LABURA, Sumutpos.jawapos.com-Kebahagiaan itu sederhana, namun bermakna dalam. Di Dusun V, Desa Sidua-Dua, Kecamatan Kualuh Selatan, senyum Rafita tak lagi sekadar harapan. Kunci rumah yang ia genggam menjadi simbol perubahan—dari keterbatasan menuju kehidupan yang lebih layak.
Perubahan itu dihadirkan melalui program Rumah Layak Huni (RLH) yang diresmikan langsung oleh Bupati Labuhanbatu Utara, Hendriyanto Sitorus, Selasa (28/4/2026). Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah dengan Baznas Labuhanbatu Utara dalam upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Selama ini, Rafita dan keluarganya hidup di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak. Kini, mereka menempati rumah baru yang aman, sehat, dan memberi rasa nyaman—sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi impian.
Baca Juga: Nomor Urut 2, Terang Lesmana Bidik Perubahan Nyata di Desa Batu Lokong
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan langkah nyata untuk mengangkat martabat masyarakat. Ia menekankan bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang tepat sasaran mampu menghadirkan perubahan konkret.
“Ini adalah wujud kepedulian bersama. Kami ingin memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di rumah tidak layak,” ujarnya.
Pembangunan rumah tersebut dilakukan dengan proses verifikasi yang ketat agar tepat sasaran. Ketua Baznas Labura, Sukisman, menyebutkan bahwa rumah dibangun dalam waktu 18 hari dengan anggaran Rp25 juta yang bersumber dari dana zakat masyarakat.
Tak hanya tempat tinggal, perhatian juga diberikan pada masa depan keluarga penerima manfaat. Dua anak Rafita menerima bantuan perlengkapan sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan.
Dukungan lintas sektor turut menguatkan program ini. Ketua DPRD Labura, Rimba Bertuah Sitorus, menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap menjalankan program kesejahteraan meski di tengah keterbatasan anggaran.
Apresiasi juga datang dari jajaran pemerintah kecamatan dan desa. Camat Kualuh Selatan dan Kepala Desa Sidua-Dua melihat program ini sebagai bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita—sebuah seremoni sederhana yang sarat makna. Di balik itu, tersimpan pesan besar: bahwa perubahan hidup bisa dimulai dari sebuah rumah.(mag-10/han)
Editor : Johan Panjaitan