Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Aksi Heroik Kapolsek Pangkalanbrandan: Evakuasi Masyarakat dengan Rakit Batang Pisang di Tengah Deras Arus Banjir

Johan Panjaitan • Minggu, 7 Desember 2025 | 15:03 WIB
Istimewa/Sumut Pos Kapolsek Pangkalanbrandan, AKP Amrizal Hasibuan saat evakuasi masyarakat korban banjir dengan rakitan batang pohon pisang. (ISTIMEWA/SUMUT POS)
Istimewa/Sumut Pos Kapolsek Pangkalanbrandan, AKP Amrizal Hasibuan saat evakuasi masyarakat korban banjir dengan rakitan batang pohon pisang. (ISTIMEWA/SUMUT POS)

Polri dengan tugas memberi perlindungan kepada masyarakat hadir di tengah musibah banjir yang melanda wilayah Teluk Aru, Kabupaten Langkat. Kapolsek Pangkalanbrandan, AKP Amrizal Hasibuan turun di tengah banjir dengan arus yang deras  untuk melakukan evakuasi masyarakat.

Oleh: Teddy Akbari, Langkat

Sebagai anggota Polri, seorang Bhayangkara tidak hanya bertugas dalam penegakan hukum. Polri memiliki moto Rastra Sewakotama dengan arti: abdi utama bagi nusa bangsa.

Moto itu ditanamkan oleh Amrizal yang terus hadir di tengah masyarakat sebagai anggota Polri. Pria kelahiran di Kota Binjai tahun 1976 lalu itu, turun menyelamatkan masyarakat yang terjebak banjir bermula dari keluhan seorang wanita atas nama Ulfa yang membutuhkan pertolongan, datang ke Markas Komando Polsek Pangkalanbrandan, Kamis (27/11/2025) lalu.

Saat itu, Amrizal dan sejumlah personel sudah siaga di Mapolsek Pangkalanbrandan. "Waktu itu, saya sudah stand by di komando, Mapolsek Pangkalanbrandan, yang mana sebelumnya kita juga sudah berjibaku 1x24 jam, saya di kantor bersama anggota," ungkap Amrizal dalam wawancara di ruang kerjanya, akhir pekan kemarin.

Hujan deras saat itu tengah mengguyur wilayah Teluk Aru meliputi Kecamatan Besitang, Pangkalansusu, Sei Lepan, Babalan hingga Brandanbarat. Bahkan, Mapolsek Pangkalanbrandan pun sudah terendam banjir.

Kapolsek Pangkalanbrandan, AKP Amrizal Hasibuan saat diwawancarai di ruang kerjanya. (Teddy Akbari/Sumut Pos)
Kapolsek Pangkalanbrandan, AKP Amrizal Hasibuan saat diwawancarai di ruang kerjanya. (Teddy Akbari/Sumut Pos)

"Saat stand by, gak berapa lama datang perempuan menyampaikan bahwasanya mamaknya belum terevakuasi. Rumah mereka jaraknya dari jalan raya itu lumayan jauh, di Gang Sekata," ungkap Amrizal.

Banjir saat itu sudah merendam wilayah hukum Polsek Pangkalanbrandan, meliputi Kecamatan Sei Lepan, Babalan dan Brandanbarat. Debit air dengan ketinggian lebih dari dada orang dewasa.

Amrizal yang mendapat keluhan masyarakat, langsung responsif bergerak memberi pertolongan. Tanpa basa-basi, Amrizal menuju lokasi bersama anggota untuk menolong masyarakat korban banjir yang terjebak.

Baginya, lokasi yang menjadi titik evakuasi itu sudah dipahaminya. "Saya langsung ajak anggota, kami berangkat menyusuri jalanan yang sudah tergenang air di atas lutut bersama beberapa teman saya," ujar Amrizal.

Saat berjalan menuju lokasi, Amrizal bertemu dengan tetangganya yang bernama Dedek dan sekaligus mengajaknya untuk bantu evakuasi masyarakat. Namun oleh Dedek, juga mengajak evakuasi terhadap masyarakat lain yang menjadi korban banjir dengan kondisi sama, terjebak di tengah arus yang deras.

"Pak Dedek pakai baju hitam di dalam video, itu tetangga saya sebelah rumah. Saya ajak Pak Dedek dan diajak juga ikut bantu evakuasi masyarakat yang terjebak di tengah banjir di Gang Dodol. Dedek sering di laut jadi paham dan makanya saya ajak dia," ungkap Amrizal.

Amrizal dan anggota beserta Dedek mulanya hanya berbekal tutup fiber ikan berangkat menuju lokasi. Menuju ke titik masyarakat yang terjebak banjir bukan lah mudah.

"Di Gang Damai, arus terlalu deras untuk menuju Gang Sekata, sehingga kami naik ke atas rel agak daratan tinggi, kami susuri rel, kami cari arus yang agak tenang, baru kami dari situ berenang menuju Gang Sekata," sambung Amrizal.

Pun begitu, rintangan kembali dilalui. Dengan niat menjalankan misi kemanusian, semangat Amrizal dan Dedek beserta anggotanya tidak kendur.

Niat baik Amrizal dimudahkan oleh tuhan yang maha esa dengan menemukan setumpuk batang pohon pisang beserta talinya di tengah arus banjir yang cukup deras. "Di saat situasi (arus) semakin deras, kami menemukan beberapa batang gedebuk pisang, jadi kebetulan ada juga tali-tali di situ, ya kebetulan mungkin Allah memberi petunjuk, tuhan memberi petunjuk, lalu kami ikat. Kami rakit supaya kuat dan tutup fiber kami letak di atasnya, mana tau ada yang perlu dievakuasi menggunakan itu," beber Amrizal.

Arus deras banjir itu bukan halangan bagi Amrizal. Sebagai pria yang lahir Binjai dengan masa kecil bermain dan mandi di Sungai Bingai, Limau Sundai, Binjai Barat, adalah pengalaman berharganya.

Kebiasaan sejak dini Amrizal berenang melawan di Sungai Bingai juga mengantarkannya sebagai Anggota Polri tahun 1994/1995 lalu. Usai batang pohon pisang disusun menjadi sebuah perahu alakadarnya, Amrizal pun langsung berjalan menyusuri banjir.

"Gak beberapa jauh, kami ketemu korban pertama, sepasang suami-istri, bersama anaknya umur 3 tahun berada di posisi di atas plafon di bawah seng atap," ujarnya.

Evakuasi terhadap korban pertama itu karena jeritan ketakutan mereka yang terjebak banjir dengan ketinggian mencapai 4 meter. Meski niat awal Amrizal dan personel lainnya menolong orang tua Ulfa, hal tersebut tetap dilakukan Amrizal.

Jeritan minta tolong itu tak dapat dihiraukan Amrizal begitu saja. "Kami tolong pasangan suami-istri itu dengan rakit pohon pisang yang kami buat. Setelah itu kami bawa ke tempat yang aman," ujarnya.

Tim Amrizal kembali menyusuri banjir dengan arus deras untuk menolong orang tua Ulfa. Lokasinya di ujung pada gang tersebut.

"Belum lagi sampai, ketemu lagi dengan nenek-nenek pakai tongkat bersama cucunya, di sini lah yang viral itu. Berteriak juga minta tolong cucunya bersama beberapa anaknya yang sudah dewasa. Karena itu, kami tunda lagi ke Gang Sekata untuk membawa nenek tersebut," ujarnya.

Semangat kemanusiaan Amrizal tidak kendur walau di tengah rasa kebingungannya. Sebab, dia mengakui, melakukan evakuasi terhadap masyarakat korban banjir dengan alat seadanya.

"Kalau terjadi apa-apa dengan nenek itu, alam menghukum saya, pasti saya disalahkan, saya sadar waktu itu nyawa saya taruhannya dan juga saya salah karena tidak menggunakan alat yang tidak safety. Tapi saya punya diskresi yang diberikan oleh pimpinan yang ditanamkan oleh Bapak Kapolri, Bapak Kapolda dan Bapak Kapolres, bahwasanya demi kemanusiaan, tindakan apapun harus diambil, walaupun kita tau resiko terpahitnya dapat saja terjadi," bebernya.

"Dengan keyakinan yang sudah ditanamkan pada kami, saya langsung yakinkan nenek itu yang kemudian saat naik ke atas rakit goyangan cukup kencang. Tapi saya yakin dan ternyata tidak ada hambatan. Setelah nenek itu duduk di atas tutup fiber, cucunya naik, tongkat diletak, langsung kami berenang mendorong rakit tadi sampai ke tepian, jaraknya sekitar 200 sampai 300 meter," sambung mantan Kasatres Narkoba Polres Dairi tersebut.

Rasa letih tentu dirasakannya. Namun begitu, dia merasa terpanggil untuk menjalankan tugas kemanusiaan tersebut.

"Ada sekitar 17 korban yang kami selamatkan dan terakhirnya orang tua dari wanita yang datang ke kantor itu, saya penuhi janjinya, rasa kebanggaan yang besar, saya dapat selamatkan masyarakat. Jaraknya paling jauh (orangtua Ufa), paling ujung di Gang Sekata berhasil saya temukan dan saya naikkan, saya bawa dari jalan yang berbeda," ujarnya.

Semangat Amrizal berkobar menjalankan misi kemanusiaan, mengevakuasi masyarakat korban banjir atas dorongan seluruh pihak, terutama Dedek dan anggotanya. Rasa letih badan sejenak hilang atas dorongan semangat mereka untuk mengevakuasi masyarakat.

Dia juga mengucapkan puji syukur, mereka yang dievakuasi dengan alat seadanya selamat. Tidak ada korban jiwa yang tutup usia akibat banjir di wilayah Pangkalanbrandan.

"Setelah kejadian saya cari tau, tidak ada korban. Kami ditanamkan secara turun oleh Bapak Kapolda dan Bapak Kapolres bahwa, keselamatan rakyat adalah tugas kami selaku pengayom, pelayan dan pelindung masyarakat," serunya.

Baginya, musibah ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Dia juga mengajak kepada masyarakat korban banjir di Pangkalanbrandan, untuk kembali bangkit.

"Mari kita sama-sama, bahu-membahu keluar dari masa sulit ini. Polri selaku pengayom, pelindung masyarakat, selalu ada untuk masyarakat," kata dia.

"Jangan sanjung kami, jangan puji kami, beri kami koreksi untuk terus berbenah diri, terus menjadi dewasa untuk masyarakat Indonesia," tukasnya.

Kini kondisi wilayah hukum Polsek Pangkalanbrandan berangsur surut. Jalan Lintas Sumatera Medan-Aceh yang saat musibah tidak dapat dilalui, kini sudah boleh diakses.

Pascabencana, Polri masih terus hadir di tengah masyarakat. Beragam hal yang telah dilakukan Polri.

Mulai dari menyalurkan logistik pangan, sandang hingga memberi semangat untuk menghilangkan rasa trauma masyarakat korban banjir.(ted/han)

Editor : Johan Panjaitan
#evakuasi #polres langkat #Pangkalanbrandan #batang pisang #banjir #kapolsek