Wartawan Dituntut Tetap Kritis dan Verifikatif di Tengah Gempuran AI

Juli Rambe • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:42 WIB
MATERI: Nurhalim Tanjung saat memberikan materi dalam kegiatan Media Gathering Forum Jurnalis Militan (FJM) di Pantai Citra, Desa Namo Sialang, Kabupaten Langkat, Minggu (6/9/2026).(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)
MATERI: Nurhalim Tanjung saat memberikan materi dalam kegiatan Media Gathering Forum Jurnalis Militan (FJM) di Pantai Citra, Desa Namo Sialang, Kabupaten Langkat, Minggu (6/9/2026).(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)

 

LANGKAT, SUMUT POS- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar terhadap dunia jurnalistik.

Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat produksi berita, namun wartawan tetap dituntut mempertahankan kemampuan menulis, berpikir kritis, melakukan verifikasi dan bertanggung jawab terhadap setiap karya jurnalistik yang dihasilkan.

Hal itu disampaikan ahli pers Nurhalim Tanjung dalam kegiatan Media Gathering Penguatan Kapasitas Wartawan Media Siber Menghadapi Tantangan di Era AI yang digelar Forum Jurnalis Militan (FJM) di Pantai Citra, Desa Namo Sialang, Kabupaten Langkat, Minggu (6/9/2026).

Baca Juga: Gugatan Rektor, Ketua Senat serta Direktur APP UDA Ditolak PN Medan

Kegiatan tersebut diikuti wartawan media cetak maupun media siber sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan profesionalisme jurnalis dalam menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.

Menurut Nurhalim, wartawan tidak perlu menutup diri terhadap perkembangan AI. Sebaliknya, insan pers harus memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut secara proporsional.

Namun, AI tidak boleh mengambil alih peran manusia dalam proses jurnalistik.

“AI itu kita anggap sebagai alternatif atau asisten. Bukan prioritas. Kita tetap menjadi penentunya,” kata Nurhalim.

Ia menjelaskan, wartawan dapat menggunakan AI untuk membantu mengolah bahan, menyusun struktur tulisan, melakukan penyuntingan awal maupun mempercepat pekerjaan redaksi. Namun, seluruh informasi tetap harus diperiksa kembali oleh wartawan.

“Kita tidak menyerahkan 100 persen kepada AI. Kita edit lagi, kita periksa datanya, kita pastikan faktanya. Ada bahasa-bahasa yang kaku dan ada konteks yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada mesin,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalamannya ketika menjadi juri festival seni dan lomba penulisan feature bagi pelajar SMA. Dalam perlombaan tersebut, sejumlah peserta diketahui menggunakan AI untuk membuat karya.

Meski peserta tersebut meminta maaf, karya yang dibuat dengan bantuan AI tersebut tidak diloloskan dalam perlombaan.

Dalam menghadapi era AI, Nurhalim juga menilai perlu adanya kesepakatan di kalangan media mengenai batas penggunaan teknologi tersebut.

Nurhalim juga menyoroti kebiasaan wartawan yang semakin bergantung pada perangkat digital.

Padahal, kegiatan sederhana seperti mencatat poin-poin hasil wawancara tetap memiliki fungsi penting dalam melatih daya ingat dan kemampuan berpikir.

“Kenapa kita tetap disuruh menulis? Karena itu melatih otak. Saya sendiri masih membuat notes dan bullet point. Poin-poin itu kita tulis, kemudian kita ingat kembali,” katanya.

Menurut dia, proses mencatat, mengingat, mengolah informasi dan kemudian menyusunnya menjadi berita merupakan bagian penting dari kerja jurnalistik.

“Kita yang menentukan. AI hanya alat bantu,” katanya.

Jika sebelumnya seorang editor hanya mampu menyunting sekitar 20–30 berita dalam sehari, teknologi AI dapat membantu mempercepat proses tersebut hingga puluhan bahkan sekitar 50–100 berita, tentunya dengan tetap membutuhkan pemeriksaan manusia.

Karena itu, persoalannya bukan lagi menggunakan atau tidak menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab. (san/ram)

 

Editor : Juli Rambe
teknologi AI fjm sumut