Pengamat Dorong Penerapan HACCP hingga Penyimpanan Sampel Makanan untuk MBG

Juli Rambe • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 19:30 WIB
Pengamat Kesehatan Sumut, Destanul Aulia.(Dok : Destanul Aulia)
Pengamat Kesehatan Sumut, Destanul Aulia.(Dok : Destanul Aulia)

 

MEDAN, SUMUT POS– Kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Karo harus menjadi perhatian serius dalam penerapan standar keamanan pangan.

Temuan tiga jenis bakteri pada sampel makanan yang dikonsumsi siswa dinilai tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan makanan basi, tetapi harus menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh rantai penyediaan makanan.

Pengamat Kesehatan Sumatera Utara, Destanul Aulia, mengatakan kasus tersebut perlu ditangani secara serius karena menyangkut keamanan pangan yang dikonsumsi oleh anak-anak sekolah dalam jumlah besar.

Baca Juga: Polisi Bongkar Jaringan Narkoba, Bandar Hingga Pemilik Gudang Ditangkap

"Kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis harus dipandang sebagai kejadian serius dalam keamanan pangan, bukan sekadar persoalan makanan basi," ujar Destanul saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Selasa (8/9/2026).

Destanul menegaskan, keberadaan bakteri tertentu sebagai penyebab utama gangguan kesehatan harus dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan gejala klinis yang dialami pasien.

"Jenis penyebabnya tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan gejala. Harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, air, muntahan, atau feses pasien," katanya.

Destanul menilai evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, khususnya setelah muncul kasus gangguan kesehatan di Karo, harus dilakukan secara menyeluruh. 

"Evaluasi harus dilakukan dari hulu sampai hilir, mulai dari pemilihan bahan, kualitas air, kebersihan penjamah, pemasakan, penyimpanan, pengangkutan, suhu makanan, dan lamanya waktu sejak makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi," jelasnya.

Ia menekankan, pengendalian suhu dan waktu menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan makanan. Makanan yang telah selesai dimasak harus ditangani dan disimpan dengan prosedur yang tepat agar tidak menjadi media berkembangnya mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.

Destanul juga mendorong agar pelaksanaan MBG menerapkan pengawasan berbasis Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), yakni pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya dalam proses pengolahan makanan.

Selain penerapan HACCP, ia menilai pemeriksaan kesehatan terhadap penjamah makanan juga perlu dilakukan secara berkala. Hal tersebut penting untuk memastikan orang-orang yang terlibat langsung dalam proses pengolahan makanan berada dalam kondisi sehat dan memenuhi standar kebersihan serta keamanan pangan.

"Program MBG membutuhkan pengawasan berbasis HACCP, pemeriksaan kesehatan penjamah makanan, pencatatan suhu, penyimpanan sampel setiap menu, serta mekanisme respons cepat apabila muncul gejala pada siswa," ungkap Destanul.

Dengan adanya sampel yang terdokumentasi, proses investigasi dapat dilakukan secara lebih cepat untuk mengetahui kemungkinan sumber kontaminasi.

Di sisi lain, Destanul mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap seluruh bakteri sebagai mikroorganisme yang berbahaya. Sebab, terdapat banyak jenis bakteri yang justru memiliki fungsi penting bagi tubuh manusia.

"Ya, bakteri tertentu dapat membahayakan kesehatan manusia, tetapi tidak semua bakteri berbahaya. Banyak bakteri justru bermanfaat, misalnya bakteri baik di dalam usus," katanya.(san/ram)

Editor : Juli Rambe
keracunan mbg di karo Destanul Aulia Mbg