Festival Bunga dan Buah Dinilai Kehilangan Daya Tarik

Juli Rambe • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 18:00 WIB
FBB: Menteri Koperasi, Wagubsu menghadiri pembukaan Festival Bunga dan Buah 2026. (Dok: Panitia)
FBB: Menteri Koperasi, Wagubsu menghadiri pembukaan Festival Bunga dan Buah 2026. (Dok: Panitia)

 

KARO, SUMUT POS– Pelaksanaan Festival Bunga dan Buah (FBB) Kabupaten Karo Tahun 2026 menuai sorotan. Festival yang selama ini menjadi agenda unggulan pariwisata daerah dinilai mulai kehilangan daya tarik karena konsep penyelenggaraannya dianggap monoton dari tahun ke tahun.

Sorotan tersebut semakin menguat karena anggaran sekitar Rp1 miliar yang dialokasikan Pemerintah Kabupaten Karo dinilai belum diimbangi dengan konsep yang lebih inovatif, transparan, serta mampu memberikan dampak ekonomi yang terukur bagi masyarakat dan daerah.

Sejumlah kalangan menilai evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar Festival Bunga dan Buah benar-benar mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan perekonomian masyarakat, serta memperkuat citra Kabupaten Karo sebagai destinasi wisata unggulan.

Baca Juga: Kanwil Ditjenpas Bantah Intimidasi Nikita Mirzani

Hendra Gunawan Kaban, seorang profesional yang bekerja di bidang event organizer, menyampaikan sejumlah catatan terhadap pelaksanaan festival tahun ini. Menurutnya, mekanisme pengadaan penyelenggara kegiatan masih menggunakan pola konvensional, padahal industri kreatif membutuhkan sistem seleksi yang lebih kompetitif.

Ia mengusulkan agar proses pemilihan penyelenggara dilakukan melalui mekanisme beauty contest sehingga peserta dapat bersaing menawarkan konsep terbaik, bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi.

Selain itu, Hendra menilai seluruh perangkat daerah hingga tingkat kecamatan perlu dilibatkan secara lebih terstruktur. Sinergi lintas sektor dinilai penting agar pelaksanaan festival berjalan lebih efektif sekaligus memberikan manfaat yang merata.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Karo juga perlu menyusun seluruh kebutuhan penyelenggaraan festival secara objektif dan memasukkannya ke dalam perencanaan yang terukur sehingga penggunaan anggaran lebih tepat sasaran.

"Dari sisi ekonomi, setiap anggaran yang dialokasikan untuk festival diharapkan mampu memberikan umpan balik yang nyata bagi daerah, baik melalui peningkatan penerimaan pajak maupun bertambahnya perputaran ekonomi sebelum, selama, dan setelah festival berlangsung," ujar Hendra.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Keterbukaan informasi dinilai dapat meminimalkan munculnya isu negatif terhadap pemerintah, panitia pelaksana maupun penyelenggara, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.

Di sisi lain, keterlibatan sektor swasta dinilai masih perlu diperluas. Tidak hanya pelaku usaha pariwisata, tetapi juga berbagai sektor industri lainnya diharapkan dapat berpartisipasi sebagai mitra penyelenggaraan sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar dan berkelanjutan.

Festival Bunga dan Buah 2026 sendiri dinilai tidak seramai penyelenggaraan tahun sebelumnya. Rangkaian acara yang ditampilkan juga dianggap tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni parade kendaraan hias, seremoni pembukaan, stan UMKM, peragaan busana, serta hiburan musik.

Omzet Pedagang Menurun

Berkurangnya jumlah pengunjung turut berdampak terhadap omzet para pedagang di kawasan Taman Mejuah-juah, Berastagi. Sejumlah pedagang mengaku penjualan mereka jauh di bawah harapan.

"Pengunjung memang ada, tetapi tidak seramai tahun lalu. Pembeli juga lebih sedikit sehingga dagangan banyak yang belum terjual," ujar salah seorang pedagang.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah titik, khususnya area stan UMKM dan kuliner, tampak tidak terlalu padat pada waktu-waktu tertentu. Kondisi tersebut berbeda dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang dipenuhi pengunjung hingga malam hari.

Padahal, Festival Bunga dan Buah 2026 mendapat dukungan pemerintah pusat dan masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) dengan harapan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Para pedagang berharap Pemerintah Kabupaten Karo dan panitia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep penyelenggaraan, mulai dari promosi, variasi acara hingga strategi menarik lebih banyak wisatawan agar dampak ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.

Warga Minta Transparansi Anggaran

Selain evaluasi terhadap konsep acara, masyarakat juga meminta Pemerintah Kabupaten Karo membuka secara transparan penggunaan anggaran Festival Bunga dan Buah 2026. Warga menilai keterbukaan informasi mengenai besaran anggaran beserta rincian penggunaannya penting untuk memastikan dana APBD dikelola secara akuntabel, efisien, dan tepat sasaran.

Tak hanya itu, masyarakat juga meminta pemerintah mempublikasikan seluruh pendapatan yang diperoleh selama pelaksanaan festival, termasuk penerimaan dari penyewaan stan UMKM dan kuliner, biaya partisipasi peserta, sponsor, retribusi, maupun sumber pendapatan lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan tarif penyewaan stan berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp3 juta. Di media sosial juga beredar video yang memperlihatkan seorang pedagang memprotes biaya sewa lapak sebesar Rp300 ribu per meter.

"Dari tahun ke tahun saya bayar. Kalian menyewakan tanah Rp300 ribu per meter. Ini tanah umum. Apakah Bupati Karo tahu masalah ini? Uang kebersihan sudah dikutip sebelum kami berjualan. Belum lagi uang listrik," ujar pedagang tersebut dalam video yang beredar luas.

Seorang pengunjung asal Kecamatan Barusjahe bermarga Sembiring berharap pemerintah bersikap terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. "Pemkab Karo harus transparan. Masyarakat berhak mengetahui penggunaan anggaran dan seluruh penerimaan selama festival sehingga tidak menimbulkan prasangka negatif," katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, Ketua Panitia Festival Bunga dan Buah 2026 Andereasta Tarigan, yang juga menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Karo, belum memberikan keterangan meski telah diupayakan konfirmasi.

Seperti diketahui, Festival Bunga dan Buah Kabupaten Karo 2026 digelar selama tiga hari (30 Juli hingga 1 Agustus 2026) berpusat di Open Stage Taman Mejuah-juah, Berastagi, Kabupaten Karo. (deo/ram)

 

Editor : Juli Rambe
festival bunga dan buah 2026 festival di tanah karo