MEDAN, SUMUT POS- Para karyawan dan pekerja kontrak di pabrik sendal swallow milik PT Garuda Mas Abadi sangat merasa sedih dengan kejadian yang terjadi pada Selasa (27/1/2026) malam kemarin. Mereka kehilangan mata pencarian untuk menghidupi keluarga.
Diketahui, akibat kebakaran tersebut, seluruh aktivitas produksi lumpuh total. Manajemen perusahaan dalam keterangan sebelumnya memastikan bahwa seluruh karyawan terpaksa dirumahkan karena tidak ada satu pun alat operasional yang dapat digunakan. Seluruh mesin dan fasilitas produksi rusak parah dilalap api.
Salah seorang karyawan, Salma, yang telah bekerja lebih dari 20 tahun di pabrik tersebut, mengaku sangat terpukul dengan kondisi yang terjadi. Baginya, pabrik Sendal Swaloow bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sumber utama penghidupan keluarganya. Terlebih, suaminya hanya memiliki pekerjaan tidak tetap.
“Pabrik ini tempat saya cari nafkah untuk keluarga. Suami saya kerjanya tidak tetap, jadi penghasilan kami banyak bergantung dari sini,” ujar Salma saat ditemui Sumut Pos dirumahnya dengan nada sedih, Jumat (30/1/2026).
Salma mengatakan, pihak manajemen telah menyampaikan bahwa seluruh karyawan akan dirumahkan untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Hal ini disebabkan tidak adanya aktivitas produksi yang bisa dijalankan pasca kebakaran.
“Ya dirumahkanlah, karena nggak ada yang bisa dikerjakan. Jadi kami disuruh menunggu informasi selanjutnya dari manajemen,” ucap ibu anak satu tersebut.
Ia pun berharap pihak perusahaan dapat lebih memperhatikan nasib para pekerja ke depan, terutama terkait hak-hak karyawan. Menurutnya, kondisi ini terasa semakin berat karena sudah mendekati bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
“Saya berharap gaji kami dan hak-hak lainnya tetap diperhatikan oleh manajemen. Apalagi ini sudah mau puasa dan Lebaran,” harap Salma.
Salma juga menjelaskan bahwa dirinya tidak berada di lokasi saat kebakaran terjadi. Ia bekerja pada shift pagi dan telah pulang ke rumah pada siang hari, sehingga sama sekali tidak mengetahui kejadian kebakaran yang terjadi pada malam harinya.
“Saya nggak tahu apa-apa soal kebakaran itu, karena saya masuk pagi dan pulang siang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Salma mengungkapkan bahwa para karyawan sebenarnya baru kembali bekerja sekitar tiga minggu terakhir, setelah sebelumnya sempat diliburkan akibat banjir besar yang melanda Kota Medan pada November 2025 lalu. Namun, harapan untuk kembali bekerja normal harus kembali pupus akibat musibah kebakaran.
“Baru dua minggu kami masuk kerja setelah banjir besar kemarin, sekarang sudah dirumahkan lagi karena kebakaran,” tutupnya.
Hingga kini, para karyawan hanya bisa menunggu kejelasan dari pihak manajemen terkait kelanjutan nasib mereka, sembari berharap ada solusi yang berpihak pada kesejahteraan pekerja yang telah puluhan tahun mengabdi di pabrik tersebut. (san/ram)
Editor : Juli Rambe