Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Hindari 7 Perkataan Ini agar Tidak Merusak Kepercayaan Diri Anak Seumur Hidup

Johan Panjaitan • Kamis, 31 Juli 2025 | 13:00 WIB
ILUSTRASI: Seorang anak yang sering mendapat teguran daro oragtuanya akan berdampak buruk terhadap masa depan anak.
ILUSTRASI: Seorang anak yang sering mendapat teguran daro oragtuanya akan berdampak buruk terhadap masa depan anak.

Sumutpos.jawapos.com-Mengasuh dan membesarkan anak adalah tanggung jawab besar yang penuh tantangan. Setiap orangtua memiliki caranya masing-masing, namun dalam praktiknya, kesalahan bisa saja terjadi—terutama dalam bentuk ucapan yang tampaknya sepele, tetapi berdampak besar pada kesehatan mental dan kepercayaan diri anak.

Psikolog menyebut bahwa beberapa ungkapan yang sering diucapkan secara spontan dapat membekas dalam ingatan anak dan merusak harga diri mereka hingga dewasa. Menyadari hal ini penting agar orangtua bisa lebih bijak dalam memilih kata-kata saat berinteraksi dengan anak.

Berikut tujuh perkataan yang sebaiknya dihindari karena dapat merusak kepercayaan diri anak:

1. “Mengapa Kamu Tidak Seperti…”
Membandingkan anak dengan saudara kandung, teman, atau anak lain akan menimbulkan rasa rendah diri dan tekanan. Alih-alih termotivasi, anak justru merasa tidak cukup baik. Sebaiknya, fokuslah pada potensi unik anak dan bantu mereka mengembangkannya tanpa tekanan perbandingan.

2. “Jangan Terlalu Sensitif”
Ucapan ini memberi kesan bahwa perasaan anak tidak valid atau tidak penting. Jika terus-menerus mendengar ini, anak akan cenderung menekan emosinya dan menjadi tidak jujur terhadap apa yang mereka rasakan. Orang tua sebaiknya memberikan ruang aman bagi anak untuk mengungkapkan emosi secara sehat.

3. “Mengapa Kamu Tidak Bisa Melakukan Sesuatu dengan Benar?”
Kalimat ini dapat menghancurkan rasa percaya diri anak dan membuat mereka merasa gagal. Fokuslah pada usaha, bukan hanya hasil. Dukung anak dengan kata-kata yang membangun semangat dan puji usaha mereka, bukan semata-mata prestasinya.

4. “Aku Tidak Punya Waktu untuk Ini”
Menolak perhatian anak dengan alasan tidak punya waktu bisa membuat mereka merasa diabaikan atau dianggap beban. Sebaiknya, komunikasikan dengan jujur keterbatasan waktu yang ada dan yakinkan anak bahwa perasaannya tetap penting bagi Anda.

5. “Kamu Selalu Menghalangi” atau “Jangan Ikut-Ikut!”
Saat anak ingin terlibat dalam aktivitas Anda, menolak dengan kalimat kasar dapat membuat mereka merasa tidak diinginkan. Sampaikan dengan lembut bila Anda butuh ruang, dan pastikan anak merasa tetap dicintai dan diterima.

6. “Kamu Sangat Pintar”
Meskipun terdengar positif, pujian berlebihan terhadap kepintaran bisa membuat anak takut mencoba hal baru karena takut gagal dan kehilangan label "pintar". Lebih baik puji usaha dan proses belajar mereka, agar anak tumbuh dengan mentalitas berkembang (growth mindset).

7. “Jangan Menangis”
Melarang anak menangis sama saja dengan menyuruh mereka menekan emosinya. Padahal, menangis adalah bentuk ekspresi yang wajar. Alih-alih menyuruh berhenti, dampingi anak dan bantu mereka mengenali serta mengelola emosinya dengan cara yang sehat.

Menghindari ketujuh perkataan di atas bukan berarti harus sempurna sebagai orang tua, melainkan menjadi lebih sadar dalam berkomunikasi. Kata-kata yang penuh empati dan dukungan akan menjadi fondasi kuat bagi perkembangan emosional dan psikologis anak.

Karena dalam proses tumbuh kembang, apa yang anak dengar dari orang tuanya bisa membentuk keyakinan, harga diri, bahkan masa depan mereka. Maka, gunakan kata-kata yang membangun—bukan yang menghancurkan.(bbs/han)

Editor : Johan Panjaitan
#ucapan #Kesehatan Mental #MENGASUH #orangtua