MEDAN, SUMUT POS- Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan, berdasarkan data terbaru yang diterimanya, jumlah siswa yang mengalami keluhan mencapai 353 orang.
Para siswa mengalami reaksi dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari saat masih mengikuti kegiatan belajar di sekolah hingga beberapa jam setelahnya.
“Ini kejadian fatal, ya. Kejadian fatal yang terjadi kepada anak-anak kita. Total sekarang ada 353,” kata Bobby saat memberikan keterangan di Gedung DPRD Sumut, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga: JAMSU: Program KMP Perlu Dirancang dengan Pertimbangan Credit Union
Menurut Bobby, kondisi para siswa yang mengalami dugaan keracunan tersebut beragam. Sebagian siswa dilaporkan langsung mengalami reaksi ketika masih berada di sekolah, sementara sebagian lainnya baru mengalami keluhan pada malam hari.
Ia juga mengungkapkan adanya siswa yang kondisinya sempat cukup serius hingga harus mendapatkan perawatan di Kota Medan. Namun, berdasarkan laporan terakhir yang diterimanya, kondisi siswa tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif.
“Reaksi kita kan ada yang kemarin langsung di dalam belajar, ada yang sampai malam. Namun yang fatal, sampai harus dirujuk ke Kota Medan ada. Satu dari kemarin sempat kasih isu-isu, namun hari ini sudah mulai membaik,” ujarnya.
Bobby menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG. Menurutnya, aspek keamanan dan kualitas makanan harus menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Harapan kita tentu kejadian seperti ini bisa menjadi pelajaran, jadi pembelajaran,” kata Bobby.
SPPG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah awal penanganan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengeluarkan surat penghentian sementara terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Bobby mengatakan penghentian sementara itu dilakukan sebagai bentuk respons terhadap kejadian yang dialami ratusan siswa.
“Kepala BGN juga sudah sangat jelas memberikan instruksi. Maksud saya, hari ini dari BGN sudah memberikan surat pemberhentian sementara. Sudah suspend, pemberhentian SPPG sementara,” jelasnya.
Selain menghentikan sementara operasional SPPG, makanan yang sebelumnya dikonsumsi oleh para siswa juga telah dibawa untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah makanan MBG yang dibagikan kepada siswa menjadi sumber penyebab munculnya keluhan kesehatan.
Namun, hingga saat ini pemerintah belum menerima hasil pemeriksaan laboratorium tersebut. Bobby mengatakan pemeriksaan membutuhkan waktu karena sejumlah sampel masih menjalani proses analisis.
“Dan makanan yang kemarin dikonsumsi sudah dibawa ke lab dan diperiksa,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai hasil pemeriksaan laboratorium, Bobby mengatakan hasilnya belum dapat diketahui secara pasti.
“Belum, karena hasil lab-nya tadi ada yang belum, bahasa teknisnya. Pokoknya waktunya ada satu hari, yang paling lama penelaahannya nanti dua hari,” katanya.
Karena hasil laboratorium masih dalam proses, Bobby meminta agar semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab dugaan keracunan tersebut.
“Kalau dilihat dari segi hasil, belum bisa dipastikan sumbernya dari mana,” tegasnya.
Hanya Satu SPPG yang Berkaitan
Bobby juga memastikan bahwa kejadian tersebut sementara ini berkaitan dengan satu SPPG. SPPG tersebut disebut merupakan salah satu unit dengan jumlah penerima manfaat cukup besar.
“Ada satu SPPG. Ini salah satu SPPG yang besar, ada 2.900 lebih yang terlayani,” ungkap Bobby.
Ia menjelaskan, SPPG tersebut melakukan proses memasak dalam dua waktu. Berdasarkan laporan yang diterimanya, makanan yang diproduksi pada sesi malam tidak mengalami persoalan.
Sementara itu, dugaan kejadian yang menyebabkan siswa mengalami keluhan berkaitan dengan makanan yang diproduksi sekitar pukul 02.00 WIB.
“Ada dua kali masak. Yang malam, saya tahu, saya dilaporkan, itu tidak ada masalah. Yang jam 2 itu yang kemarin yang terjadi,” kata Bobby.
Meski demikian, Bobby meminta agar informasi mengenai sumber penyebab kejadian tidak disimpulkan terlebih dahulu sebelum seluruh hasil pemeriksaan selesai.
“Nanti dilihat dulu, jangan dibuka dulu juga,” ujarnya.
Pengawasan Akan Dievaluasi
Kasus dugaan keracunan tersebut juga menjadi perhatian terhadap sistem pengawasan pelaksanaan MBG, khususnya terhadap SPPG yang memproduksi dan mendistribusikan makanan kepada para siswa.
Bobby mengatakan kejadian di Berastagi harus menjadi evaluasi agar sistem pengawasan ke depan dapat diperkuat. Pemerintah tidak ingin kejadian serupa kembali terulang dan berdampak terhadap kesehatan anak-anak.
“Makanya tadi kita harapkan tidak terjadi lagi,” kata Bobby.
Ia menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki mekanisme pengawasan, mulai dari proses pengolahan makanan hingga distribusi kepada penerima manfaat.
“Ini menjadi pembelajaran nanti bagaimana pengawasannya,” ujarnya.
Bobby juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap seluruh proses yang berkaitan dengan penyediaan makanan MBG. Namun, ia mengatakan langkah lebih lanjut akan ditentukan setelah hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi terhadap SPPG selesai dilakukan.
Untuk sementara, operasional SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut dihentikan. Pemeriksaan terhadap sampel makanan juga masih berlangsung untuk memastikan penyebab dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa di Berastagi.
Pemerintah berharap proses pemeriksaan dapat segera memberikan kejelasan mengenai sumber masalah sekaligus menjadi dasar untuk melakukan perbaikan terhadap sistem pelaksanaan dan pengawasan program MBG di Sumatera Utara.(san/ram)
Editor : Juli Rambe