Bryan Johnson dan Proyek “Baby Bryan”: Ambisi Keabadian atau Awal Era Baru Pengobatan Regeneratif?

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 21:07 WIB
Pelopor proyek anti-penuaan, Bryan Johnson viral karena mau kloning dirinya. (Instagram @cretivox)
Pelopor proyek anti-penuaan, Bryan Johnson viral karena mau kloning dirinya. (Instagram @cretivox)

 

sumutpos.jawapos.com - Pengusaha teknologi sekaligus pelopor proyek anti-penuaan, Bryan Johnson, kembali menjadi sorotan dunia setelah mengungkap proyek terbarunya yang kontroversial bernama “Baby Bryan.” Proyek tersebut muncul tak lama setelah dirinya mengumumkan diagnosis autoimmune gastritis, sebuah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan lambung.

Melansir Instagram @cretivox, Selasa (28/7/2026), melalui “Baby Bryan”, Johnson mengeksplorasi penggunaan induced pluripotent stem cells (iPSC) atau sel punca pluripoten terinduksi, yaitu teknologi yang memungkinkan sel tubuh dewasa diprogram ulang kembali ke kondisi mirip sel embrionik.

Sel tersebut kemudian dapat diarahkan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel tubuh lain. Karena berasal dari tubuh Johnson sendiri, iPSC yang digunakan memiliki materi genetik yang identik dengannya.

Baca Juga: Kontroversi Komunitas Lari Bali yang Diduga Eksklusif WNA, Kritik Mengalir hingga dari Ekspatriat

Johnson berharap teknologi ini suatu hari dapat membuka peluang besar dalam dunia kedokteran, mulai dari pengujian terapi baru, pengembangan obat yang lebih personal, hingga kemungkinan menciptakan jaringan atau organ pengganti yang kompatibel dengan tubuh seseorang.

Namun, penyebutan proyek ini sebagai bentuk “cloning” menuai perdebatan di kalangan ilmuwan. Banyak peneliti menilai istilah tersebut kurang tepat karena teknologi iPSC tidak sama dengan proses kloning manusia yang selama ini dikenal dalam fiksi ilmiah.

Dalam kloning, tujuan utamanya adalah menciptakan organisme baru dengan materi genetik yang identik. Sementara itu, iPSC lebih berfokus pada pemrograman ulang sel untuk kepentingan penelitian dan pengobatan regeneratif.

Baca Juga: Gelapkan Rp2 Miliar Uang Perusahaan, Mantan Staf Accounting Divonis 2,5 Tahun Penjara

Meski memiliki potensi besar, teknologi ini masih menghadapi berbagai tantangan. Hingga saat ini, ilmuwan belum mampu menggunakan iPSC untuk menghasilkan organ manusia utuh yang siap ditransplantasikan secara rutin. Masih ada persoalan terkait keamanan, risiko perubahan sel yang tidak diinginkan, serta bagaimana memastikan jaringan yang dibuat dapat berfungsi sempurna dalam tubuh manusia.

Bagi pendukungnya, langkah Johnson menggambarkan kemungkinan masa depan dunia medis, ketika penyakit dapat ditangani melalui terapi yang dibuat khusus berdasarkan kondisi biologis setiap individu.

Namun bagi sebagian orang, eksperimen tersebut juga memunculkan pertanyaan etika tentang batas antara inovasi medis dan obsesi memperpanjang kehidupan manusia. Tidak sedikit yang mengaitkannya dengan gambaran dunia fiksi ilmiah seperti Black Mirror, ketika teknologi berkembang lebih cepat dibanding kesiapan manusia memahami dampaknya.

Baca Juga: Pekerja THM BN Bersujud di Kantor Bupati Langkat, Minta Penyegelan Ditunda demi Selamatkan Mata Pencarian

Proyek “Baby Bryan” pun menjadi contoh bagaimana perkembangan bioteknologi modern berada di persimpangan antara harapan dan kekhawatiran. Di satu sisi, teknologi ini berpotensi mengubah cara manusia mengobati penyakit. Di sisi lain, perjalanan menuju masa depan tersebut masih dipenuhi pertanyaan ilmiah dan moral yang belum terjawab.(lin)

Editor : Redaksi
Bryan Johnson Baby Bryan i PSC Regenerative Medicine stem cell