BATUBARA, SUMUT POS– Banjir ke-2 yang merendam ratusan rumah warga Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara, kembali menuai sorotan.
Alpon Sirait, Anggota DPRD asal Partai Perindo meminta Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumatera Utara tidak hanya melihat tingginya debit air sebagai dampak curah hujan maupun banjir kiriman dari wilayah hulu.
Kepastian mengenai sumber dan arah aliran air dinilai penting. Sebab, banjir yang terjadi di Gambus Laut diduga berkaitan dengan rekayasa pengalihan debit air ke Sungai Gambus dalam proses rehabilitasi Bendung Sidalu-Dalu.
Baca Juga: Wabup Adlin Tambunan Dampingi Ijeck Tinjau Pembangunan Jalan Nasional dan Sekolah Rakyat
Ia menilai instruksi PSDA Sumut kepada ULP Gambus untuk memperkuat Cofferdam Tanjung Muda dan Cofferdam Sungai Gambus serta melakukan rekayasa pembagian aliran air merupakan langkah yang tepat.
“Memang itulah yang semestinya dilakukan. Debit air harus direkayasa, sekitar 40 persen masuk ke Sungai Sidalu-Dalu dan 60 persen mengalir ke Sungai Tanjung,” ujar Alpon saat diwawancarai Sumutpos, Jumat(11/9/2026).
Menurut dia, pembagian debit tersebut penting agar Sungai Gambus tidak menerima seluruh limpahan air. Jika seluruh debit diarahkan melalui Sungai Sidalu-Dalu kemudian tertahan di cofferdam hulu Bendung Cinta Maju, limpahan air dikhawatirkan kembali masuk ke Sungai Gambus.
“Kalau semua debit air dialirkan ke Sungai Sidalu-Dalu, kemudian tertahan di cofferdam di hulu Bendung Cinta Maju, otomatis air masuk ke Sungai Gambus. Sungai Gambus tentunya tidak mampu menampung seluruh debit air Sungai Bah Bolon,” jelasnya.
Alpon meminta PSDA Sumut memastikan kondisi debit air dari wilayah hulu. Ia mengingatkan agar dugaan banjir kiriman dari Simalungun tidak langsung dijadikan kesimpulan tanpa pengecekan di lapangan.
“Memang perlu dipastikan, apakah selama dua hari ini benar ada banjir kiriman dari Simalungun. Jangan kita hanya berandai-andai. Jangan-jangan ada pengalihan atau bagian Sungai Tanjung yang jebol,” tegasnya.
Karena itu, PSDA Sumut diminta segera berkoordinasi dengan UPT Bah Bolon di Pematangsiantar untuk mengetahui kondisi debit air dari wilayah hulu.
Alpon juga mengingatkan agar penanganan kondisi darurat tidak serta-merta dibebankan kepada kontraktor pelaksana proyek Bendung Sidalu-Dalu. Sebab, pekerjaan kontraktor berada pada lingkup pembangunan Bendung Cinta Damai/Cinta Maju.
“Kalau kontraktor diarahkan ke sana, tentunya itu di luar tupoksinya. Karena pekerjaan mereka di Bendung Cinta Damai/Cinta Maju,” katanya.
Menurutnya, PSDA Sumut harus memiliki skema anggaran yang jelas apabila penanganan darurat membutuhkan anggaran rutin. Penguatan cofferdam, kata Alpon, juga tidak cukup hanya dengan menutup sejumlah segmen.
Dua Kali Banjir, 211 Rumah Terendam
Diketahui, dampak pengalihan debit air dalam pelaksanaan rehabilitasi Bendung Sidalu-Dalu ke Sungai Gambus telah terjadi dua kali.
Banjir pertama pada Agustus lalu menyebabkan sekitar 150 hektare areal pertanian cabai terdampak hingga berpotensi gagal panen. Selain itu, permukiman warga di Dusun VI, VII dan VIII Desa Gambus Laut turut terendam.
Kondisi kembali terjadi pada awal September, bahkan dampaknya disebut lebih parah. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batu Bara, sebanyak 211 rumah warga di Dusun VI, VII dan VIII Desa Gambus Laut terendam.
Air bahkan telah masuk ke rumah-rumah warga. Akses transportasi desa juga sempat terputus akibat genangan.
Kondisi tersebut membuat persoalan pengendalian debit air menjadi semakin mendesak. Apalagi, masyarakat tidak hanya menghadapi ancaman terhadap permukiman, tetapi juga kerugian pada sektor pertanian.
1.640 Hektare Sawah Terdampak
Persoalan Bendung Sidalu-Dalu juga berdampak terhadap petani di wilayah aliran bendung.
Alpon mengatakan, kerusakan Bendung Sidalu-Dalu yang berlangsung sekitar tiga tahun menyebabkan aliran air tidak masuk ke saluran permanen di lima desa.
“Bisa dikatakan selama tiga tahun atau 2,5 kali pola tanam, seluas 1.640 hektare petani gagal tanam karena tidak ada air masuk ke areal persawahan,” ungkapnya.
Menurut Alpon, kondisi tersebut sangat disayangkan karena kawasan Air Putih merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar di Kabupaten Batu Bara.
Karena itu, ia berharap pembangunan dan rehabilitasi Bendung Sidalu-Dalu dapat segera dituntaskan sehingga fungsi pengairan kembali normal dan petani dapat mengolah lahan mereka.(lib/ram)
Editor : Juli Rambe