sumutpos.jawapos.com - Fenomena hubungan ibu dan anak ternyata tak hanya soal ikatan emosional. Ilmu pengetahuan mengungkap sesuatu yang jauh lebih dalam hubungan biologis yang bahkan berlangsung hingga puluhan tahun setelah kelahiran. Fenomena ini dikenal sebagai microchimerism.
Melansir Instagram @lambegosiip, Minggu (12/4/2026), dalam dunia medis, microchimerism adalah kondisi ketika seseorang memiliki sejumlah kecil sel yang berasal dari individu lain dan tetap hidup di dalam tubuhnya.
Selama masa kehamilan, terjadi “pertukaran diam-diam” antara ibu dan janin. Sel-sel ibu dapat masuk ke tubuh janin, dan sebaliknya, sel janin juga bisa berpindah ke tubuh ibu melalui plasenta.
Menariknya, sel-sel ini tidak hilang begitu saja setelah bayi lahir. Sebaliknya, mereka bisa bertahan dalam tubuh selama bertahun-tahun, bahkan hingga seumur hidup.
Baca Juga: Prabowo Prihatin, Banyak Masyarakat Lebih Mengagungkan Budaya Asing
Artinya, setiap manusia secara harfiah membawa “jejak biologis” ibunya di dalam tubuhnya.
Secara logika, sel asing seharusnya diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Namun pada kasus microchimerism, hal itu tidak terjadi.
Penelitian menunjukkan bahwa sejak dalam kandungan, sistem imun janin “dilatih” untuk mengenali sel ibu sebagai bagian dari dirinya sendiri. Sel imun khusus yang disebut regulatory T cells berperan menjaga “perdamaian” ini, sehingga sel ibu bisa hidup berdampingan tanpa diserang.
Inilah yang membuat sel ibu bisa bertahan lama di tubuh anak tanpa menimbulkan reaksi penolakan.
Baca Juga: Rizki Lubis Tegaskan Kecamatan Harus Fokus Tangani Persampahan di Medan
Lebih dari sekadar “penumpang”, sel-sel ini diduga punya fungsi tertentu. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sel hasil microchimerism dapat berkontribusi dalam pembentukan sistem imun, membantu proses penyembuhan jaringan, beradaptasi menjadi berbagai jenis sel sesuai kebutuhan tubuh.
Pada ibu, misalnya, sel janin bahkan ditemukan membantu memperbaiki jaringan yang rusak seperti jantung atau hati.
Fenomena serupa juga diduga terjadi dalam tubuh anak, meski masih terus diteliti lebih lanjut.
Selain sel, ada satu warisan penting lain dari ibu: mitokondria. Ini adalah “pembangkit energi” dalam setiap sel tubuh manusia.
Mitokondria sepenuhnya diwariskan dari ibu, bukan ayah. Artinya, setiap energi yang digunakan tubuh manusia berasal dari garis maternal.
Ini memperkuat gagasan bahwa hubungan ibu dan anak bukan hanya emosional, tapi juga melekat pada tingkat paling dasar kehidupan.
Meski terdengar menakjubkan, microchimerism juga masih menyimpan banyak pertanyaan. Beberapa penelitian mengaitkannya dengan penyakit autoimun, meski belum ada kesimpulan pasti.
Para ilmuwan kini terus meneliti apakah fenomena ini lebih banyak memberi manfaat atau justru memiliki risiko tertentu.
Baca Juga: Pencuri Motor di Portibi Tak Berkutik Diringkus Tim Opsnal Polsek Padang Bolak
Sains perlahan membuktikan bahwa hubungan ibu dan anak bukan sekadar perasaan. Ada jejak nyata yang tertinggal—hidup, aktif, dan mungkin berperan dalam kesehatan.
Microchimerism menunjukkan satu hal sederhana: ikatan antara ibu dan anak tidak benar-benar terputus, bahkan setelah kelahiran.(lin)
Editor : Redaksi