Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ketika Orang Tua Masih Menopang Anak Dewasa: Potret Rapuhnya Kemandirian Finansial Gen Z

Redaksi • Minggu, 3 Mei 2026 | 22:54 WIB
Ilustrasi. Sekitar 64% orang tua masih membiayai anak-anak mereka dari generasi Z yang telah berusia dewasa. (Freepik.com)
Ilustrasi. Sekitar 64% orang tua masih membiayai anak-anak mereka dari generasi Z yang telah berusia dewasa. (Freepik.com)

 

sumutpos.jawapos.com – Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global, lanskap kemandirian finansial generasi muda mengalami pergeseran signifikan. Bagi sebagian keluarga, batas antara “membantu” dan “menanggung” kini menjadi semakin kabur.

Melansir Instagram @lambegosiip, Minggu (3/5/2026), laporan terbaru 2026 Wells Fargo Money Study mengungkap fakta mencolok: sekitar 64% orang tua masih membiayai anak-anak mereka dari generasi Z yang telah berusia dewasa, yakni rentang 18 hingga 28 tahun. Fenomena ini bukan sekadar soal hubungan keluarga, tetapi telah berkembang menjadi isu struktural yang menekan keuangan rumah tangga.

Bagi orang tua, dukungan finansial ini tidak datang tanpa konsekuensi. Lebih dari separuh atau sekitar 56% mengaku kondisi keuangan mereka ikut terbebani akibat terus menopang kebutuhan anak yang seharusnya sudah mandiri.

Baca Juga: BPK Temukan Rp161,73 Miliar Subsidi Haji Tak Tepat Sasaran, Ribuan Jemaah Bermasalah Tetap Berangkat

Bentuk bantuan pun beragam, mulai dari uang tunai, tempat tinggal, hingga biaya hidup sehari-hari. Dalam banyak kasus, dukungan ini berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, seiring sulitnya Gen Z mencapai stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, generasi muda juga tidak sepenuhnya nyaman dengan kondisi tersebut. Sekitar 46% Gen Z menggambarkan kondisi finansial mereka “berantakan”. Ini mencerminkan tekanan psikologis sekaligus realitas ekonomi yang belum berpihak.

Ketergantungan finansial berdampak langsung pada tertundanya berbagai fase penting kehidupan. Banyak Gen Z harus menunda rencana pindah rumah, menikah, melanjutkan pendidikan, bahkan mengganti karier.

Baca Juga: Tutup Musim dengan Imbang, PSMS Finis Ketujuh

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan bukan semata gaya hidup, melainkan kombinasi antara tingginya biaya hidup, stagnasi pendapatan, dan perubahan struktur ekonomi yang membuat generasi muda lebih rentan.

Fenomena ini juga menantang persepsi lama yang kerap menyebut Gen Z “boros” atau “kurang mandiri”. Realitasnya, mereka berada dalam tekanan sistemik yang lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Menariknya, dalam menghadapi kebuntuan finansial, Gen Z justru tidak sepenuhnya bergantung pada lembaga keuangan tradisional. Sebagian memilih mencari nasihat keuangan melalui YouTube, disusul media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta komunitas online.

Baca Juga: Friendster Bangkit Lagi: Jejaring Sosial yang Memaksa Pengguna Kembali ke Dunia Nyata, Netizen Terbelah

Perubahan ini menandakan adanya pergeseran kepercayaan, dari institusi formal menuju ekosistem digital yang lebih cepat, fleksibel, dan terasa relevan. Namun, pergeseran ini juga menyimpan risiko, terutama terkait validitas informasi dan literasi keuangan yang belum merata.

Pakar keuangan menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga. Transparansi, ekspektasi yang jelas, dan perencanaan bersama menjadi fondasi untuk melewati fase sulit ini.

Tanpa itu, dukungan finansial yang awalnya bersifat sementara bisa berubah menjadi ketergantungan jangka panjang yang melemahkan kedua pihak, baik orang tua maupun anak.

Di media sosial, fenomena ini memantik beragam reaksi. Sebagian netizen menilai kondisi tersebut sebagai konsekuensi logis dari situasi ekonomi saat ini.

Baca Juga: Dua Terdakwa Dugaan Korupsi LNG Divonis Besok, Eks Dirut PT Pertamina Tak Pernah Dihadirkan di Persidangan

“Apa-apa mahal sekarang, gaji segitu-gitu saja. Bukan nggak mau mandiri, tapi memang belum mampu,” tulis netizen.

Komentar lain menyoroti tekanan psikologis yang dialami generasi muda.
“Kadang malu juga masih dibantu orang tua, tapi kalau dipaksakan mandiri malah tekor tiap bulan,” ungkap netizen lain.

Namun, tak sedikit pula yang melihatnya dari sudut pandang berbeda.
“Dulu orang tua kita juga mulai dari nol tanpa banyak alasan. Sekarang peluang lebih banyak, tapi kenapa makin tergantung?” tulis netizen lagi.

Perdebatan ini menunjukkan satu hal: persoalan kemandirian finansial bukan lagi isu pribadi, melainkan cerminan perubahan sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Baca Juga: Polisi “Sisir” Objek Wisata di Sosa, Pastikan Akhir Pekan Aman dan Nyaman

Fenomena ini pada akhirnya bukan hanya tentang Gen Z atau orang tua, tetapi tentang perubahan besar dalam struktur ekonomi modern. Ketika biaya hidup meningkat lebih cepat dibanding pendapatan, dan stabilitas kerja semakin rapuh, maka kemandirian finansial menjadi target yang terus bergeser.

Di titik inilah keluarga menjadi “penyangga terakhir”. Namun, jika tekanan terus berlanjut, bukan tidak mungkin penyangga itu sendiri ikut goyah.(lin)

Editor : Redaksi
#Keuangan Keluarga #ekonomi #anak muda #finansial #Gen Z