BINJAI, SUMUTPOS.CO- Inspeksi mendadak yang dilakukan Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi ke Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham, mengungkap fakta baru. Selain pelayanan yang buruk di rumah sakit milik Pemerintah Kota Binjai, fasilitas di sana juga mengejutkan orang nomor dua di pemerintah kota tersebut.
Pasien rawat inap pun mengakuinya terkait fasilitas buruk di RSUD Djoelham. "Pelayanan bagus, cuma fasilitas yang ada di ruangan kurang. AC mati sudah rusak," kata Kartina, warga Cengkehturi, Binjai Utara, Rabu (12/3/2025).
Ia menyebut, kondisi air di dalam kamar mandi terasa panas. "Air yang ada di kamar mandi saat mau ambil wudhu, panas. Macam di Sidebukdebuk, wajah pun panas, gak berani saya," bebernya.
"Wastafel yang ada di ruangan ini juga rusak. Termasuk tempat tidur ini goyang-goyang," sambungnya.
Karenanya, Kartina berharap, Pemerintah Kota Binjai dapat lebih memberi perhatian kepada fasilitas di RSUD Djoelham.
Sementara, Wawako Binjai, Hasanul Jihadi yang karib disapa Jiji menyebut, akan membahas atau menggelar rapat internal menyoal meninggal dunianya bayi 11 bulan dan pasien cuci darah.
Rapat itu rencananya akan digelar Jum'at (14/3/2025). "Terkait bayi 11 bulan itu, hari Jumat kita akan melakukan rapat internal. Baik itu terkait masalah yang viral dan termasuk juga no water saat pasien cuci darah dan lainnya," ujar mantan tenaga ahli Bobby Nasution saat jadi wali kota.
Dia menegaskan, Pemko Binjai akan bertanggung jawab atas tindaklanjut di RSUD Djoelham. "Kalau memang yang dianggap kurang, kita akan melakukan perbaikan. Namun kita meyakini jika segala sesuatu sudah sesuai SOP," tukasnya.
Wawako Binjai turun gunung usai pelayanan buruk pada RSUD Djoelham menjadi perbincangan hangat masyarakat Kota Binjai. Soalnya, seorang pasien atas nama R br Ketaren (75) meninggal dunia saat sedang melakukan cuci darah kedua di RSUD Djoelham.
Anak korban merasa tak puas dan ganjal atas kematian ibunya. Sebab sebelum ibunya wafat, alarm mesin cuci darah berbunyi dan muncul tulisan no water.
Bahkan anak korban menyurati DPRD dan Inspektorat Binjai untuk menindaklanjuti yang dialami ibunya sebelum meninggal dunia. Selain pasien cuci darah, pelayanan RSUD Djoelham juga disoroti keluarga Agung Pramana.
Anak Agung yang belum genap 1 tahun berinsial MAP harus meninggal dunia karena kelamaan menunggu dokter spesialis anak dan bahkan hingga bermalam. Alhasil, bayi 11 bulan itu meninggal dunia di RSUD Djoelham pada siang harinya. (ted/han)
Editor : Johan Panjaitan