NISEL, SUMUTPOS.CO- Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia dan Wabup Ir.Yusuf Nache,ST, MM, inspeksi mendadak (Sidak) di Dinas Kesehatan (Dinkes) menemukan dua Mesin mobil ambulans raib, sementara lainnya dalam keadaan rusak.
Sidak yang dilakukan Bupati Sokhiatulo Laia dan Wabup Yusuf Nache di dinas Kesehatan, terkait viralnya di media sosial peristiwa jenazah seorang pasien dari Puskesmas Lolomatua diangkut menggunakan becak bermotor karena mobil ambulans Puskesmas dalam keadaan rusak.
Bupati Nias Selatan, Sokhiatulo Laia saat diwawancarai sejumlah wartawan usai sidak, menyampaikan bahwa tujuan kedatangan mereka yaitu salah satunya meninjau mobil ambulans yang rusak terparkir di area Dinkes.
"Setelah mengecek mobil ambulans, terdapat dua unit tidak ada mesin dan begitu juga beberapa sparepart, seperti gerdang, pelak dan as tarek dan sparepart lainnya hilang", ujar Sokhiatulo Laia.
Atas kehilangan tersebut, Bupati Sokhiatulo Laia dengan tegas mengintruksikan kepada Kadis Dinkes untuk di usut dan segera dilaporkan kepada pihak aparat penegak hukum.
"Bagi siapa yang bermain-main atau terlibat dalam permasalahan ini, harus di proses secara hukum yang berlaku di NKRI", tegas Bupati.
Hal senada juga Wabup Nisel, Yusuf Nache mengatakan bahwa seandainya ada yang terlibat dalam hal ini harus diproses, dan juga pihaknya menunggu hasil sesuai pengakuan kadis bahwa masalah ini akan dilaporkan kepada aparat penegak hukum.
"Kalau ada yang terkait atau terlibat pihak Dinkes tentu ada aturan dan regulasi yang mengatur hal ini. Kami akan menunggu hasil dari kadis atas koordinasi dengan pihak aparat penegak hukum", ujar Yusuf Nache.
Sementara, Kadis Kesehatan dr. Henni K. Duha mengatakan mesin dan sparepart mobil ambulance tersebut di pelataran parkir baru mengetahui pada bulan Februari 2025.
"Mohon maaf memang kami baru tahu bulan Februari 2025, dan sudah dipanggil para satpam untuk mendapatkan informasi, siapa tau mereka melihat dimana keberadaan sparepart dan mesin itu atau siapa yang mencuri, membongkar atau dibawa kemana. Dan kasus ini segera mungkin akan membuat laporan ke Polres Nisel", kata Heni.
Mengenai CCTV, lanjut dr. Heni, pihaknya tidak sempat memasang di bagian luar gedung hanya terpasang di dalam ruangan.
"Jadi orang -orang yang kita curigai pihaknya tidak bisa melihat siapa saja mobilisasi di area parkiran Dinas Kesehatan", ucapnya.
Menurutnya, terkait pemeliharaan pihaknya sudah punya anggaran tetapi dengan 29 unit ambulans dengan anggaran hanya Rp200 juta setahun tidak bisa diakomodir semuanya.
"Tetapi kembali kepada para pemakai bagaimana mereka menjaganya, kemudian kalau kami disalahkan terkait mobil ambulans dikembalikan ke dinas Kesehatan dalam keadaan rusak berat, dan ada sebagian di bawa ke bengkel, kemudian rusak lagi. Dan akhirnya mobil ambulans yang telah rusak berat", ungkap Heni.
Begitu juga diakui Heny belum melaporkan kondisi ambulans kepada bupati sebelumnya hingga tidak membuat laporan ke polisi.
Anggota DPRD Kabupaten Nias Selatan dari Partai PDIP, Gedonisius Maduwu, SE menyoroti buruknya pelayanan dinas kesehatan terhadap masyarakat. Seperti yang terjadi belakangan ini, hanya karena alasan mobil ambulans rusak, terpaksa jenazah pasien yang meninggal di salah satu Puskesmas terpaksa diangkut dengan menggunakan becak motor barang untuk diantarkan ke rumah duka.
"Secara pribadi, saya merasa kecewa terhadap dinas kesehatan nisel tidak menjaga aset yang telah dibelanjakan dengan menggunakan uang rakyat. Hanya tau menggunakan kemudian tidak tau merawat", ucap Maduwu. Kamis (10/4)
Ia menambahkan, bahwa mengenai permasalahan banyaknya mobil ambulans yang terduduk atau rusak, sebagian mesin dan sparepart hilang di area parkiran Dinkes Nisel, dalam waktu dekat Komisi II DPRD Nias Selatan akan memanggil Kadis Kesehatan dan pihak terkait serta seluruh kepala Puskesmas akan mengadakan rapat dengar pendapat (RDP).
Kepala Bidang Aset BPKPD Nisel, Robert A. Pasaribu ketika dikonfirmasi pada Kamis (10/4), mengatakan bahwa masalah ambulans dalam penggunaannya atau pencatatan aset menjadi tanggungjawabnya masing-masing OPD.
"Tugas bidang aset BPKPAD Nisel bukan menjaga barang setiap OPD tetapi mengkoordinasikan, membantu dalam hal mencatat, dan mengusulkan untuk penghapusan melalui lelang", ujar Robert Pasaribu.
Terkait mobil ambulans Dinas Kesehatan, sesuai permohonan mereka untuk dihapuskan atau dilelang, pihaknya telah mendatangkan pejabat penilai dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dari Kementrian Keuangan. Dan itu sudah dinilai pada pertengahan tahun 2024.
Jadi, kemarin di awal tahun 2025 pihaknya menerima laporan dari Dinas Kesehatan secara lisan bahwa beberapa unit mesin dan sparepart mobil ambulans hilang. Atas laporan tersebut pihaknya langsung meninjau lokasi, dan menebarkan informasi tersebut bahwa sebagian mesin dan sparepart mobil ambulans sudah hilang.
"Atas kejadian tersebut, melihat kondisi kendaraan tidak utuh lagi tentunya menghambat, dan tidak bisa masuk daftar lelang lagi. Kalau kita paksakan dihanguskan atau lelang sama saja bunuh diri, karena kondisi kendaraan tidak seperti penilaian KPKNL pertengahan tahun 2024,"terang Robert. (mag-8/han)
Editor : Johan Panjaitan