GUNUNG TUA, Sumutpos.jawapos.com-Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Padang Lawas Utara (Paluta) kian memuncak, bukan karena pasokan pusat terhenti, melainkan dugaan permainan oknum pengecer dan mafia BBM yang terstruktur rapi. Warga mengaku frustrasi, karena setiap pengisian di SPBU hanya bertahan tiga jam sebelum papan “BBM Habis” terpampang jelas.
Investigasi lapangan mengungkap modus operandi yang merugikan publik. Para pelangsir diduga memanfaatkan siklus bongkar-muat kendaraan secara berulang, memindahkan BBM ke jerigen di lokasi tersembunyi, lalu kembali antre seolah pelanggan baru. Bahkan, sejumlah kendaraan disebut telah dimodifikasi dengan “tangki siluman” untuk menambah kapasitas secara ilegal.
Petugas SPBU pun kerap memberi alasan klasik terkait berkurangnya tonase harian, seperti pernyataan salah satu petugas: “Tonase kita berkurang, bang, hanya 8 ton per hari.” Namun bagi masyarakat, alasan tersebut terasa tidak meyakinkan.
Warga kini menaruh harapan besar pada kepolisian dan pihak terkait untuk menindak tegas pelangsir serta oknum SPBU yang terlibat. “Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar alasan tonase. Jangan biarkan mafia kenyang di atas penderitaan warga yang antre berjam-jam,” keluh Siregar, seorang warga yang gagal mendapatkan BBM pagi tadi.
Krisis energi di Paluta ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem pengawasan BBM, sekaligus membuka pertanyaan besar: sampai kapan masyarakat harus menanggung dampak ulah mafia migas yang bermain di depan mata publik? Tanpa tindakan tegas, warga dipastikan akan terus menderita akibat praktik curang yang tampak legal di permukaan.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan