KARO, Sumutpos.jawapos.com – Peristiwa keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi meninggalkan persoalan yang belum sepenuhnya selesai. Sejumlah siswa masih harus menjalani perawatan, sementara sebagian lainnya menghadapi kondisi kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Salah satunya Febiola Br Purba, siswi kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Bersama Berastagi. Setelah mengalami insiden keracunan MBG, kondisi Febiola disebut masih mengkhawatirkan. Ia berulang kali mengalami kejang dan menurut keluarganya kerap mengalami halusinasi.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) memberikan pendampingan psikologis kepada Febiola.
Baca Juga: Kejari Langkat Eksekusi Pemilik Dapur Minyak Ilegal, Rita Akhirnya Dijebloskan ke Rutan
Pendampingan dilakukan di kediaman Febiola, Kelurahan Tambak Lau Mulgab II, Kecamatan Berastagi, Selasa (8/9). Konseling dilakukan langsung psikolog anak dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Karo.
Pendampingan tidak berhenti pada kunjungan pertama. Tim psikolog UPTD PPA telah menjadwalkan konseling lanjutan secara berkala untuk membantu memantau kondisi psikologis Febiola.
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Karo, Data Martina Br Ginting, memimpin kunjungan tersebut bersama Camat Berastagi Ijin Gurusinga dan perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan pemulihan korban tidak hanya dilihat dari sisi medis, tetapi juga dari kondisi psikologis setelah mengalami peristiwa yang berdampak pada keseharian mereka.
Kembali Kejang di RS Adam Malik
Di sisi lain, kondisi Febiola masih menjadi perhatian serius keluarga.
Pada Selasa siang, Febiola kembali mengalami kejang ketika berada di RSUP H Adam Malik Medan. Saat itu, ia tengah menjalani pemeriksaan lebih lanjut setelah kembali dibawa ke rumah sakit oleh ibunya, Elvinus Lusiana Sitanggang, bersama pihak Badan Gizi Nasional (BGN).
Elvinus menuturkan, putrinya juga sempat mengalami kondisi yang oleh keluarga dipersepsikan sebagai halusinasi. Dalam salah satu kejadian, Febiola berulang kali mengajak ibunya seolah-olah ada teman yang datang menjemput.
“Ajok, ajok,” begitu kalimat yang berulang kali diucapkan Febiola kepada ibunya.
Elvinus mengaku terpukul melihat kondisi putrinya yang belum kunjung pulih. Sejak insiden keracunan MBG, Febiola disebut telah mendapatkan penanganan di lima rumah sakit.
“Tadi saat berada di RS Adam Malik pun dia kejang kembali,” ujar Elvinus.
Baca Juga: Banjir Makin Parah, Ketua Fraksi KPN Desak Pemkab Batu Bara Turun ke Gambus Laut
Di RSUP H Adam Malik, Febiola menjalani sejumlah pemeriksaan, termasuk pemeriksaan berkaitan dengan kondisi saraf dan kejang yang dialaminya. Pemeriksaan radiologi serta pemeriksaan di bagian psikiatri juga dilakukan.
Menurut Elvinus, dokter juga menemukan kondisi pada lidah Febiola yang tertarik ke dalam ketika mengalami kejang. Dokter kemudian meminta keluarga merekam setiap kejadian kejang untuk membantu proses evaluasi dan menentukan penanganan yang sesuai.
“Dokter suruh videokan setiap kali ia mengalami kejang-kejang. Kata dokter, video itu dibutuhkan supaya dokter bisa menentukan obatnya,” ungkap Elvinus.
Menurut keluarga, keluhan kejang dan kondisi yang mereka sebut sebagai halusinasi mulai muncul setelah peristiwa keracunan MBG.
“Sering kejang dan halusinasi, seolah dia diajak temannya. ‘Ada temanku, ayok-ayok,’ katanya. Saya sudah bilang kamu halusinasi, tapi begitu terus,” kenang Elvinus.
Padahal, sebelum kejadian tersebut, Febiola disebut dalam kondisi sehat, ceria dan berprestasi di sekolah.
“Juara dia di sekolahnya,” ujar Elvinus dengan mata berkaca-kaca.
Baca Juga: Pasca Erupsi Gunung Sinabung, Polisi Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Sukatepu
Febiola bahkan memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas ternama di Singapura. Namun, kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih membuat keluarga kini lebih fokus pada proses pengobatan dan pemulihannya.
Elvinus berharap putrinya mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak terus-menerus keluar masuk rumah sakit.
“Tolonglah, aku mohon berikanlah anak saya obat yang tepat, agar penyakitnya tidak bolak-balik,” pintanya.
Ia juga berharap ada pertanggungjawaban terhadap kondisi kesehatan Febiola setelah insiden keracunan MBG, termasuk memastikan pengobatan dapat berlangsung hingga putrinya benar-benar pulih.
Korban Lain Masih Jalani Perawatan
Febiola bukan satu-satunya korban yang masih membutuhkan perhatian. Sejumlah siswa lainnya juga masih menghadapi persoalan kesehatan setelah insiden keracunan MBG.
Agnesia P Silitonga, misalnya, disebut mengalami gangguan ginjal. Dalam beberapa hari terakhir, kondisinya dikabarkan memburuk sehingga kembali dibawa ke RS Efarina Berastagi.
Fitriani Br Sijabat, ibu Agnesia, mengatakan dokter menyarankan agar putrinya menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Medan.
“Kata dokter, anak saya mengalami gangguan ginjal, hingga disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit di Medan,” ujarnya.
Kondisi berbeda dialami Karissa Zefania Aritonang. Ia kembali menjalani perawatan setelah mengalami gangguan pada jantung.
Menurut orangtua Karissa, putrinya memang sebelumnya memiliki riwayat gangguan jantung. Namun, keluarga menyebut kondisi tersebut kambuh dan memburuk setelah insiden keracunan MBG.
“Keracunan MBG itu membuat sakit jantungnya kambuh dan makin parah. Makanya saat kena racun MBG kemarin, anak kita langsung sesak,” kata orangtua Karissa.
Baca Juga: Plt Bupati Langkat Tiorita Gebrak Penertiban Aset, Seluruh Kendaraan Dinas Diperiksa
Karissa sempat menjalani perawatan selama tiga hari di RS Amanda sebelum dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis jantung.
Sementara itu, Krismas Dayanti Sihite, siswi SMAN 1 Berastagi, juga sempat mengalami keluhan sakit perut dan ulu hati setelah mengonsumsi menu MBG. Kondisinya berangsur membaik setelah mendapat perawatan, namun keluarga masih terus memantau perkembangannya.
Sebelumnya, ayah Krismas, Sihite, menyampaikan bahwa dokter menemukan indikasi yang disebut berkaitan dengan paparan racun jamur dan berdampak pada saraf putrinya. Temuan tersebut merupakan bagian dari pemeriksaan medis yang masih perlu ditindaklanjuti.
Rangkaian kondisi para korban menunjukkan bahwa penanganan pascainsiden keracunan MBG belum berhenti setelah perawatan awal. Sebagian korban masih membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan lanjutan, sementara keluarga harus menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi kesehatan anak-anak mereka.
Persoalan pembiayaan juga menjadi perhatian keluarga korban. Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Karo, pihak BGN menegaskan akan menanggung seluruh biaya perawatan para korban.
Di tengah proses pemulihan tersebut, pendampingan psikologis menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari penanganan korban. Pemerintah diharapkan terus memastikan para siswa mendapatkan dukungan secara menyeluruh, sehingga mereka tidak hanya memperoleh perawatan medis, tetapi juga pendampingan hingga mampu kembali menjalani aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari. (deo/han)
Editor : Johan Panjaitan