PARIS, Sumutpos.jawapos.com-Keputusan besar kerap lahir dari momen sulit. Di tengah badai kekalahan yang menimpa Liverpool FC, pelatih Arne Slot memilih berdiri tegak pada keyakinannya—meski harus mengorbankan salah satu bintang terbesar tim, Mohamed Salah.
Bertandang ke markas Paris Saint-Germain di Parc des Princes, The Reds tak hanya pulang dengan kekalahan 0-2 pada leg pertama perempat final Liga Champions UEFA. Mereka juga meninggalkan pertanyaan besar soal arah taktik dan keberanian mengambil risiko.
Ini menjadi kekalahan ketiga beruntun Liverpool—sebuah rangkaian hasil yang mempertegas bahwa tim ini sedang berada di titik rapuh. Setelah dibantai Manchester City di Piala FA dan tumbang dari Brighton & Hove Albion di Premier League, kekalahan di Paris terasa seperti klimaks dari penurunan performa yang belum menemukan remnya.
Sorotan utama mengarah pada eksperimen Slot. Formasi 3-5-2 yang diusung tampak terlalu konservatif, bahkan steril—tanpa satu pun tembakan tercipta sepanjang laga. Namun, yang paling menyita perhatian adalah keputusan mencadangkan Salah selama 90 menit penuh.
Baca Juga: Kemenhaj Tegaskan Tidak Ada Haji Furoda Tahun Ini karena Arab Saudi Tak Keluarkan Visa
Slot bukan tanpa alasan. Ia membaca pertandingan sebagai pertarungan bertahan di fase akhir—situasi yang menurutnya tidak ideal bagi pemain dengan karakter ofensif seperti Salah. “Kami lebih banyak ditekan ketimbang menyerang. Dalam kondisi seperti itu, memainkan Salah justru tidak memberi dampak maksimal,” ujarnya.
Lebih jauh, Slot menegaskan bahwa penggunaan energi pemain menjadi pertimbangan krusial. Menurunkan Salah hanya untuk bertahan di area sendiri selama 20–25 menit dianggapnya tidak efektif—bahkan berisiko menggerus kesiapan sang pemain untuk laga berikutnya.
Keputusan ini mungkin logis secara taktik, tetapi tidak sepenuhnya steril dari konsekuensi emosional. Salah, ikon sekaligus tumpuan harapan Liverpool, terlihat menyimpan kekecewaan. Ia menolak wawancara usai laga, termasuk dari legenda klub Steven Gerrard.
Namun, di balik gestur dingin itu, profesionalisme tetap terjaga. Salah memilih bertahan di lapangan, menjalani latihan tambahan—sebuah respons yang mencerminkan disiplin, sekaligus mungkin, amarah yang dipendam.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan