STABAT, Sumutpos.jawapos.com-Suasana haru menyelimuti rumah duka di Jalan Lintas Binjai–Stabat, Gang Family, Desa Karang Rejo, Jumat (14/11/2025), saat jenazah Argo Prasetyo (25) tiba setelah lebih dari 46 hari menunggu proses pemulangan dari Kamboja. Isak tangis keluarga dan warga memecah keheningan begitu suara sirene ambulans terdengar dari kejauhan.
Jenazah Argo, pekerja migran Indonesia (PMI) yang diduga menjadi korban kekerasan di Kamboja, sebelumnya tiba di Kargo Bandara Kualanamu sekitar pukul 09.00 WIB. Peti jenazah dijemput keluarga bersama Anggota DPD RI Pdt Penrad Siagian dan Anggota DPRD Langkat Matthew Diemas Bastanta.
“Argo Prasetyo meninggal dunia di Kamboja akibat kekerasan yang dialaminya. Proses pemulangan cukup panjang, tetapi akhirnya bisa kita bawa kembali ke tanah air,” ujar Pdt Penrad Siagian.
Proses Panjang Pemulangan Jenazah
Penrad menjelaskan, kabar meninggalnya Argo diterima lebih dari sebulan lalu. Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kemenlu dan KBRI Kamboja untuk mengurus pemulangannya. Namun karena almarhum berstatus PMI ilegal, proses administrasi menjadi lebih rumit.
“Ini sangat memprihatinkan. Kami berharap masyarakat jika ingin bekerja ke luar negeri, lakukan secara legal agar hak dan perlindungannya terjamin,” tegas Penrad.
Ia juga meminta pemerintah memperketat pengawasan keberangkatan PMI agar kasus serupa tidak terulang. “Jika ilegal, mereka tidak mendapat perlindungan dan rentan mengalami kekerasan,” lanjutnya.
Tangis Keluarga Pecah Saat Jenazah Tiba
Begitu ambulans memasuki halaman rumah duka, keluarga langsung histeris. Peti jenazah kemudian diangkat masuk ke rumah untuk disalatkan sebelum dikebumikan setelah Salat Jumat.
Matthew Diemas Bastanta menambahkan, proses pemulangan Argo berawal dari adik korban yang menghubungi staf Pdt Penrad Siagian. “Setelah berkomunikasi dengan Kemenlu dan KBRI, akhirnya ada titik terang hingga pemulangan dijadwalkan hari ini,” katanya.
Keluarga Sampaikan Terima Kasih dan Permintaan Maaf
Ega Prasetya, adik almarhum, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada Pdt Penrad Siagian.
“Terima kasih kepada pemerintah, Disnaker Langkat, BP3MI, Kemenlu, KBRI, teman-teman, dan terutama Pdt Penrad Siagian yang sudah membantu kepulangan abang saya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidup Argo memiliki salah atau khilaf. Ega sempat menyinggung adanya seorang donatur yang membantu biaya pemulangan, namun enggan menyebutkan namanya.
“Alhamdulillah, abang saya akhirnya bisa dimakamkan di kampung halamannya. Saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi,” ujarnya.
Jenazah Argo Prasetyo kemudian dimakamkan di pemakaman setempat dengan disaksikan keluarga, kerabat, dan masyarakat yang sejak pagi memadati rumah duka.(ted/han)
Editor : Johan Panjaitan