PARIS, Sumutpos.jawapos.com-Malam di Parc des Princes tak sekadar menghadirkan duel dua raksasa Eropa. Bagi Arne Slot, laga ini terasa seperti persimpangan nasib. Ketika musim domestik mulai goyah, Liga Champions menjelma menjadi satu-satunya panggung penyelamatan—atau justru titik akhir.
Dalam dua laga terakhir, Liverpool FC kehilangan arah. Kekalahan telak dari Manchester City di Piala FA menjadi alarm keras bahwa fondasi tim sedang retak. Di tengah tekanan untuk mengamankan posisi empat besar Premier League, Liga Champions kini menjadi harapan yang tersisa—tipis, tapi masih bernyawa.
Masalahnya, lawan yang dihadapi bukan sembarang tim. Paris Saint-Germain datang sebagai juara bertahan, dengan kedalaman skuad dan pengalaman yang teruji di panggung elite. Bermain di kandang sendiri, Parc des Princes, PSG memegang kendali atmosfer sekaligus psikologis.
Baca Juga: Longsor di Sembahe Robohkan 6 Rumah, 5 Korban Jiwa Ditemukan
Kapten Liverpool, Virgil van Dijk, tak menutupi tantangan yang ada. Ia menegaskan perlunya pendekatan berbeda—bukan sekadar taktik, tapi juga mentalitas. Dalam situasi seperti ini, sepak bola tak hanya soal strategi, melainkan juga keberanian menghadapi tekanan.
Pertemuan ini pun membawa bayang-bayang masa lalu. Musim lalu, Liverpool sempat mencuri kemenangan di Paris, namun gagal menuntaskan pekerjaan di Anfield dan akhirnya tersingkir lewat adu penalti. Luka itu belum sepenuhnya sembuh—dan kini terbuka kembali dalam skala yang lebih besar.
Di kubu PSG, Achraf Hakimi menilai Liverpool tetap berbahaya. Inkonsistensi domestik tidak serta-merta menghapus status mereka sebagai tim besar Eropa. Justru dalam kondisi tertekan, The Reds sering kali menemukan cara untuk bangkit.
Baca Juga: Megawati Hangestri Tetap Bermain di Proliga 2026 Sambil Perawatan dari Cedera Lutut
Sorotan lain tertuju pada Hugo Ekitike. Penyerang muda itu kembali ke Paris, bukan sebagai bagian dari PSG, melainkan sebagai ancaman. Parc des Princes yang dulu menjadi rumah, kini menjadi panggung pembuktian. Tiga gol di Liga Champions musim ini mungkin belum cukup untuk disebut eksplosif, tetapi momentum sering kali lahir dari momen emosional seperti ini.
Pertanyaannya sederhana, namun jawabannya kompleks: apakah Liverpool masih memiliki cukup nyali untuk melawan arus?
Bagi Slot, ini bukan sekadar pertandingan. Ini adalah ujian legitimasi. Jika gagal, bukan hanya langkah di Liga Champions yang terhenti—tetapi juga kepercayaan yang selama ini menopang posisinya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan