sumutpos.jawapos.com – Istilah sandwich generation kerap menggambarkan kelompok usia produktif yang harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anaknya. Namun, persoalan tersebut tidak hanya menjadi beban finansial pada masa kini.
Melansir Instagram @pandemictalks, Kamis (8/10/2026), tanpa perencanaan keuangan yang matang, beban serupa berpotensi diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, kesiapan menghadapi masa pensiun menjadi bagian penting untuk membangun kemandirian finansial sekaligus memutus siklus sandwich generation.
Tantangan tersebut semakin relevan seiring Indonesia memasuki fase perubahan demografi menuju populasi menua. Generasi produktif saat ini dituntut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga mempersiapkan sumber pendapatan ketika memasuki usia tidak lagi produktif.
Baca Juga: Jangan Buang Batok Kelapa, Bisa Bikin Kebun Lebih Estetik dan Ramah Lingkungan
Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah rendahnya kepesertaan dalam program dana pensiun. Berdasarkan data yang disampaikan dalam riset DBS Foundation 2026, inklusi dana pensiun di Indonesia baru mencapai 5,37 persen.
Di sisi lain, sekitar 59,42 persen pekerja Indonesia berada di sektor informal. Kelompok pekerja ini umumnya memiliki penghasilan yang tidak tetap dan tidak memperoleh tunjangan pensiun seperti pekerja formal.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat berpotensi memasuki masa pensiun tanpa persiapan finansial yang memadai. Ketika kebutuhan hidup tetap berjalan sementara penghasilan menurun atau berhenti, ketergantungan kepada anak menjadi salah satu risiko yang dapat muncul.
Baca Juga: Asap Karhutla Tidak Sekadar Mengganggu Pernapasan, Ini Risiko Lainnya
Pada akhirnya, anak yang telah memiliki keluarga sendiri kembali menghadapi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan orang tua. Situasi inilah yang dapat membuat pola sandwich generation terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Riset DBS Foundation 2026 menyoroti pentingnya pengembangan skema dana pensiun yang lebih fleksibel dan terjangkau. Skema tersebut dinilai perlu mampu menjangkau masyarakat dengan beragam kondisi pekerjaan dan kemampuan finansial.
Perencanaan pensiun pun tidak semestinya hanya dipandang sebagai kebutuhan pekerja dengan pendapatan tinggi. Justru, akses yang lebih luas terhadap instrumen persiapan masa tua diperlukan agar masyarakat dapat membangun ketahanan finansial secara bertahap.
Baca Juga: Bank Muamalat Dukung Pembangunan Gedung Kolabora di Bandung
Bagi generasi produktif, mempersiapkan masa pensiun berarti membangun sumber keamanan finansial untuk diri sendiri sekaligus mengurangi potensi beban ekonomi bagi anak di kemudian hari.
Dengan demikian, persiapan pensiun bukan semata tentang mengumpulkan uang untuk masa tua. Lebih jauh, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan kemandirian antargenerasi dan mencegah beban finansial keluarga terus berpindah dari orang tua kepada anak.(lin)
Editor : Redaksi