Bobby Nasution Persilahkan Pengobatan Tradisional untuk Siswan Dugaan Keracunan MBG di Karo

Juli Rambe • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 13:36 WIB
Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution.(Dok : Kominfo Sumut)
Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution.(Dok : Kominfo Sumut)

 

MEDAN, SUMUT POS- Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memastikan kondisi para siswa yang mengalami gangguan kesehatan dalam kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo terus mendapat pemantauan.

Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap kondisi fisik atau medis para siswa, tetapi juga terhadap kondisi psikologis mereka. Hal itu dilakukan menyusul adanya laporan mengenai siswa yang mengalami gangguan ingatan setelah kejadian tersebut.

“Ini masih kita pantau, baik secara medis maupun secara psikis,” kata Bobby saat memberikan keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: Imigrasi Medan Jadi Lokus Pembelajaran Kinerja PKA LAN II

Bobby menyebut penyelidikan terkait penyebab gangguan kesehatan para siswa juga masih dilakukan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah makanan atau buah yang dikonsumsi para siswa sebelum mengalami keluhan kesehatan.

“Apakah ini dari buahnya, apakah dari makanannya, itu yang masih kita lihat dan kita selidiki,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan dan penyelidikan selesai. Karena itu, berbagai informasi dan hasil pemeriksaan harus menjadi dasar dalam menentukan langkah selanjutnya.

Selain pemeriksaan medis, Bobby juga menilai evaluasi psikologis perlu dilakukan terhadap siswa yang mengalami gangguan setelah kejadian. Menurutnya, kondisi psikologis korban tidak boleh diabaikan karena pengalaman yang dialami dapat menimbulkan trauma.

“Termasuk kita lihat juga dari sisi psikologisnya, apakah ada trauma atau tidak,” katanya.

Bobby menegaskan, penanganan para siswa merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya sektor kesehatan, sektor pendidikan juga memiliki peran dalam memastikan siswa dapat kembali menjalani aktivitas belajar dengan baik setelah mengalami kejadian tersebut.

“Ini tanggung jawab kita bersama, baik kesehatan maupun pendidikan,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah juga membuka kemungkinan penggunaan metode pengobatan tradisional apabila memang dibutuhkan dalam proses pemulihan siswa. Namun, opsi tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing korban dan tidak mengesampingkan penanganan medis.

Bobby mengatakan seluruh pilihan yang dapat membantu proses pemulihan siswa akan dipertimbangkan selama memberikan manfaat bagi korban.

“Kalau memang diperlukan untuk pemulihan, kita dukung juga. Yang penting anak-anak ini bisa kembali pulih,” ujarnya.

Kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo sebelumnya menjadi perhatian setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program tersebut.(san/ram)

Editor : Juli Rambe
korban keracunan mbg di karo Keracunan MBG Mbg