LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com – Perluasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Labuhanbatu kian menunjukkan progres signifikan. Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Labuhanbatu, Frisila Dinanti, mengungkapkan bahwa dari total 31 SPPG yang direncanakan, sebanyak 29 unit mulai beroperasi per Senin (23/2/2026).
Informasi itu disampaikan saat Grand Opening SPPG Sioldengan milik Yayasan Hasnah Kuliner Putri di Jalan Martinus Lubis, Sibuaya, Rantauprapat, Minggu (22/2/2026), yang dirangkai dengan buka puasa bersama.
“Total SPPG di Labuhanbatu ada 31. Mulai Senin, 29 sudah aktif,” jelas Frisila.
Serap Tenaga Kerja, Jangkau 51 Ribu Siswa
Setiap dapur SPPG, lanjutnya, rata-rata menyerap sekitar 50 tenaga kerja. Artinya, ratusan lapangan kerja baru telah tercipta, tersebar dari Kecamatan Bilah Barat hingga Panai Hilir. Program ini tak hanya berbicara tentang gizi, tetapi juga efek domino ekonomi.
Hingga saat ini, penerima manfaat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Labuhanbatu telah mencapai lebih dari 51 ribu siswa. Selain itu, program juga menyasar kelompok rentan melalui skema MBG 3B—ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita—sebagai langkah preventif menekan angka stunting dan anemia.
Asupan nutrisi seimbang, termasuk protein hewani dan susu, dirancang untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal sejak dalam kandungan.
Frisila juga menyebutkan bahwa penyediaan SPPG melibatkan berbagai pihak. Tiga unit didukung unsur militer, sementara empat unit difasilitasi Yayasan Kemala Bhayangkara dari unsur Polri. Kehadiran dapur Sioldengan, menurutnya, semakin memperluas cakupan wilayah Rantau Selatan.
“Cakupan anak didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita akan semakin luas. Itu menjadi PR utama kami,” tegasnya.
Utamakan Hasil Pertanian Lokal
Di sisi lain, Owner Yayasan Hasnah Kuliner Putri, Hasnah Siregar, menegaskan komitmennya untuk mengutamakan hasil pertanian dan peternakan warga sekitar sebagai bahan baku dapur.
“Saya berjanji akan mengutamakan hasil pertanian warga. Silakan bercocok tanam dan akan kita tampung hasilnya,” ujarnya.
Sebelum membeli dari pasar besar, pihaknya akan memprioritaskan penyerapan produk lokal. Sayuran, telur, daging, hingga komoditas lain diupayakan berasal dari petani dan peternak setempat. Ia bahkan mendorong warga memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami komoditas cepat panen seperti pisang.
Baca Juga: Bangkit dari Jeruji, Fariz RM Siapkan Konser Penanda Lembaran Baru
Tak hanya bahan pangan, tenaga kerja pun diprioritaskan dari lingkungan sekitar SPPG Sioldengan. Kebijakan ini menjadikan dapur gizi bukan sekadar pusat distribusi makanan, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan.
SPPG, sebagai unit operasional program MBG pemerintah, dengan demikian memainkan dua peran sekaligus: memperbaiki kualitas gizi generasi muda dan menghidupkan rantai pasok lokal. Di Labuhanbatu, dapur bukan lagi sekadar ruang memasak—ia menjadi titik temu antara kesehatan, pemberdayaan, dan harapan ekonomi masyarakat.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan