LABUHANBATU, SUMUTPOS.CO - Ketua Partai Amanah Nasional (PAN) Labuhanbatu, Khajali mengaku terhibur dengan pagelaran Kuda Lumping atau Jaran Kepang (Jarkep) Turunggo Satrio Budoyo di lapangan Dano Bale A, Kecamatan Rantau Selatan, Labuhanbatu, Sabtu (2/11/2024) malam.
Menurut Anggota DPRD Labuhanbatu ini, kesenian tradisional etnis Jawa itu sangat memberi panggung hiburan buat warga lokal setempat. Apalagi, dilaksanakan pada malam liburan anak sekolah.
"Pagelaran Jarkep pelestarian budaya dan kesenian Jawa. Cukup memberi hiburan rakyat," ujarnya.
Sementara itu, Pembina Jaran Kepang (Jarkep) Turunggo Satrio Budoyo, DR H Freddy Simangunsong, MBA mengaku kelompok kesenian Jarkep mereka sudah masuk kategori terlengkap dari segi aksesoris dan peralatan sebagai kelompok Jarkep.
Sebab, selain memiliki beberapa Kuda Lumping, barong Macan dan Singa, tari topeng dan kelengkapan alat musik. Kelompoknya, aku Freddy juga melakukan kolaborasi Jarkep dengan Reog Ponorogo.
"Kita kelompok Jarkep yang modern. Bahkan memadukan Jaranan dengan Reog. Selain menampilkan Jarkep juga Kita tampilkan topeng raksasa Reog," ungkapnya di pagelaran yang dihadiri tak kurang 500-an massa.
Sedangkan Sekretaris Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) Labuhanbatu, Budiono mengaku ada tiga pesan yang ada dalam permainan jaran kepang.
"Bahwa jangan alergi dengan pendapat yang menyatakan Jarkep itu tontonan sesat. Jangan alergi. Jarkep adalah tontonan, tapi di dalamnya ada tuntunan," katanya.
Menurutnya, dahulu Sunang Kali Jogo, selain buat wayang, juga buat jaran kepang. Untuk berdakwah, mengingatkan kita semua. Kalau suatu saat anak-anak ini berkesempatan jadi orang kaya, berkesempatan jadi berdakwah.
"Jadi pejabat, jangan pernah lupa diri. Makanya dalam jaran kepang itu ada tari perang. Kalau penarinya sudah lupa diri, dia nggak lagi punya malu. Kita harus tetap menjaga kesadaran diri. Itu pesan pertama dari kuda kepang," imbuhnya.
Budiono mengatakan Sunan Kali Jogo menfasirkan ayat Alquran Surat Al-‘Adiyat yang artinya Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, yang memercikkan bunga api (dengan entakan kakinya), yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi, sehingga menerbangkan debu.
"Kuda Lumping adalah tarian kuda perang yang kudanya begitu mewah. Pakaiannya begitu mewah. Selain tontonan Kuda Kepang juga punya tuntunan hidup," ujarnya.
Tapi, kata Budiono untuk para anak yang ikut nonton Jaran Kepang, agar mengingat sampai besar nanti, bahwa hari ini yang disajikan adalah hiburan yang menggembirakan.
"Nanti kalau sudah besar, punya jabatan, punya harta banyak, hadirlah di tengah masyarakat dengan memberikan kegembiraan. Karena manusia yang terbaik adalah manusia yang bermanfaat buat orang lain," paparnya.
Dan Budiono juga mengatakan makna tari Topengnya punya simbol pandainya manusia menyembunyikan sesuatu di kehidupan ini. Dan pesan dari Sunan Kalijogo adalah, jangan pernah tertipu dengan kehidupan dunia yang sebenarnya serba palsu.
"Nikmati lah lewat tari topeng, setiap orang yang nonton diminta untuk mengenali dirinya sendiri. Karena barang siapa mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya. Sunan Kalijogong menghadirkan tari topeng supaya kita jangan terkecoh, jangan gampang tertipu dengan kepalsuan-kepalsuan yang disajikan di hamparan dunia ini," tandasnya.
Pada pementasan Jarkep Turunggo Satrio Budoyo, tampak dihadiri Calon Wakil Bupati (Cawabup) Labuhanbatu nomor 3, Ellya Rosa Siregar yang tampak berbaur dengan masyarakat lokal setempat. (fdh/tri)
Editor : Redaksi