Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Belanda vs Maroko: Waspada “Senjata Makan Tuan” di Laga Sarat Emosi

Johan Panjaitan • Selasa, 30 Juni 2026 | 07:00 WIB
Cody Gakpo.
Cody Gakpo.

 

MONTERREY, Sumutpos.jawapos.com – Laga Belanda kontra Maroko di Estadio BBVA, Monterrey, pagi ini bukan sekadar duel babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pertandingan ini menyimpan narasi yang lebih dalam: pertemuan antara “guru dan murid” yang kini berdiri di sisi berlawanan, dengan potensi menjadi senjata makan tuan bagi De Oranje.

Belanda selama bertahun-tahun menjadi kawah lahirnya para pemain keturunan Maroko. Dari akademi Ajax Amsterdam lahir Noussair Mazraoui dan Anass Salah-Eddine, FC Utrecht mengembangkan Sofyan Amrabat, sementara PSV Eindhoven melahirkan Ismael Saibari. Kini, para pemain yang ditempa dengan filosofi total football itu justru menjadi bagian penting kekuatan Maroko.

Situasi ini menjadikan laga melawan Atlas Lions bukan hanya soal taktik, tetapi juga soal memori dan pemahaman mendalam terhadap cara bermain Belanda sendiri.

Baca Juga: Presiden Korea Selatan Murka karena Timnas Gagal di Piala Dunia 2026

Pelatih Belanda, Ronald Koeman, tak menutup mata terhadap kompleksitas tersebut. Ia menyebut Maroko sebagai lawan berbahaya yang mampu menghukum kelengahan sekecil apa pun.

“Saya tidak yakin kami adalah favorit. Maroko adalah tim yang bagus, memiliki kualitas, dan bisa mencetak gol dengan mudah,” ujar Koeman kepada Reuters.

Koeman menyoroti aspek transisi permainan yang menjadi titik rawan timnya sepanjang fase grup. Meski produktivitas gol Belanda terbilang tinggi, lini belakang mereka masih rapuh dengan selalu kebobolan di setiap laga grup.

“Kami harus lebih kompak. Transisi harus lebih cepat, masih banyak yang harus diperbaiki,” tegasnya.

Kewaspadaan serupa juga datang dari para pemain. Gelandang Ryan Gravenberch menegaskan bahwa Maroko bukan lagi sekadar kuda hitam seperti di Piala Dunia 2022, ketika mereka menembus semifinal dan mencatat sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mencapai fase tersebut.

“Kami menghormati Maroko. Mereka menunjukkan kualitas luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kami juga percaya pada diri sendiri,” kata Gravenberch.

Baca Juga: Sarwendah Tegaskan Laporan ke Polres Metro Jaya Bukan Terkait Ruben Onsu

Di kubu seberang, pelatih Maroko Nabil Ouahbi memilih pendekatan realistis namun penuh keyakinan. Ia mengakui kekuatan Belanda secara individu maupun kolektif, namun menegaskan bahwa timnya telah menyiapkan pendekatan berbeda.

“Kami membutuhkan solusi yang berbeda untuk menghadapi Belanda. Setiap pertandingan punya tantangan sendiri,” ujarnya.

Maroko datang dengan status yang telah berubah. Bukan lagi sekadar kejutan, melainkan kekuatan mapan yang diperkuat pemain-pemain berpengalaman di liga elite Eropa—termasuk mereka yang tumbuh dari sistem sepak bola Belanda sendiri.

Secara historis, Belanda memang unggul dengan dua kemenangan dari tiga pertemuan terakhir, termasuk kemenangan 2-1 pada Piala Dunia 1994. Namun statistik itu tak lagi menjamin dominasi di lapangan, terutama ketika identitas dan emosi turut bermain di balik tensi pertandingan.(jpg/han)

 

Perkiraan Pemain: 

Belanda (4-3-3): 1-Bart Verbruggen (g); 22-Denzel Dumfries, 6-Jan Paul van Hecke, 4-Virgil van Dijk ©, 5-Micky van de Ven; 8-Ryan Goravenberch, 21-Frenkie de Jong, 14-Tijjani Reijnders; 18-Donyell Malen, 9-Brian Brobbey, 11-Cody Gakpo.
Pelatih: Ronald Koeman.
 
Maroko (4-2-3-1): 1-Yassine Bounou (g); 2-Achraf Hakimi ©, 4-Sikou Niakaté Diop, 15-Chadi Riad, 3-Noussair Mazraoui; 8-Neil El Aynaoui, 18-Ayyoub Bouaddi; 10-Brahim Diaz, 7-Azzedine Ounahi, 23-Bilal El Khannouss; 11-Ismael Saibari.
Pelatih: Nabil Ouahbi.

Editor : Johan Panjaitan
#de oranje #piala dunia #maroko #belanda #duel panas