FKPT Sumut dan BNPT Ajak Guru Tangkal Paham Kekerasan di Ruang Digital

Juli Rambe • Dipublikasikan Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:44 WIB
SAMBUTAN: Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, Irjen Pol Wawan Ridwan memberikan sambutan literasi digital dihadapan ratusan guru di Medan, Selasa (20/10/2026). (Dok: Gusman/Sumut Pos)
SAMBUTAN: Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, Irjen Pol Wawan Ridwan memberikan sambutan literasi digital dihadapan ratusan guru di Medan, Selasa (20/10/2026). (Dok: Gusman/Sumut Pos)

 

MEDAN, SUMUT POS - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Sumatera Utara (FKPT Sumut) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengajak para guru memperkuat literasi digital dan moderasi beragama untuk mencegah penyebaran paham radikalisme serta kekerasan di kalangan pelajar.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan literasi digital berbasis moderasi yang digelar di Medan, pada 20-21 Oktober 2026.

Kegiatan ini diikuti lebih dari 250 peserta, terutama kalangan pendidik yang dinilai memiliki peran strategis dalam membangun karakter dan pola pikir generasi muda.

Baca Juga: Kapolda Sumut Raih Penghargaan Achievement Person

Ketua FKPT Sumut, Prof Arifuddin Muda Harahap, menekankan pentingnya keterlibatan guru dalam membimbing siswa menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital.

"Perkembangan teknologi harus diimbangi kemampuan memilah informasi agar pelajar tidak mudah terpengaruh konten yang mengandung kebencian maupun ajakan melakukan kekerasan," ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Peran pendidik, lanjutnya, tidak hanya menyampaikan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan sikap toleran, dan membangun daya kritis siswa ketika berhadapan dengan beragam informasi di internet.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, Irjen Pol Wawan Ridwan, menyoroti pentingnya upaya pencegahan sejak dini untuk menghadapi penyebaran paham ekstremisme.

"Ruang digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan positif, tetapi juga berpotensi menjadi sarana penyebaran ideologi kekerasan apabila tidak disikapi secara bijak," katanya.

Ia menyebut sekitar 740 anak di sejumlah provinsi, telah terpapar ideologi kekerasan. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 anak disebut terpapar melalui jaringan.

"Informasi dari pihak intelijen Densus bahwa jumlah anak yang terpapar diperkirakan telah mencapai lebih dari 4.000 orang, sementara angka yang baru dirilis sekitar 700-an anak," ungkapnya.

Sementara, Anggota Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, turut menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mencegah penyebaran paham kekerasan. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga terkait, tenaga pendidik, keluarga, dan masyarakat.

"Guru diharapkan mampu menjadi salah satu garda terdepan dalam menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, serta sikap saling menghormati di lingkungan pendidikan," jelasnya.

Dengan begitu, kata dia, para pelajar dapat memiliki pemahaman yang kuat untuk menghadapi informasi dan ajakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan persatuan.

Melalui kegiatan ini, FKPT Sumut dan BNPT berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Penguatan literasi digital dan moderasi diharapkan menjadi langkah preventif untuk menciptakan ruang digital yang sehat sekaligus membentengi generasi muda dari pengaruh paham kekerasan. (man/ram)

Editor : Juli Rambe
FKPT Sumut ideologi kekerasa bnpt literasi digital