Facebook, Instagram, Tik Tok, dan Whatsapp. Alasan hanya menggunakan media sosial ini karena mudah digunakan dan memiliki jangkauan yang luas. Selain itu, untuk 1 media sosial pelaku usaha memiliki lebih dari 1 akun.
Misalnya, pada pelaku usaha sektor fashion yang melakukan live streaming di media sosial Tik Tok menggunakan 6 perangkat dengan 6 akun media sosial Tik Tok dengan menggunakan nama akun yang sama. Pada pelaku usaha sektor kuliner hanya memiliki 1 akun untuk beberapa media sosial dan hanya mengupload beberapa video dan gambar sebagai media promosi dan sangat jarang menggunakan fitur live streaming. Sedangkan pada pelaku usaha jasa menggunakan media sosial sebagai media promosi dengan menampilkan konten video dan gambar mengenai proses pembuatan jasa.
Baca Juga: Ade Djaya Ismanto Dilantik Jadi Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Dairi
Ditambahkan Dr Romindo, pertanyaan lainnya yang disampaikan ke peserta terkait pemanfaatan Artificial Inteliigence/AI untuk pengembangan usaha. Beberapa pelaku usaha mengaku sudah sangat familiar dan sering menggunakan aplikasi ini. Jenis AI yang sering digunakan pelaku usaha adalah Gemini, Capcut, dan Canva. Alasan pelaku usaha menggunakan aplikasi ini karena gratis dan mudah digunakan. Aplikasi AI ini digunakan pelaku usaha untuk membuat konten video atau gambar sehingga tampilan video dan gambar menjadi lebih menarik. Perubahan teknologi memberikan dampak positif bagi pelaku usaha dalam menjangkau pasar serta pelanggan yang lebih banyak di luar Kota Medan.
Bahasan berikutnya berkaitan dengan penggunaan bahan baku yang berbahan dasar alami. Pelaku usaha memaparkan masih belum menggunakan bahan-bahan alami dan masih menggunakan kemasan berbahan dasar plastik dan streofoam. Alasan belum menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan dikarenakan akan mempengaruhi harga jual dari barang dan khawatir pelanggan akan komplain. Meski mereka menyadari bahwa penggunaan bahan alami lebih baik karena ikut melestarikan alam.
Kesimpulan dari kegiatan FGD ini adalah pelaku usaha telah menjalankan usaha lebih dari 3 tahun, telah menggunakan media sosial media sosial dan AI sebagai alat promosi seperti membuat konten video dan gambar, dan pelaku usaha belum menggunakan bahan-bahan alami dikarenakan khawatir biaya produksi dan harga jual barang akan naik dan pelanggan akan beralih ke pesaing. (sih)
Editor : Redaksi