SUMUTPOS.JAWAPOS.COM - Semua orang menginginkan masa tua yang bahagia. Memiliki dana pensiun dan tabungan dengan sejumlah uang atau perhiasan memasuki masa-masa tak lagi bekerja.
Namun faktanya banyak juga orang Indonesia yang menjalani masa tua yang tidak seperti yang diinginkan. Apalagi dengan ekonomi sekarang dengan PHK dimana-mana yang bahkan terpaksa pensiun dini.
Memiliki uang itu penting, namun ketika tak memiliki uang bukan berarti kehidupan ini telah kiamat. Artikel ini menjadi sebuah nasehat kepada Lansia untuk mempersiapkan masa tua dengan lebih baik, dan sangat baik dibaca untuk Anda yang tak memiliki uang dana pensiun.
Usia boleh tua, rambut boleh memutih, tubuh tak sekuat dulu. Hal itu adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi ketika memasuki usia Lansia.
Namun begitu hal itu bukan berarti kita harus kehilangan harapan, karena harapan tak memiliki tanggal kadaluarsa.
Banyak kenyataan pahit yang dialami oleh para Lansia di negeri ini. Hidup di usia senja tanpa tabungan, tanpa uang pensiun dan tanpa jaminan financial dari sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Badan Statistik tahun 2023 mengungkapkan, hanya 13 persen Lansia di Indonesia yang menerima pensiun formal.
Artinya mayoritas Lansia di Indonesia harus berjuagn sendiri, entah itu mengandalkan anak, belas kasihan tetangga atau kerja kecil-kecilan yang seharusnya masa itu menjadi masa istirahat.
Ini bukan sekedar angka. Wajah-wajah kelelahan bisa di temui di pasar, di jalan-jalan bahkan di rumah sendiri.
Lalu apakah kita harus menyerah dengan keadaan seperti itu? Tidak juga. Selama jiwa masih bernafas percayalah selalu ada ruang untuk bangkit.
Berikut ini adalah 5 cara bertahan hidup yang bukan hanya secara materi, tapi juga spritual yang bisa dilakukan oleh para Lansia menjalani hari tua meskipun tanpa uang dan dana pensiun, seperti dilansir dari Youtube Radio Rohani.
1. Terima kenyataan dengan lapang dada
Hal yang pertama yang harus kita lakukan menghadapi kenyataan hidup masa Lansia tanpa dana pensiun adalah terima kenyataan dengan lapang dada.
Tak sedikit orang yang menjalani masa tua dengan wajah tertunduk, bukan karena lelah berjalan tapi juga karena beban masa lalu yang masih menghantui.
Membayangkan dulu masa muda pernah bekerja keras seumur hidup, kini duduk termenung, merasa gagal hanya karena tak punya simpanan, tak punya dana pensiun dan tak punya apa-apa selain dari penyesalan.
Hingga sampai-sampai rasa malu menggerogoti, menjadi orang yang seolah-olah tak layak dihormati karena tak punya harta.
Satu hal yang dilupakan, tak ada manusia yang sempurna. Semua orang pernah berbuat salah, pernah kehilangan momen, tapi itu tidak lantas membuat diri kita hina.
Kekuatan sejati seseorang adalah terlihat dari kemampuannya untuk menerima kenyataan tanpa membenci diri sendiri.
Psikologi berkata, penerimaan emosional adalah fondasi dari kesehatan mental, terutama diusia tua. Menerima kenyataan bukan berarti pasrah.
Menerima berarti menyadari kondisi kita hari ini tanpa menambah beban dengan menyalahkan diri sendiri.
2. Manfaatkan aset yang tak terlihat
Waktu, pengalaman dan jaringan adalah aset yang tidak terlihat. Studi dari Word Bank tahun 2022 menyebut bahwa salah satu kekuatan ekonomi masa depan justru terletak pada ekonomi berbasis pengetahuan. Dan hal ini salah satunya dimiliki para Lansia.
Pengalaman hidup adalah kekuatan. Seorang Lansia bisa menjadi mentor untuk menjadi guru ngaji di lingkungannya atau membantu anak-anak belanjar membaca bahkan sekedar memberi nasehat yang menenangkan.
3. Hidup sederhana, bahagia dengan yang sedikit
Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan di usia tua adalah uang yang banyak. Sekalipun kita memang membutuhkan uang, tapi nyatanya banyak uang bukanlah syarat mutlak untuk bahagia.
Karena semakin tua semakin sadar kita bahwa yang benar-benar membuat hati tenang bukan kemewahan, tapi juga kesederhanaan. Bukan berapa banyak kita miliki, tapi berapa banyak kita bisa menikmati dari yang sedikit.
Baca Juga: Polres Binjai Tangkap Pengedar Sabu
Hidup minimalis tak berarti hidup miskin. Hidup minimalis adalah memilih untuk hanya menyimpan yang penting dan melepas beban yang tak perlu.
Dari periode ini kamu tak harus belanja setiap minggu, mengejar gaya hidup orang lain. Masak sendiri dengan bahan seadanya dan lebih menyehatkan dan hemat.
Berkebun di halaman rumah bisa menjadi sumber sayuran segar. Bertukar barang dengan tetangga menciptakan hubungan hangat dan saling menguatkan.
Menurut AARP, sebuah organisasi Lansia di Amerika, orang tua yang menjalani hidup sederhana memiliki tingkat stres yang jauh lebih rendah. Hidup mereka lebih ringan, tenang dan lebih sehat.
Karena mereka tak lagi hidup untuk terlihat kaya, tapi untuk merasa cukup. Dan itu adalah perbedaan besar. Tak perlu rumah mewah untuk merasa damai.
4. Ciptakan sumber penghasilan ringan dari rumah
Bertambah tua bukan alasan untuk berhenti produktif. Justru diusia inilah saat mungkin tubuh tak sekuat dulu kita ditantang untuk lebih cerdas dalam mencari penghasilan.
Bukan lagi dari hal-hal berat, tapi juga hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah. Dapur yang dulu memasak untuk keluarga kini jadi sumber penghasilan baru.
Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di rumah seperti membuka usaha catering, usaha kue. Mulailah dari hal-hal yang paling dekat yang sering dilakukan.
Salah satu kisah yang menginspirasi adalah cerita seorang nenek Lansia berusia 70 tahun di Yogyakarta yang menjual peyek dari dapur rumahnya.
5. Membangun lingkaran sosial dan spritual yang kuat
Kesepian adalah penyakit yang tak terlihat tapi dampaknya bisa menghancurkan. Banyak para Lansia di masa tua tidak hanya berjuang melawan sakit fisik tapi juga kesunyian yang menjerat jiwa.
Menurut Harvard Health kesepian pada orang Lansia bahkan lebih berbahaya dari tekanan darah tinggi. Ini bukan soal sepi rumah, tapi juga sepi hati.
Tak ada medis yang bisa menyembuhkan penyakit seperti ini selain kehadiran manusia lain yang saling mendukung.
Baca Juga: Resep Es Teler Sultan Untuk Ide Jualan, Cara Bikin Kuah Kental Tanpa SP, Whip Cream, dan Maizena
Ada banyak ruang sosial yang layak selalu dikunjungi. Seperti tempat ibadah muslim yaitu masjid, gereja. Juga seperti klub olahraga dan membangun hubungan ke berbagai komunitas yang cocok dengan passionmu.
Jika kamu telah sampai pada level ini, artinya kamu sudah memilih untuk tidak menyerah dan itu telah menjadi kemenangan yang pertama.
Usia tua bukan akhir dari segalanya. Justru dari sanalah awal dari kehidupan yang jernih, lebih damai dan bermakna. (sita)
Editor : Redaksi