Ferran Torres Pecah Kebuntuan, Spanyol Taklukkan Argentina dan Rebut Mahkota Piala Dunia 2026

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 08:35 WIB
Penyerang Spanyol Ferran Torres merayakan gol pertama timnya dalam pertandingan final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina di East Rutherford, New Jersey, dekat New York, Minggu, 19 Juli 2026. (Foto AP/Julio Cortez)
Penyerang Spanyol Ferran Torres merayakan gol pertama timnya dalam pertandingan final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina di East Rutherford, New Jersey, dekat New York, Minggu, 19 Juli 2026. (Foto AP/Julio Cortez)

 

NEW JERSEY, Sumutpos.jawapos.com – Penantian 16 tahun Spanyol untuk kembali berdiri di singgasana sepak bola dunia akhirnya berakhir. La Roja memastikan diri menjadi juara Piala Dunia 2026 usai menumbangkan Argentina 1-0 melalui babak extra time dalam laga final yang berlangsung dramatis di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) WIB.

Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 menjadi pembeda dalam duel dua kekuatan besar dunia. Penyerang Barcelona itu muncul sebagai supersub, memecahkan kebuntuan setelah 105 menit pertahanan Argentina tak kunjung runtuh.

Kemenangan tersebut menghadirkan gelar Piala Dunia kedua bagi Spanyol setelah sukses pertama pada 2010, sekaligus mengakhiri perjuangan heroik Argentina yang harus bermain dengan 10 orang sejak akhir waktu normal akibat kartu merah Enzo Fernandez.

La Roja Menguasai Irama Sejak Peluit Awal

Final berlangsung sesuai prediksi. Spanyol langsung mengambil kendali permainan melalui penguasaan bola dan sirkulasi umpan cepat yang menjadi ciri khas mereka di bawah Luis de la Fuente.

Baca Juga: Michael Olise Lewati Rekor Assist Pele, Ukir Sejarah Baru di Piala Dunia 2026

Lamine Yamal, Nico Williams, Dani Olmo, hingga Alex Baena terus menggempur pertahanan Argentina yang dikawal Cristian Romero dan Lisandro Martinez.

Peluang emas pertama hadir ketika laga baru berjalan lima menit. Bola liar di depan gawang disambar Lamine Yamal, tetapi Emiliano Martinez menunjukkan refleks luar biasa untuk menggagalkan peluang tersebut.

Sebaliknya, Argentina lebih banyak dipaksa bertahan. Lionel Messi nyaris tak mendapat ruang untuk menerima bola di area berbahaya karena lini tengah Spanyol tampil disiplin memutus aliran permainan.

Dominasi La Roja begitu terasa. Hampir setengah pola serangan mereka dibangun dari sisi kanan lewat kombinasi Pedro Porro dan Lamine Yamal yang terus mengeksploitasi sektor kiri pertahanan Argentina.

Meski menguasai jalannya laga, Spanyol belum mampu mengubah dominasi menjadi gol. Babak pertama berakhir tanpa skor.

Messi Dikunci, Argentina Kehilangan Pilar

Tekanan tanpa henti membuat Argentina kesulitan keluar dari kepungan lawan.

Messi bahkan nyaris tak terlihat sepanjang babak pertama. Sang kapten hanya beberapa kali menyentuh bola di area berbahaya karena rapatnya organisasi permainan Spanyol.

Baca Juga: Ragam Tingkah Norak Orang yang Sok High Class; dari Terlalu Formal hingga Suka Kosakata Rumit

Situasi semakin rumit ketika Lisandro Martinez mengalami cedera menjelang turun minum setelah sebelumnya menerima kartu kuning. Lionel Scaloni terpaksa memasukkan Nicolas Otamendi untuk menjaga keseimbangan lini belakang.

Meski kehilangan salah satu bek utama, Argentina tetap mampu bertahan hingga jeda.

Emiliano Martinez Menjelma Benteng Terakhir

Babak kedua berubah menjadi panggung Emiliano Martinez.

Spanyol meningkatkan tempo permainan. Alex Baena, Pedri, Dani Olmo, Ferran Torres hingga Aymeric Laporte bergantian menguji ketangguhan penjaga gawang Aston Villa tersebut.

Luis de la Fuente semakin agresif setelah memasukkan Pedri dan Ferran Torres pada menit ke-62. Permainan Spanyol menjadi lebih hidup, sementara Nico Williams yang masuk pada menit ke-75 menghadirkan ancaman lewat kecepatan di sisi sayap.

Namun, semua peluang dimentahkan Emiliano Martinez.

Menjelang berakhirnya waktu normal, Martinez telah mencatat delapan penyelamatan—sebuah performa kelas dunia yang nyaris membawa Argentina menuju adu penalti.

Di sisi lain, lini serang Argentina benar-benar tumpul. Hingga memasuki 70 menit pertandingan, La Albiceleste bahkan belum mampu melepaskan satu pun tembakan.

Drama kemudian terjadi pada masa injury time. Enzo Fernandez menerima kartu merah langsung setelah melakukan tekel keras terhadap Pau Cubarsi.

Baca Juga: Aturan Baru Berlaku, Pengajuan Pelepasan Status WNI Dikenai Biaya Rp5 Juta

Argentina harus menuntaskan laga dengan 10 pemain, tetapi tetap mampu mempertahankan skor imbang 0-0 hingga waktu normal berakhir.

Ferran Torres Menjadi Pembeda

Memasuki babak tambahan, Spanyol terus mengepung pertahanan Argentina.

Nico Williams sempat membobol gawang Emiliano Martinez pada menit ke-95. Namun, gol tersebut dianulir karena Mikel Merino lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap Nicolas Otamendi dalam proses serangan.

La Roja tak mengendurkan tekanan.

Hasilnya datang hanya 37 detik setelah babak kedua extra time dimulai.

Pedro Porro mengirim umpan silang ke tiang jauh yang berhasil dijaga Nico Williams sebelum mengembalikan bola ke depan gawang. Ferran Torres yang berdiri tanpa kawalan langsung menyambar bola dengan sepakan keras ke sudut atas gawang.

Gol pada menit ke-106 itu memecah kebuntuan sekaligus menggetarkan MetLife Stadium.

Torres menorehkan namanya dalam sejarah sebagai salah satu pemain pengganti yang mampu mencetak gol pada final Piala Dunia, mengikuti jejak Andres Iniesta yang membawa Spanyol juara pada 2010.

Perlawanan Terakhir Argentina Tak Berbuah Hasil

Tertinggal satu gol, Argentina mengerahkan seluruh pemain untuk menyerang.

Messi sempat menciptakan ancaman lewat bola mati, sementara peluang terbaik Albiceleste berhasil digagalkan aksi heroik Mikel Merino yang memblok bola dengan wajahnya.

Pada menit-menit akhir, pasukan Lionel Scaloni terus menekan demi memaksakan adu penalti. Namun, disiplin lini belakang Spanyol membuat semua upaya itu berakhir sia-sia.

Peluit panjang akhirnya berbunyi.

Spanyol resmi menjadi juara dunia untuk kedua kalinya. Dominasi sepanjang pertandingan berbuah gelar yang layak mereka raih, sementara Argentina harus puas menjadi runner-up meski menunjukkan daya juang luar biasa hingga detik terakhir.

Di malam ketika Emiliano Martinez tampil nyaris sempurna dan Lionel Messi berjuang hingga akhir, satu nama akhirnya mengukir sejarah. Ferran Torres datang dari bangku cadangan, memecahkan kebuntuan, lalu mengantar La Roja kembali ke puncak sepak bola dunia.(jpc/han)

Editor : Johan Panjaitan
dramatis ferran torres piala dunia 2026 argentina Spanyol