MEDAN, SUMUT POS - Pengamat politik dan pemerintahan, Rafriandi Nasution, menilai masa awal kepemimpinan Bobby menyisakan sisi positif dan negatif. Namun secara umum, ia melihat Bobby sebagai kepala daerah yang proaktif, terutama dalam penanganan bencana dan percepatan pembangunan infrastruktur strategis.
Rafriandi menyebut Bobby sebagai figur yang telah melalui “uji kompetensi” kepemimpinan, mulai dari menjabat sebagai wali kota hingga kini memimpin di level provinsi. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mengelola pemerintahan yang lebih kompleks.
"Proyek-proyeknya memang prestisius. Soal nilainya A atau B itu bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas ada perubahan yang dikerjakan,” ujar Rafriandi saat memberikan keterangannya, Jumat (20/2/2026).
Menurut Rafriandi, rekam jejak Bobby saat menjadi wali kota menjadi fondasi dalam membangun Sumatera Utara. Beberapa proyek strategis yang disorot antara lain penyelesaian Stadion Utama Sumatera Utara serta pembangunan berbagai fasilitas publik di sejumlah daerah.
Di tingkat provinsi, Bobby juga dinilai mulai mendorong pemerataan pembangunan, khususnya ke wilayah kepulauan seperti Nias. Perhatian terhadap kawasan tersebut disebut cukup terasa dibandingkan periode sebelumnya.
“Baru kali ini kita melihat gubernur yang begitu fokus ke Nias. Mulai dari Nias, Nias Selatan, Nias Utara, kepala daerahnya mulai tersenyum karena ada perhatian serius dari provinsi,” katanya.
Meski demikian, Rafriandi mengingatkan agar pembangunan tidak berhenti pada aspek fisik semata. Pemerintah kabupaten/kota, terutama di wilayah Nias, didorong untuk menjaga kesinambungan program dan mengoptimalkan potensi daerah, termasuk sektor pariwisata agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu poin yang paling diapresiasi adalah sikap proaktif Bobby dalam merespons bencana. Ia disebut kerap turun langsung ke lokasi terdampak, termasuk pada momen awal Ramadan.
“Secara psikologis itu bentuk penghormatan kepada masyarakat. Malam puasa pertama ia berada di pengungsian, bukan di pusat kota. Itu positif,” ujarnya.
Rafriandi juga menilai respons cepat pemerintah provinsi turut didukung oleh akses kuat Bobby ke pemerintah pusat. Dalam sejumlah peristiwa bencana, Presiden, Wakil Presiden, hingga beberapa menteri turun langsung ke Sumut.
“Kita bersyukur gubernur punya akses ke Jakarta. Itu mempercepat bantuan dan koordinasi,” katanya.
Di balik sejumlah capaian tersebut, Rafriandi menegaskan bahwa evaluasi satu tahun kepemimpinan juga mencatat persoalan serius, terutama dalam aspek manajemen pemerintahan. Pengunduran diri sejumlah pejabat hingga kasus operasi tangkap tangan (OTT) menjadi catatan yang tidak bisa diabaikan.
“Ini problematika manajemen kepemimpinan di setiap pemerintahan. Baik desa, kota, provinsi, bahkan negara. Tapi tetap harus dibenahi,” tegasnya.
Ia mendorong pembenahan internal dilakukan dengan membangun sistem kerja yang lebih kompetitif dan profesional. Rafriandi mengibaratkan kabinet pemerintahan seperti ajang pacuan kuda atau lomba maraton.
“Artinya siapa yang tidak mampu berlari cepat dan konsisten, harus dievaluasi,” ujarnya.
“Dalam satu tahun ini ada positif dan negatifnya. Yang positif jangan ditutupi, yang negatif harus diperbaiki. Secara umum, gubernur kita termasuk proaktif,” pungkasnya.(san/ram)
Editor : Juli Rambe