Dua Korban MBG Dirujuk Lagi ke RS Haji Medan, Kondisi Memburuk dan Masih Sesak

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:46 WIB
Kembali korban keracunan MBG di Berastagi dirujuk ke RS Haji Medan untuk mendapatkan perawatan intensif. (Istimewa)
Kembali korban keracunan MBG di Berastagi dirujuk ke RS Haji Medan untuk mendapatkan perawatan intensif. (Istimewa)

 

KARO, Sumutpos.jawapos.com – Penanganan para pelajar SMK Bersama yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Lima hari menjalani perawatan di rumah sakit di Berastagi, dua siswi akhirnya harus dirujuk ke RS Haji Medan karena kondisi kesehatan mereka menurun.

Kedua siswi tersebut masing-masing F br Purba, yang sebelumnya dirawat di RS Efarina, serta Ana Karina br Karo, pasien RS Amanda Berastagi. Keduanya dirujuk pada Selasa (18/8) sore setelah masih mengalami keluhan sesak, mual dan pusing.

Wakil Kepala Sekolah Yayasan Bersama, Nova, membenarkan adanya rujukan tersebut. Ia mengatakan kondisi kedua siswi membutuhkan penanganan medis yang lebih intensif.

“Hari ini dua orang anak didik kita dirujuk ke RS Haji Medan. Kondisi kesehatan mereka memburuk dan terus mengalami sesak,” ujarnya.

Baca Juga: Grab dan 810 Mitra Rayakan HUT ke-81 RI Lewat Perayaan Merdeka Bersinergi di 9 Kota

Rujukan tersebut menambah daftar korban yang harus mendapatkan perawatan lanjutan di Medan. Hingga Selasa, tercatat sedikitnya empat korban MBG telah dirujuk ke rumah sakit di Medan.

Sementara itu, empat siswi lainnya masih menjalani perawatan di RS Amanda Berastagi. Pelajar yang kondisinya membaik telah diperbolehkan pulang.

“Ada empat orang lagi yang masih dirawat di RS Amanda,” kata Nova.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Sumatera Utara, Zulkarnain Barus, juga mengakui masih adanya sejumlah siswa yang menjalani perawatan. Saat melakukan kunjungan ke RS Efarina, ia menyebut terdapat tujuh siswa yang masih dirawat, sementara pihaknya masih menunggu pemutakhiran data dari sekolah.

“Saya baru selesai kunjungan ke RS Efarina. Tadi kita kunjungi ada tujuh siswa lagi yang dirawat di sana. Mengenai jumlah siswa yang masih dirawat, kami masih menunggu data dari sekolah,” ujarnya.

Baca Juga: 358 Hektare Kebun Sawit Diambil Alih Sepihak, PT Sekoci Ajukan Gugatan ke PN Stabat

Zulkarnain juga membenarkan informasi mengenai dua korban yang dirujuk ke Medan.

“Info sementara ada dua orang yang dirujuk ke RS Haji Medan,” katanya.

Pernyataan Bupati Karo Kembali Disorot

Kondisi para pelajar yang belum sepenuhnya pulih membuat pernyataan Bupati Karo Antonius Ginting beberapa waktu lalu kembali menjadi perhatian publik.

Saat mengunjungi RS Amanda Berastagi, Antonius sempat menyebut kondisi para siswa relatif baik. Bahkan, ia menyebut keadaan tersebut sebagai sebuah “berita baik”.

“Ini berita baik, kalau pun ada sesuatu kejadian, berita baiknya adalah semua anak-anak kita dalam keadaan baik,” ujarnya kala itu.

Namun, perkembangan terbaru di lapangan menunjukkan situasi yang tidak sesederhana pernyataan tersebut. Sejumlah pelajar masih membutuhkan perawatan, sementara sebagian lainnya harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di Medan karena kondisi kesehatan yang memburuk.

Baca Juga: Gempa Bumi Tektonik M6.1 Guncang Nisel dan Dirasakan Hingga Sumbar

Perbedaan antara pernyataan awal dan perkembangan kondisi pasien inilah yang kemudian memicu pertanyaan dari masyarakat, khususnya para orang tua korban.

Di media sosial, sejumlah warganet mempertanyakan cara pemerintah daerah menyampaikan kondisi para pelajar. Kritik terutama diarahkan pada penggunaan istilah “semua anak-anak kita dalam keadaan baik”, sementara pada saat bersamaan masih terdapat siswa yang menjalani perawatan dan kemudian harus dirujuk ke rumah sakit di Medan.

Sorotan tersebut bahkan berkembang ke ranah politik. Sejumlah warganet mengaitkan posisi politik Bupati Karo dengan Partai Gerindra dan mempertanyakan kemungkinan adanya pengaruh kepentingan politik dalam merespons persoalan MBG.

Namun, tudingan tersebut sejauh ini masih sebatas komentar dan persepsi di media sosial. Belum terdapat bukti yang menunjukkan bahwa penanganan kasus tersebut oleh Pemerintah Kabupaten Karo didasarkan pada kepentingan politik tertentu.

Yang menjadi fakta dan tidak terbantahkan adalah kondisi para korban di lapangan. Hingga Selasa (18/8), masih terdapat pelajar yang menjalani perawatan, bahkan empat korban telah dirujuk ke Medan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Situasi ini semestinya menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk mengutamakan keselamatan dan pemulihan para siswa. Terlepas dari polemik yang berkembang, kondisi kesehatan korban harus menjadi ukuran utama dalam menilai sejauh mana penanganan kasus dugaan keracunan MBG berjalan.

Publik tentu menunggu penjelasan yang lebih terbuka mengenai kondisi seluruh korban, jumlah siswa yang masih dirawat, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.

Sebab, bagi para orang tua, persoalannya bukan sekadar bagaimana sebuah kejadian disebut atau dipersepsikan, melainkan memastikan anak-anak mereka mendapatkan pertolongan terbaik dan kejadian serupa tidak kembali terulang. (deo/han)

Editor : Johan Panjaitan
dirujuk sesak Pemkab Karo rs haji medan Keracunan MBG