SUMUTPOS.JAWAPOS.COM - Bukan hanya di Indonesia, di seantoro dunia kucing kampung memang cendrung menyembunyikan kotorannya.
Kucing kampung yang baru membuang hajat, bisa itu di rumput, atau dipasir ia kemudian akan menyeker tanah atau pasir untuk menyembunyikan kotorannya.
Jangan salah, hal ini bukan karena faktor sopan santun. Sama dengan semua hewan, kucing tetap hewan tak berakal, dan tidak merasa perlu mengambil hati manusia hanya dengan ingin kotorannya membuat orang terganggu.
Kucing kampung memiliki naluri alamiah saat membuang kotoran maka cendrung akan mencakar tempat beraknya untuk menguburkan kotorannya.
Sementara kucing peliharaan untuk kelas kucing Persia, Anggora, kucing Rusia dan lainnya cendrung membiarkan kotorannya terbuka.
Setiap kucing baik itu kucing kampung alias kucing domestik ataupun kucing peliharaan sebenarnya ketika membuang kotoran sembarangan juga merupakan prilaku normal.
Karena dia adalah kucing dan kucing adalah binatang. Jika pun kucing kampung lebih memilih menguburkan kotorannya alasannya juga bukan karena menghormati manusia, selaku orang yang memeliharanya.
Dikutip dari Live Science seperti dilansir dari Kompas kucing cendrung menyembunyikan kotoran adalah naluri alami setiap kucing.
Tindakan menyembunyikan kotoran bagi kucing adalah hal alami untuk menandai wilayah kekuasaannya.
Tindakan itu bukan hanya karena mereka terobsesi dengan kebersihan namun juga berasal dari sejarah panjang kucing yang menggunakan urin dan feses untuk menandai wilayahnya.
Kotoran kucing mungkin berbau sama saja bagi kita, tetapi kucing dapat membedakan kotorannya dengan yang lain berkat penanda aroma kimia unik yang disebut feromon.
Lalu apa alasan kucing kucing peliharaan seperti kucing Persia, Anggora dan kucing Rusia yang dipelihara dan manja di rumah jarang menyembunyikan kotorannya.
Bahkan seakan-akan kencing dan fesesnya bak produk berguna sampai ditaruh di atas pasir yang wangi yang sengaja dipersiapkan oleh sang pemelihara.
Hal ini harus kita kita tanyakan ke diri kita, apa yang membuat kucing peliharaan cendrung membuang kotorannya sembarangan.
Barangkali ini juga suatu penanda bagi kucing peliharaan untuk menunjukkan wilayah kekuasannya dengan aroma kotorannya.
Harus diketahui walau kucing nampak begitu pengertian dan memahami kita, tapi pada dasarnya kucing tidak tahu bersih-bersih.
Bagi kucing, punya kebiasaan menguburkan atau membiarkan kotorannya sama saja. Sama-sama sifat alami kucing.
Hanya saja pemeliharanya, bisa mengajari kucing untuk membiasakan membuang kotorannya di tempatnya.
Prilaku menandai wilayah dengan kotoran tidak hanya kucing, sejumlah hewan liar suku kucing yang hidup di dalam hutan juga melakukan hal yang sama.
Di alam liar, kucing dominan termasuk genus Panthera, seperti singa, harimau, macan tutul menandakan wilayah kekuasaan dengan kotoran miliknya.
Hewan-hewan itu bersaing memperebutkan wilayah kekuasannya, seringkali tidak mengubur kotorannya karena untuk menandai area tertentu itu.
Namun, kucing liar yang lebih kecil dan lemah mengubur kotorannya sebagai cara untuk memastikan bahwa kucing dominan tidak merasa tertantang.
Kucing liar juga akan menyembunyikan kotorannya untuk menghindari menarik perhatian yang tidak diinginkan dari predator ke diri mereka sendiri atau sarang anak kucing mereka.
Hal ini terjadi juga pada kucing rumah (Felis catus) yang memiliki naluri perlindungan diri yang sama.
Meski tidak ada pemangsa di rumah, kucing mungkin tidak terlalu yakin dan akan mengubur kotorannya untuk berjaga-jaga.
Kebiasaan kucing mengubur kotorannya juga merupakan caranya mengatakan bahwa mereka mengenali pemiliknya sebagai 'kucing' dominan di rumah.
Desmond Morris, ahli zoologi dan etolog dalam bukunya Catlore menulis kucing yang di rumahnya tidak terganggu, semua kucing domestik melihat diri mereka sebagai bawahan dari pemiliknya.
Jadi dalam keadaan normal, semua kucing domestik menggunakan baki litterbox atau mengubur kotorannya di taman.
Salah satu alasan mengapa kucing memilih untuk tidak menggunakan kotak kotorannya, karena mereka mungkin menganggap dirinya dominan terhadap pemiliknya.
Namun ini tidak selalu terjadi karena perilaku yang tampaknya memberontak ini dapat disebabkan oleh penyakit, infeksi saluran kemih, masalah perut, atau sekedar kurangnya pelatihan tentang cara menggunakan kotak kotoran dengan benar.
Naluri alami mengubur kotoran ini didapat dengan melihat induknya, jadi beberapa anak kucing mungkin perlu diajari cara menggunakan kotak pasir.
Kucing bukan satu-satunya yang mengubur kotorannya untuk menghindari predator dan menyelesaikan perselisihan wilayah.
Hewan seperti armadillo, woodchucks, cerpelai, dan beberapa musang lainnya juga dikenal mengubur kotorannya.
Baca Juga: Korupsi Peningkatan Jalan di Tobasa, PT Medan Perberat Hukuman Mantan Anggota DPRD Sumut
Jadi pada dasarnya kucing memiliki sifat alami menguburkan kotoran, namun kebiasaan ini bisa terputus ketika anakan kucing tidak pernah melihat induknya mengubur kotoran.
Namun hal ini bisa dilakukan dengan mengajari kembali kucing peliharaan agar menanam kotorannya sendiri yang merupakan sifat alami mereka sejak dari keturunannya.***
Editor : Redaksi