LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com - Hanya dalam empat bulan terakhir, wajah kuliner malam di Rantauprapat berubah drastis. Puluhan lapak angkringan menjamur, memilih tempat di emperan toko dan bahu jalan protokol.
Yakni, di kawasan jalan Ahmad Yani, Diponegoro, Sudirman, Gatot Subroto, hingga Kartini—kini bersolek dengan lampu-lampu temaram dan gerobak minimalis.
Namun, angkringan tradisional yang lahir dari kultur Jawa ini justru bertransformasi menjadi surga minuman dan makanan berlabel kebaratan yang membidik saku dan selera milenial serta Gen-Z.
Secara fisik, angkringan baru ini masih mempertahankan bangku lesehan dan konsep terbuka. Tapi dari menu, mereka seperti Starbucks versi kaki lima. Dominasi menu bukan lagi teh panas atau kopi tubruk, melainkan kopi susu kekinian.
Diantaranya, Coffee Latte dengan sirup hazelnut, vanilla, atau caramel. Cold Brew Lemonade yang menyegarkan dengan sensasi asam-manis.
"Juga tersedia minuman varian Dalgona Coffee. Ini kopi kocok viral dari Korea," ujar salah seorang barista di sebuah angkringan di sudut kota Rantauprapat itu, Jumat malam (24/4/2026).
Baca Juga: Harga Tiket Final Piala Dunia Tembus Milyaran Rupiah, Netizen Geleng Kepala
Selain itu, juga ada Kopi Susu Gula Aren dan Kopi Pandan yang memadukan aroma wangi dengan pahitnya kopi
Para penjual biasanya menggunakan kopi bubuk dipadu dengan susu kental manis, es batu serut, dan botol plastik bening ala coffee shop.
Lalu, bagaimana dengan harga? Terjangkau untuk kantong anak muda, tapi tetap memberikan gengsi visual untuk diunggah di Instagram Story.
Jika dulu angkringan adalah simbol kesederhanaan dengan nasi kucing, tempe orek, dan sambal teri, kini menunya telah "diserbu" elemen global dan instan.
Ada varian masakan Dimsum. Mirip siomay dan hakau frozen yang direbus ulang. Juga, Beef steak. Mi Instan Premium berbahan Indomie, tapi disajikan dengan topping telur keju, sosis, atau nori.
Lokasi Rantauprapat sebagai kota menyimpan potensi pasar yang besar. Anak sekolah, mahasiswa, dan pekerja muda menginginkan tempat nongkrong murah, buka hingga larut serta mudah diakses.
Baca Juga: Sentuhan Empati di Kamar Sederhana: Kapolres Labusel Jenguk Warga Sakit di Medan
Dibanding nomgkrong di kafe sekarang mahal. Minum kopi satu saja bisa Rp 30 ribu belum parkir. Angkringan di pinggir jalan lebih murah dan bebas gaya.
Tidak adanya perizinan resmi untuk berjualan di bahu jalan juga menjadi penyebab kerap diuber-uber Satpol PP dengan pengeras suara. Tapi juga fenomena ini tetap memiliki sisi negatif. Tidak sepenuhnya mulus. Puluhan lapak yang tiba-tiba muncul menimbulkan masalah baru.
Diantaranya, kemacetan mikro: Bahu jalan di Ahmad Yani dan jalan Sudirman yang semula untuk parkir atau trotoar pejalan kaki kini tertutup kursi dan meja lipat.
Kemudian, sampah plastik dan sedotan: Kemasan kopi sekali pakai berserakan hingga pagi hari.
"Juga adanya pengguna jalan yang ugal-ugalan dengan knalpot BRONK menjadi ancaman kenyamanan pedagang dan pengunjung," kata Yakub, seorang warga Rantauprapat.
Angkringan Rantauprapat bukan cerminan budaya Jawa. Tapi dia adalah hasil kawin silang antara kebutuhan ekonomi kelas bawah dengan selera konsumsi kelas menengah digital. Kopi susu gula aren adalah rajanya, trotoar adalah panggungnya, dan milenial adalah khalayak yang tak pernah bosan berfoto dengan latar lampu kelap-kelip di pinggir jalan raya.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan