Dukung Ekonomi Lokal, SPPG Bandar Durian Serap 1,5 Ton Semangka Petani Desa Simonis

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:12 WIB
Ketua Yayasan Nusa Bakti Labura, Joang Alfiansyah Munthe didampingi SPPG panen semangka di lokasi perkebunan milik warga. (Indra /Sumut Pos)
Ketua Yayasan Nusa Bakti Labura, Joang Alfiansyah Munthe didampingi SPPG panen semangka di lokasi perkebunan milik warga. (Indra /Sumut Pos)

 

LABURA, Sumutpos.jawapos.com – Program pemenuhan gizi mulai memberi dampak lebih luas bagi masyarakat. Tak hanya menyasar pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi penerima manfaat, program tersebut juga membuka ruang bagi petani lokal untuk mendapatkan pasar yang lebih pasti.

Hal itu ditunjukkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandar Durian 02 bersama jejaring SPPG di Kecamatan Aek Natas. Mereka menyerap lebih dari 1,5 ton semangka langsung dari perkebunan warga di Desa Simonis, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Selasa (11/8/2026).

Penyerapan komoditas lokal tersebut menjadi bagian dari upaya menjalankan arahan Badan Gizi Nasional (BGN), agar program pemenuhan gizi berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya petani di sekitar wilayah operasional SPPG.

Baca Juga: Jangan Paksa Anak Minum Susu Formula jika Ciri-ciri Ini Muncul, Kenalilah!

Kepala SPPG Bandar Durian 02, Dicky Sukma Salam Simatupang, mengatakan pembelian langsung dari petani bukan sekadar memenuhi kebutuhan bahan pangan program. Lebih dari itu, langkah tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian pasar sekaligus menjaga agar hasil pertanian masyarakat memiliki nilai ekonomi yang layak.

“Kami tidak sekadar mengejar target pemenuhan gizi program, tetapi ingin memastikan bahwa kehadiran SPPG dirasakan langsung manfaat ekonominya oleh masyarakat tani lokal lewat harga yang layak,” ujar Dicky.

Menurutnya, pola kemitraan seperti ini penting untuk dibangun secara berkelanjutan. Ketika kebutuhan bahan pangan program dapat dipenuhi dari hasil pertanian masyarakat sekitar, manfaat program tidak berhenti pada penerima makanan bergizi, tetapi turut mengalir kepada produsen pangan di tingkat desa.

Yayasan Dorong Kemitraan Berkelanjutan

Komitmen untuk memperluas dampak ekonomi tersebut juga disampaikan Ketua Yayasan Nusa Bakti Labura, Joang Alfiansyah Munthe.

Ia mengapresiasi kolaborasi antara SPPG dan petani lokal. Menurutnya, keberadaan SPPG seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pelaksana program pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Gerombolan OTK Bersenpi Serang Gudang Batok di Tanjung Morawa, Dua Orang Luka

“Keberadaan SPPG tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak sekolah dan masyarakat penerima manfaat semata, tetapi harus mampu menjadi pilar utama yang menggerakkan roda ekonomi warga sekitar,” kata Joang.

Ia menegaskan, Yayasan Nusa Bakti Labura berkomitmen memfasilitasi dan mengawal pola kemitraan tersebut agar tidak berhenti pada penyerapan komoditas dalam jangka pendek.

“Kami ingin memastikan bahwa hasil jerih payah petani memiliki pasar yang pasti, terintegrasi, dan dihargai secara adil, sehingga dampak positif dari program gizi nasional ini benar-benar dirasakan secara nyata dan berkesinambungan di seluruh wilayah Labura,” tegasnya.

Mutu Komoditas Jadi Perhatian

Selain aspek ekonomi, kualitas bahan pangan yang diserap juga menjadi perhatian. Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG, Sartika Khairani Siregar, memastikan semangka yang dibeli dari petani telah melalui proses penyortiran.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan komoditas yang masuk memenuhi standar kesegaran dan kualitas sebelum digunakan dalam pemenuhan kebutuhan gizi, termasuk bagi anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Dari sisi BGN, Kepala Regional BGN Sumatera Utara, T. Agung Kurniawan, turut mengapresiasi langkah yang dilakukan SPPG di Kecamatan Aek Natas.

Baca Juga: Kendarai Mobil Mewah Hasil CSR, Direktur RSUD Amri Tambunan Disorot Banggar DPRD Deliserdang

Menurutnya, penyerapan hasil pertanian lokal menunjukkan bahwa program gizi nasional dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Program tersebut sekaligus membuka peluang baru bagi petani Labura untuk mengembangkan komoditas pertanian yang lebih beragam. Selama ini, aktivitas ekonomi pertanian di daerah tersebut masih banyak bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Dengan adanya kepastian pasar melalui jaringan SPPG, petani memiliki peluang untuk mengembangkan tanaman pangan dan hortikultura lain yang sesuai dengan potensi wilayah.

Penyerapan 1,5 ton semangka di Desa Simonis menjadi salah satu contoh bahwa program pemenuhan gizi dapat memiliki efek berantai. Dari kebun petani, hasil panen masuk ke rantai pasok pangan, kemudian menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Jika pola kemitraan ini konsisten diperluas, program gizi bukan hanya berbicara tentang makanan di atas meja, tetapi juga tentang bagaimana dapur program tersebut dapat ikut menghidupkan ekonomi desa dan memberi ruang lebih besar bagi petani lokal. (ind/han)

Editor : Johan Panjaitan
bandar durian desa simonis petani semangka SPPG