BATUBARA, Sumutpos.jawapos.com – Sebanyak 211 rumah warga di Dusun VI, VII, dan VIII, Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, terendam banjir. Lonjakan debit air kiriman dari wilayah hulu Simalungun yang berada di luar perkiraan membuat Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumatera Utara memperkuat langkah teknis untuk mengendalikan aliran air.
PSDA Sumut menginstruksikan UPL Gambus memperkuat cofferdam Tanjung Muda dan cofferdam Sungai Gambus. Rekayasa aliran juga ditingkatkan pada kisaran 40 hingga 60 persen untuk mengantisipasi tingginya debit air yang masuk ke kawasan Gambus Laut.
UPL II Simpang Gambus, Sumarno, mengatakan langkah tersebut merupakan respons cepat untuk mengendalikan dampak banjir sekaligus mengantisipasi potensi kembali meluapnya Sungai Gambus.
Baca Juga: SPPG Sempa Jaya Tetap Beroperasi Meski Ada Instruksi Penghentian dari BGN
Menurutnya, debit air kiriman dari Simalungun pada Selasa (8/9) mengalami peningkatan signifikan. Kondisi tersebut terpantau pada regulator Bendung Sumanggar/Tanjung Muda maupun aliran Sungai Gambus.
“Deteksi tim UPL Gambus, di Sungai Gambus pada Rabu (9/9) sekitar pukul 07.00 WIB ketinggian air sekitar 60 sentimeter. Namun Selasa (8/9) malam mencapai 120 sentimeter. Bantaran yang biasanya tidak pernah penuh, saat itu sampai penuh,” ujar Sumarno saat ditemui Sumut Pos di Kantor UPL Gambus, Rabu (9/9).
Untuk kondisi ketinggian air di Bendung Regulator Sumanggar/Tanjung Muda, Sumarno mengatakan tim masih melakukan pengecekan langsung di lapangan sehingga belum dapat memastikan angkanya.
Rekayasa Aliran Diperkuat
Upaya pengendalian banjir sebelumnya telah dilakukan bersama Komisi IV DPRD Batu Bara, rekanan, konsultan proyek, Dinas PUPR Batu Bara, kelompok tani Desa Gambus, serta pemerintah Desa Gambus Laut dan Desa Kuala Indah.
Langkah tersebut mencakup normalisasi dan rekayasa aliran air. Pada sejumlah titik, pemasangan sheet pile atau sengbed juga dilakukan untuk mengendalikan sekaligus mengarahkan aliran.
Baca Juga: Peringatan Erupsi Anak Krakatau Jadi Kendala Pencarian Lima Jurnalis
Sumarno menyebut langkah pengendalian yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil. Di bagian hilir Sungai Gambus, kondisi banjir disebut telah mereda sehingga petani setempat bahkan berencana kembali bercocok tanam pada Oktober mendatang.
“Untuk instruksi PSDA itu sudah dilakukan. Terpantau di hilir Sungai Gambus tidak terjadi lagi banjir. Bahkan petani di sana akan mulai bercocok tanam lagi pada Oktober ini,” katanya.
Selain itu, sebagian volume air dari Bendung Tanjung Muda dialihkan menuju Daerah Irigasi (DI) Tanjung. Saluran tersebut sebelumnya telah selesai dinormalisasi sehingga diharapkan mampu menampung dan mengalirkan sebagian debit air.
Namun, persoalan kembali muncul ketika debit kiriman dari wilayah Simalungun meningkat tajam.
“Selain penguatan cofferdam Tanjung Muda, kita perkuat cofferdam Sungai Gambus. Rekayasa aliran Sungai Gambus sebesar 40-60 persen dan volume air dialihkan ke DI Tanjung yang normalisasinya sudah selesai,” jelas Sumarno.
Pola tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap Sungai Gambus. Dengan sebagian volume air dialihkan ke DI Tanjung, debit besar yang masuk diharapkan tidak seluruhnya membebani aliran menuju kawasan permukiman Gambus Laut.
PSDA Minta Maaf kepada Warga
Di tengah upaya penanganan, Sumarno menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Batu Bara, khususnya warga Gambus Laut yang terdampak banjir.
Dia memastikan tim dan peralatan akan diturunkan untuk mempercepat penanganan kondisi di lapangan.
“Mohon maaf kami kepada masyarakat. Demi Allah, PSDA tidak ada sedikit pun niat mencederai masyarakat Desa Gambus Laut. Untuk penanganan kondisi ini, saya pastikan turunkan alat dan tim untuk mengatasi kondisi ini,” tegasnya.
Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Perankan Karakter Idaman, Jadi Kasih Kinanti di Laut Bercerita
Sumarno mengakui pembangunan Bendung Sidalu Dalu serta sistem irigasi yang berkaitan dengan Bendung Regulator Sumanggar/Tanjung Muda tidak terlepas dari berbagai dinamika di lapangan.
Namun, dia menegaskan setiap pembangunan membutuhkan pola pengelolaan dan pengendalian agar dampak yang muncul dapat ditekan seminimal mungkin.
“Sepanjang bendung belum bagus, maka pola tanamnya belum efektif,” ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa persoalan banjir di Gambus Laut tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi cofferdam. Sedimentasi di permukaan turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan sistem aliran air.
Karena itu, penguatan konstruksi pengendali air, normalisasi saluran, dan rekayasa aliran kini menjadi langkah utama yang dikebut PSDA Sumut.(lib/han)
Editor : Johan Panjaitan