MEDAN, SUMUTPOS.CO -Dinas Perhubungan Sumut menyambut baik peluncuran sistem penerbitan izin online angkutan dan multimoda (Spionam), e-ticketing, dan e-tilang oleh Menhub Budi Karya Sumadi, Minggu (4/3).
Sekretaris Dishub Sumut Darwin Purba mengatakan, kebijakan ini sebagai wujud transformasi memaksimalkan urusan perizinan ke sistem online. Ia mengaku belum ada perintah langsung dari pusat untuk menindaklanjuti ketiga sistem perizinan online tersebut.
"Mungkin lebih kepada misalnya pelabuhan, bandara atau kereta api. Untuk aplikasi e-Ticketing itu sebenarnya sudah ada (berlaku)," katanya kepada Sumut Pos, Senin (5/3).
Untuk e-Tilang dijelaskan Darwin, sampai kini memang belum ada. Bahkan di kepolisian sudah bukan lagi memakai sistem tersebut, melainkan tinggal meng-capture setiap pelanggaran yang terjadi di jalan. "Kemungkinan (e-Tilang) itu untuk di timbangan. Tapikan timbangan ini sekarang (wewenang) sudah di pusat. Nah, khusus izin online angkutan dan multimoda (Spionam) itu baru ada di pusat," kata Darwin.
Dukungan Pemprovsu terhadap sistem online di segala sisi ini, kata dia, sudah ditindaklanjuti bahkan diaplikasikan. Salah satu contoh semua perizinan sudah bisa diurus online ke Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
"Malahan di dinas itu sudah duluan. Artinya, mendaftar itu sudah via online. Sekarang semua di sana. Kami tinggal rekomendasi teknis saja. Dan tim kami ada sebagian di dinas itu. Jadi kami sambut baik peluncuran tiga aplikasi tersebut," pungkasnya.
Sementara, Anggota DPRD Sumut Nezar Djoeli mendukung penerbitan ketiga sistem perizinan online yang diluncurkan Kemenhub tersebut. Menurutnya, hal itu sangat bagus dalam rangka melaksanakan roda pemerintahan Jokowi-JK. "Inikan salah satu nawacita Pak Jokowi. Terlebih lagi sangat berkembang pesatnya pertumbuhan transportasi online di Indonesia yang mengakibatkan banyaknya fenomena alam yang terjadi terhadap transportasi online," kata Nezar Djoeli.
Akan tetapi, bilang politisi NasDem ini, yang menjadi persoalannya bukan masalah spionam yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi persoalan yang ada. Karena faktor pendukung dari regulasi peraturan yang diciptakan tersebut masih belum memadai. Tetapi prinsipnya, melalui sistem online ini akan mempermudah kinerja semua orang, baik dari pengguna jasa maupun penyedia jasa.
"Seperti contohnya oknum-oknum yang ditugaskan untuk pengoprasian sistem ini di lapangan, apakah sudah diberikan pelatihan ataupun sejenisnya dalam menangani sebuah persoalan nantinya," ujarnya.
Dia menuturkan, masih banyak yang perlu dibenahi dari penerapan sistem online untuk ketiga aplikasi tersebut. Seperti persoalan transportasi online yang sampai sekarang masih belum teratasi dengan baik.
"Ya, saya rasa masih banyak yang harus dibenahi terutama Kemenkominfo yang mengeluarkan izin untuk aplikator tentang segala sesuatunya. Nah, di sinilah pemerintah harus berpihak ke rakyat. Pada prinsipnya saya setuju," katanya.
Pengamat transportasi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Medis Surbakti mendukung langkah atau terobosan yang dilakukan Kemenhub dengan meluncurkan 3 sistem aplikasi layanan berbasis online. Menurutnya, sistem tersebut sangat baik sekali dalam upaya memaksimalkan pelayanan bagi masyarakat. "Adanya sistem layanan online tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah pusat dalam hal ini Kemenhub terhadap pelayanan kepada masyarakat. Dengan begitu, dapat memberi kemudahan bagi masyarakat sebab tidak perlu repot-repot untuk datang lagi ke kantor instansi terkait," ungkap Medis yang dihubungi, Senin (5/3).
Diutarakannya, namun demikian dalam penerapan sistem tersebut harus ada transparansi, sehingga masyarakat dapat mengetahui. "Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu dilakukan yaitu sosialisasi. Pemerintah harus gencar mensosialisasikan terobosan tersebut agar berjalan maksimal," tutur Medis.
Ia menyebutkan, sosialisasi dapat dilakukan di lembaga terkait dengan layanan berbasis online tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat tahu sehingga ke depan dapat melakukan pengurusan secara online. "Sosialisasi juga dapat dilakukan melalui media massa. Tak hanya itu, di tempat-tempat umum yang menjadi pusat keramaian bisa dilakukan juga," sebutnya.
Sementara, pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, menjadikan IT sebagai user interface memang sudah menjadi kebutuhan saat ini. Untuk itu, patut diapresiasi upaya yang dilakukan oleh Kemenhub. Walaupun begitu, menggunakan IT sebagai sarana bukan sepenuhnya akan terbebas dari sejumlah resiko. Katakanlah masalah keandalan infrastruktur yang dimiliki.
Belum lagi terobosan ini juga harus disosialisasikan kepada masyarakat agar semuanya mengetahui sehingga proses perizinan maupun bentuk pelayanan lainnya akan menjadi lebih mudah. "Ada begitu banyak manfaat yang bisa diambil dalam terobosan seperti ini, kualitas tentunya mengalami peningkatan. Walaupun di sisi lain memiliki dampak negatif dalam hal penggunaan sumber daya manusia. Namun, yang perlu disadari adalah sistem juga punya kelemahan. Jadi kita harapkan Kemenhub mampu menjaga keandalan sistem yang dibangun sehingga tidak menimbulkan masalah manakala semua masyarakat sudah bergantung," paparnya.
Menurut Gunawan, dengan penerapan sistem itu daya saing sudah pastinya akan mengalami peningkatan. Akan tetapi, lagi-lagi sosialisasi penggunaan sistem ini juga harus massif. "Bukan hanya di kalangan pegawai Kemenhub saja, masyarakat juga perlu tahu seperti E-Ticket dan E-tilang. Untuk E tilang, masyarakat pengguna transportasi harus tahu benar bagaimana menyelesaikan masalah saat kena tilang," cetusnya.
Ia mengharapkan, jangan ada lagi transaksi dilakukan di lapangan. Tetapi semuanya transparan dengan lebih mengedepankan penggunaan layanan aplikasi tersebut. "E-Ticket juga penting, jadi tidak ada agi antrian panjang yang tak penting serta menghindarkan masyarakat dari calo yang kerap memasarkan tiket. Dengan sistem ini, diharapkan ada pertumbuhan kualitas pelayanan," ucapnya.
Gunawan menambahkan, diharapkan kehadiran layanan berbasis aplikasi ini juga mampu memangkas biaya logsitik dan membuat industri di perhubungan bisa ditingkatkan. "Kita mengharapkan ada multiplier efek yang optimal setelah aplikasi ini dijalankan. Sepenuhnya benar-benar dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat, terlebih perusahaan jasa transportasi," imbuhnya.
Sebelumnya, Menhub Budi Karya Sumadi usai membuka sekaligus meluncurkan ketiga sistem tersebut menyampaikan bahwa Indonesia harus meningkatkan daya saing secara internasional dengan membina sendi-sendi pelayanan. "Seperti yang dikatakan Pak Menpan bahwasanya Indonesia harus meningkatkan daya saing secara internasional. Nah oleh karenanya kita ingin sekali membina sendi-sendi pelayanan. Sendi-sendi bisnis yang ada di Indonesia agar kita bisa melaksanakan dengan baik dan daya siang Indonesia akan meningkat. Dan dengan kenaikan daya saing itu InsyaAllah kita akan berikan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat banyak," ujarnya di arena Car Free Day, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Budi menambahkan, peluncuran Spionam, e-ticketing, dan e-tilang supaya masyarakat tidak kesulitan mengurus administrasi dari satu tempat ke tempat lainnya. "Hari ini launching di akukan di beberapa kegiatan yang menarik. Di mana e-ticketing yang selama ini sulit dilaksanakan oleh satu orang ke satu tempat ke tempat yang lain Insya Allah ini dengan mudah memberikan kemudahan itu," terangnya.
Masih kata Budi, penerbitan Spionam dalam rangka mewujudkan sembilan program Nawa Cita pemerintah yaitu membangun tata kelola pemerintan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya. (prn/ris/adz) Editor : Admin-1 Sumut Pos