PADANG LAWAS, Sumutpos.jawapos.com — Lapangan sekolah semestinya tidak hanya menjadi tempat pelajar mengejar nilai akademik. Di sana, bakat olahraga juga tumbuh dan membutuhkan panggung untuk berkembang. Namun, di Kabupaten Padang Lawas (Palas), potensi sepak bola pelajar dinilai belum mendapatkan ruang pembinaan yang memadai.
Kalangan pendidik dan pelajar di Kecamatan Huta Raja Tinggi (Huragi) pun mendorong Pemerintah Kabupaten Palas dan instansi terkait menghidupkan kembali Liga Pendidikan Indonesia (LPI). Kompetisi sepak bola antarsekolah tersebut dinilai penting sebagai wadah penyaluran bakat sekaligus jalur pembinaan atlet muda daerah yang lebih terarah.
Aspirasi itu salah satunya disampaikan guru olahraga sekaligus pelatih sepak bola SMP Negeri 5 Huta Raja Tinggi, Sawal Hasibuan. Menurutnya, potensi pemain muda di Palas cukup besar, tetapi belum seluruhnya mendapatkan kesempatan untuk diuji dan dikembangkan melalui kompetisi yang rutin dan terstruktur.
“LPI itu wadah paling tepat menumbuhkan semangat olahraga pelajar. Selain membudayakan kesibukan berolahraga, LPI juga sebagai ajang penyaringan potensi bagi pelajar yang berbakat, khususnya bagi siswa-siswi di Kabupaten Padang Lawas,” tegas Sawal, yang juga merupakan wasit sepak bola berlisensi nasional, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Warga Semangat Gunung Geruduk Kantor Bupati Karo, Desak Jalan Diperbaiki dan Pungli Dihentikan
Bagi Sawal, kompetisi antarsekolah bukan sekadar persoalan mengejar trofi. Lebih jauh, pertandingan menjadi ruang belajar bagi pelajar untuk memahami disiplin, sportivitas, kerja sama tim dan tanggung jawab.
Karena itu, pembinaan sepak bola usia sekolah semestinya dipandang sebagai investasi jangka panjang. Tanpa kompetisi yang berkesinambungan, bakat yang tumbuh di sekolah berisiko berhenti sebagai potensi yang tidak pernah mendapatkan panggung.
LPI dan Piala Soeratin Bukan Kompetisi yang Sama
Dorongan menghidupkan kembali LPI juga disampaikan Kepala SD Negeri 10 Huta Raja Tinggi, Aminuddin Harahap. Ia menilai pemerintah perlu melihat LPI sebagai bagian dari ekosistem pembinaan olahraga di lingkungan pendidikan.
Menurut Aminuddin, keberadaan Piala Soeratin tidak serta-merta menggantikan fungsi LPI. Keduanya memang sama-sama menjadi wadah kompetisi sepak bola usia muda, tetapi memiliki karakter dan orientasi yang berbeda.
Piala Soeratin berada di bawah naungan PSSI dan lebih berorientasi pada pembinaan pemain melalui klub atau akademi sepak bola berdasarkan kelompok umur.
Sementara Liga Pendidikan Indonesia bertumpu pada lembaga pendidikan formal, seperti SMP dan SMA sederajat. Kompetisi tersebut menjadi ruang untuk mengukur hasil pembinaan olahraga yang berlangsung di lingkungan sekolah.
Perbedaan inilah yang membuat LPI dinilai tetap relevan. Sekolah memiliki ruang untuk membina siswa melalui latihan rutin, kemudian menguji hasilnya dalam kompetisi yang mempertemukan sekolah-sekolah lainnya.
Baca Juga: Juli - September 2026, 203 Ribu KK di Kota Medan Terima Bantuan Beras
“LPI sangat dibutuhkan untuk menggairahkan kembali pembinaan sepak bola di sekolah. Jangan sampai anak-anak yang memiliki bakat justru kehilangan wadah untuk mengembangkan kemampuannya,” menjadi semangat yang disuarakan kalangan pendidik.
Aminuddin berharap Pemkab Palas mempertimbangkan penyelenggaraan kembali kompetisi olahraga antarsekolah secara rutin. Menurutnya, kompetisi tersebut dapat menjadi pemantik bagi siswa untuk lebih serius berlatih sekaligus membangun budaya olahraga di lingkungan pendidikan.
Bagi siswa SMPN 5 Trans Aliaga Unit V dan sekolah lainnya di Palas, hadirnya kompetisi rutin akan memberikan tujuan yang lebih jelas dalam proses latihan. Mereka tidak sekadar berlatih di lapangan, tetapi memiliki target untuk bertanding, mengukur kemampuan dan belajar dari lawan.
Pada akhirnya, pembinaan olahraga pelajar tidak boleh ditempatkan sebagai kegiatan pelengkap. Prestasi akademik dan nonakademik seharusnya berjalan beriringan.
Menghidupkan kembali LPI berarti membuka kembali salah satu pintu bagi pelajar Palas untuk bermimpi lebih jauh. Dari lapangan sekolah, talenta-talenta muda bisa ditemukan, dibina dan diarahkan menuju kompetisi yang lebih tinggi, mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi bahkan nasional.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan