Belum Pulih, Ayah Siswa Korban Keracunan MBG di Karo Meninggal Dunia

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:45 WIB
Suasana proses pemakaman ayah Santabila. (Istimewa)
Suasana proses pemakaman ayah Santabila. (Istimewa)

 

KARO, Sumutpos.jawapos.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Sitepu Mergana di Desa Sigarang Garang, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo. Paten Sitepu (50), ayah Santabila Maharani br Sitepu, salah seorang siswa yang sebelumnya menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), meninggal dunia pada Senin (24/8/2026).

Paten meninggal setelah sempat mengeluhkan sakit di bagian dada. Namun hingga kini, belum ada keterangan medis yang memastikan penyebab kematiannya.

Kabar tersebut menjadi perhatian warga Tanah Karo, terlebih Santabila masih menjalani perawatan setelah mengalami gangguan kesehatan pascakejadian yang disebut sebagai keracunan MBG pada Kamis (13/8/2026).

Baca Juga: Pelantikan Ketua dan Pengurus Golkar Sumut Paling Lambat Minggu Kedua September

Di tengah kabar duka itu, beredar pula berbagai spekulasi di media sosial yang mengaitkan kondisi Paten dengan tekanan dan kekhawatiran selama mendampingi putrinya. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan secara medis.

Kondisi Santabila Tak Kunjung Pulih

Istri Paten, Meri br Tarigan, dalam video pernyataan yang beredar di media sosial mengatakan suaminya selama ini tidak memiliki riwayat penyakit.

Meri menuturkan, Santabila sebelumnya dibawa ke RS Amanda Berastagi setelah mengalami gangguan kesehatan yang disebut terjadi setelah mengonsumsi makanan program MBG.

Setelah menjalani perawatan selama sehari, Santabila sempat dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Kedua orangtuanya kemudian membawa Santabila ke kampung halaman mereka di Desa Sigarang Garang.

Namun, kondisi Santabila kembali memburuk. Ia mengalami sesak dan mimisan sehingga lima hari kemudian kembali dilarikan ke RS Amanda Berastagi untuk mendapatkan perawatan.

Baca Juga: Indonesia Wajib Taklukkan Australia, Tiket 8 Besar AVC Women’s Continental Jadi Taruhan

Situasi tersebut membuat kedua orangtuanya diliputi kecemasan. Meri mengaku dirinya dan Paten bergantian mendampingi Santabila selama menjalani perawatan.

“Kami berdua yang menjaga Santabila di rumah sakit,” kenang Meri.

Menurut Meri, kondisi Paten mulai berubah selama mendampingi putrinya. Pola makan dan waktu istirahatnya menjadi tidak teratur. Ia kemudian mulai mengeluhkan sakit di bagian dada.

“Di situlah suami saya mulai mengeluhkan sakit di bagian dadanya. Kumat jantungnya melihat kondisi anaknya,” ungkap Meri.

Ayah Meninggal, Santabila Kembali Drop

Pada Minggu (23/8), Santabila kembali dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, kondisi tersebut kembali berubah setelah mereka tiba di kampung halaman.

Sehari berselang, Paten kembali mengeluhkan sakit di bagian dada. Ia sempat hendak dibawa ke rumah sakit. Namun, sebelum mendapatkan perawatan medis, Paten mengembuskan napas terakhir.

Situasi semakin memilukan karena tak lama setelah ayahnya meninggal, kondisi Santabila kembali menurun. Ia harus kembali dilarikan ke rumah sakit karena mengalami mimisan.

“Saat ayahnya meninggal, Santabila kami bawa lagi ke rumah sakit karena darah terus keluar dari hidungnya,” ujar Meri dengan suara lirih.

Baca Juga: Keributan di Kantor Bupati Langkat Berujung Penangkapan, Polisi Masih Buru Pelaku Lain

Kondisi tersebut membuat Santabila bahkan tidak dapat ikut mengantar jenazah ayahnya ke pemakaman.

Kini, Meri harus menghadapi beban berlapis. Di tengah kehilangan suami, ia masih harus mendampingi Santabila yang membutuhkan perawatan medis sekaligus mengurus tiga anaknya.

Pertanyakan Tanggung Jawab Pengelola MBG

Dalam situasi tersebut, Meri mempertanyakan bentuk tanggung jawab dan bantuan dari pihak pengelola program MBG atas kondisi yang dialami putrinya.

“Apa tanggung jawab dan bantuan kalian untuk anak kami?” tanyanya.

Pernyataan Meri kemudian mendapat perhatian luas setelah beredar di media sosial. Sejumlah warganet menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Paten sekaligus mendoakan kesembuhan Santabila.

Herman, salah seorang orangtua yang anaknya juga menjadi korban dalam kejadian tersebut, mengaku terpukul mendengar kabar duka itu.

“Turut berduka cita ya, nakku,” tulis Herman.

Ia juga mengaku masih dihantui kekhawatiran setelah sebelumnya mendapat kabar anaknya kembali mengeluhkan sakit perut ketika dirinya sedang bekerja di ladang.

Baca Juga: Komisi 2 Dorong Dinkes Medan Siapkan Vaksin Rabies di RS Pirngadi hingga Seluruh Puskesmas

“Sekarang anakku sudah sehat, tapi asam lambungku yang kambuh karena terpukul dengan kejadian ini,” katanya.

Herman berharap para orangtua korban tetap kuat mendampingi anak-anak mereka yang masih mengalami dampak kesehatan.

Sementara itu, desakan agar pemerintah memberikan penjelasan dan pertanggungjawaban terkait kasus dugaan keracunan MBG kembali mencuat di media sosial.

“Miris juga hati ini mendengarnya. Tapi what next. Mari kita satukan barisan untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah secara moral dan material. Jangan harap belas kasihan pemerintah,” tegas Tempel Tarigan.

Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga, kepastian mengenai penyebab meninggalnya Paten menjadi hal penting. Terlebih, hingga kini belum terdapat keterangan medis yang menyatakan bahwa kematiannya berkaitan dengan kejadian yang dialami putrinya. (deo/han)

Editor : Johan Panjaitan
ayah siswa keracunan meninggal dunia Mbg