MANCHESTER, Sumutpos.jawapos.com– Perburuan gelar Premier League musim ini memasuki fase paling menegangkan. Manchester City terus menjaga tekanan kepada Arsenal setelah menang meyakinkan 3-0 atas Brentford FC di Stadion Etihad, Minggu (10/5).
Kemenangan itu membuat City memangkas jarak menjadi hanya dua poin dari Arsenal pada pekan ke-35. Persaingan kini berubah menjadi duel psikologis: siapa yang paling tenang menghadapi tiga laga terakhir, dialah yang kemungkinan besar mengangkat trofi.
Namun, menariknya, nasib perebutan gelar justru bisa berada di tangan Crystal Palace.
Baca Juga: Saipul Bahri Dorong Warga Medan Labuhan Aktif Urus Adminduk
Klub asal London Selatan tersebut akan menghadapi dua kandidat juara secara beruntun. Palace lebih dulu bertandang ke Etihad menghadapi City pada 14 Mei, lalu menantang Arsenal pada pekan terakhir musim ini, 24 Mei mendatang. Dalam situasi seperti sekarang, satu hasil imbang saja dapat mengubah arah gelar.
Pelatih Palace Oliver Glasner menegaskan timnya tidak akan menjadi “alat bantu” bagi siapa pun.
“Aku tidak bertanggung jawab atas Arsenal ataupun City. Tugasku hanya memberikan yang terbaik untuk Crystal Palace,” ujar Glasner seperti dikutip Manchester Evening News.
Sikap Glasner itu membuat Palace berpotensi menjadi hakim paling menentukan dalam perebutan trofi musim ini. Terlebih, performa The Eagles sedang menanjak setelah sukses melangkah ke final Liga Konferensi Europa.
Klausul Eze yang Bisa Mengubah Segalanya
Ada lapisan drama lain yang membuat duel Arsenal versus Palace semakin menarik.
Menurut laporan The Sun, Arsenal memiliki klausul tambahan dalam transfer Eberechi Eze dari Palace pada awal musim. The Gunners disebut harus membayar bonus sekitar GBP 10 juta apabila Eze ikut membawa Arsenal menjadi juara Premier League.
Baca Juga: 20 Jamaah Haji Meninggal Dunia
Secara tidak langsung, Palace memiliki “kepentingan finansial” terhadap peluang juara Arsenal. Namun, sepak bola jarang berjalan sesederhana hitungan bisnis. Jika Palace tampil habis-habisan dan berhasil menahan atau bahkan mengalahkan Arsenal di laga terakhir, bonus itu bisa saja lenyap bersamaan dengan mimpi juara The Gunners.
Situasi tersebut membuat pertandingan pamungkas Arsenal terasa seperti drama dengan banyak lapisan kepentingan.
Guardiola Ditunggu Sesama Pelatih Spanyol
Di kubu City, jalan menuju gelar juga belum benar-benar aman. Pasukan Pep Guardiola masih harus melewati dua ujian berat melawan tim yang ditangani kompatriotnya sendiri.
AFC Bournemouth asuhan Andoni Iraola dan Aston Villa milik Unai Emery siap menghadang langkah City di dua pekan terakhir.
Guardiola memilih meredam euforia dan tidak ingin terlalu jauh memikirkan persaingan dengan Arsenal.
“Bournemouth bukan tempat terbaik untuk dikunjungi, lalu kami menutup musim melawan Aston Villa,” ujar Guardiola sambil tersenyum.
Komentar itu terdengar ringan, tetapi menyimpan pesan jelas: City sadar mereka belum berada di garis finis.
Tantangan Haaland di Tiga Pekan Penutup
Ketajaman Erling Haaland juga menjadi salah satu faktor penting dalam sprint terakhir City. Golnya ke gawang Brentford membuat sang striker selalu mencetak gol dalam empat laga Premier League secara beruntun.
Namun, statistik unik justru membayangi penyerang Norwegia tersebut. Sejak bergabung dengan City, Haaland hanya mampu mencetak satu gol dalam tiga pertandingan terakhir musim liga.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Sebut Iran Punya Strategi Baru Hadapi AS
Kini, dia berpeluang mematahkan catatan tersebut sekaligus membawa City mempertahankan peluang juara.
“Tugasku adalah mencetak gol. Aku sudah membuat 26 gol musim ini dan itu lebih baik dibanding musim lalu,” kata Haaland kepada Evening Standard.
Jika melihat tren beberapa musim terakhir, Arsenal justru lebih sering tampil sempurna dalam tiga pekan terakhir dibanding City. The Gunners kerap menutup musim dengan sapu bersih kemenangan.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan