BATUBARA, Sumutpos.jawapos.com-Peringatan Hari Kartini 2026 di Kabupaten Batu Bara tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Di Aula Kantor Bupati, Selasa (5/5), peringatan itu diarahkan menjadi titik refleksi: bagaimana peran perempuan—terutama dalam keluarga—diterjemahkan menjadi kekuatan nyata dalam pembangunan daerah.
Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, hadir bersama Wakil Bupati Syafrizal dan jajaran pemerintah daerah, serta unsur PKK dan Forkopimda. Di tengah rangkaian kegiatan yang diisi pemberian tali asih kepada ibu veteran, santunan anak yatim, dan pemotongan tumpeng, pesan utama yang mengemuka adalah penguatan peran strategis perempuan.
Dalam sambutannya, Baharuddin menegaskan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak boleh berhenti pada simbol. Kartini, menurutnya, adalah representasi gagasan—tentang keberanian berpikir, kemandirian, dan kontribusi perempuan dalam ruang publik maupun domestik.
Baca Juga: KPK Diminta Turun ke Simalungun, Dugaan “Fee 21 Persen” Disorot
“Peringatan ini harus menjadi pengingat bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Ia hidup dalam peran perempuan hari ini, terutama dalam keluarga sebagai fondasi utama masyarakat,” ujarnya.
PKK sebagai Simpul Kekuatan Sosial
Bupati juga menyoroti posisi strategis Tim Penggerak PKK sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Organisasi ini dinilai memiliki daya jangkau yang luas hingga ke tingkat paling bawah, menjadikannya instrumen penting dalam memastikan program pembangunan berjalan efektif.
Baca Juga: PSG vs Bayern: Duel Produktivitas yang Tak Mengenal Rem
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan PKK bukan sekadar formalitas kelembagaan, tetapi kolaborasi yang menentukan keberhasilan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
“PKK adalah penggerak di tengah masyarakat. Ketika PKK kuat, maka program pemerintah akan lebih cepat menyentuh kebutuhan riil warga,” tegasnya.
Keluarga sebagai Benteng Pertama
Lebih jauh, Baharuddin menggarisbawahi peran ibu dalam membentuk karakter generasi. Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, keluarga menjadi benteng pertama—termasuk dalam menghadapi ancaman serius seperti penyalahgunaan narkoba.
Ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak hanya lahir dari institusi formal, tetapi berakar dari pola asuh dan nilai yang ditanamkan di rumah.
“Peran ibu sangat menentukan. Dari keluarga lahir generasi yang kuat atau rapuh. Di situlah masa depan daerah ini dipertaruhkan,” katanya.
Peringatan Hari Kartini di Batu Bara tahun ini mengirim pesan yang jelas: perempuan bukan sekadar pelengkap dalam pembangunan, melainkan aktor utama. Namun, pengakuan itu menuntut konsekuensi—ruang yang lebih luas, dukungan yang konkret, dan keberpihakan kebijakan yang nyata.(lib/han)
Editor : Johan Panjaitan