PALUTA, Sumutpos.jawapos.com– Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang tinggal menghitung hari, suasana khas mulai terasa di berbagai desa di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Salah satu tradisi yang tetap hidup hingga kini adalah “mengaco dodol”, yakni proses membuat dodol secara tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan lebaran masyarakat setempat.
Di tengah kesibukan menyambut hari kemenangan, aroma manis gula merah dan santan kelapa kerap tercium dari dapur-dapur rumah warga. Dodol yang dimasak dengan cara tradisional di atas tungku kayu menjadi hidangan khas yang selalu hadir saat Idul Fitri di Paluta.
Pemandangan itu terlihat di kediaman Rohimah, warga Desa Lantosan I, Paluta. Meski sedang menjalankan ibadah puasa, ia tetap bersemangat mengaduk adonan dodol yang kental dan berwarna cokelat pekat di atas tungku api yang menyala.
Baca Juga: DPRD Sumut Soroti Gaji Guru PPPK Paruh Waktu, Dari Rp3 Juta Kini Tinggal Rp1,8 Juta
Dengan gerakan perlahan namun konsisten, Rohimah terus mengaduk adonan agar tidak gosong. Proses ini membutuhkan ketelatenan dan waktu berjam-jam hingga dodol mencapai tekstur yang kenyal dan sempurna.
“Membuat dodol ini sudah menjadi tradisi di keluarga kami. Rasanya tidak lengkap kalau lebaran tanpa dodol,” ujarnya sambil tersenyum.
Kuliner Tradisional Sarat Makna
Dodol khas Paluta dikenal memiliki cita rasa manis yang pas dengan tekstur kenyal. Keistimewaannya terletak pada bahan-bahan alami seperti santan kelapa segar dan gula merah asli dari nira aren yang memberikan aroma khas.
Namun bagi masyarakat Paluta, dodol bukan sekadar makanan ringan. Lebih dari itu, dodol menjadi simbol kebersamaan dan keramahtamahan yang diwariskan secara turun-temurun.
Biasanya, dodol yang telah matang akan dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun tamu yang datang bersilaturahmi saat hari raya.
Baca Juga: Manchester United vs Aston Villa: Setan Merah Siap Ulangi Luka Lama The Villans
“Kami berharap dodol buatan kami bisa membawa kebahagiaan bagi keluarga dan teman-teman saat lebaran nanti,” kata Rohimah.
Tradisi yang Terus Dijaga
Di tengah perubahan zaman dan arus modernisasi, tradisi mengaco dodol tetap dipertahankan masyarakat Paluta. Aktivitas ini sering dilakukan bersama keluarga atau tetangga, sehingga menghadirkan suasana gotong royong dan kebersamaan.
Tradisi sederhana ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Paluta, dodol bukan hanya soal rasa. Di balik proses panjang pembuatannya, tersimpan makna silaturahmi, kebersamaan, dan kehangatan yang selalu mengiringi datangnya Hari Raya Idul Fitri.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan