Sumutpos.jawapos.com-Perjuangan tak selalu berubah arah ketika berpindah ruang. Bagi Muniruddin Ritonga, langkah dari dunia aktivisme menuju kursi parlemen bukanlah soal status, melainkan strategi. Dari jalanan ke ruang sidang, dari mimbar aksi ke meja legislasi—substansinya tetap sama: mengawal suara rakyat.
Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dikenal konsisten membawa napas aktivisme ke dalam kerja-kerja kebijakan publik.
Akar Perjuangan yang Menguatkan
Lahir di Sinonoan, 22 Juli 1985, Muniruddin tumbuh dalam lingkungan religius yang sarat nilai perjuangan. Ia merupakan anak ke-11 dari 13 bersaudara pasangan Faqih Mahmud Ritonga dan Halimatussa’diah Nasution. Garis ketokohannya bersambung pada sang kakek, ulama kharismatik KH. Abdul Karim Nasution (Guru Godang Pasaman).
Sejak mahasiswa di Medan, Muniruddin dikenal sebagai intelektual muda yang vokal dan aktif dalam berbagai gerakan sosial. Fokusnya pada isu perlindungan anak dan perempuan membentuk karakter politiknya hari ini: responsif, taktis, dan berbasis solusi.
Baginya, politik bukan sekadar retorika, melainkan instrumen advokasi yang lebih luas dan sistematis.
Reses: Kembali ke Akar, Mendengar dengan Hati
Februari 2026, Muniruddin kembali turun ke basis konstituennya dalam agenda reses di Kecamatan Padang Bolak Julu, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Di Desa Balimbing Julu dan Balimbing Jae, ia menyerap aspirasi warga dalam suasana hangat dan terbuka.
Pertama, darurat narkoba. Sejumlah ibu-ibu di Balimbing Jae menyuarakan keresahan atas maraknya peredaran narkotika yang mengancam generasi muda. Mereka mendesak langkah konkret dan terukur dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
Kedua, kedaulatan pangan. Petani di Balimbing Julu mengeluhkan serangan hama yang menggerus hasil panen dan mengancam keberlangsungan ekonomi keluarga.
“Aspirasi ini bukan sekadar catatan. Isu pertanian dan pemberantasan narkoba akan saya bawa langsung ke tingkat provinsi untuk segera ditindaklanjuti,” tegas ayah dua anak tersebut.
Sebagai legislator Fraksi PKB, Muniruddin menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada desa—terutama dalam pemenuhan hak anak dan perlindungan perempuan. Ia meyakini, kemajuan Sumatera Utara tak bisa dibangun dari atas semata, melainkan harus dimulai dari penguatan akar rumput.
Baginya, parlemen adalah ruang strategis untuk memastikan aspirasi desa tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi berubah menjadi kebijakan nyata.
Perjalanan Muniruddin Ritonga menunjukkan bahwa aktivisme dan politik tak harus berseberangan. Ketika integritas tetap terjaga dan keberpihakan tak berubah arah, parlemen bisa menjadi perpanjangan tangan rakyat—bukan sekadar panggung kekuasaan.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan